
Ken pergi dengan Milka ke tempat kenangan mereka, yaitu ke panti asuhan tempat mereka bertemu.
Ken dan Milka langsung menuju ke taman belakang, di mana ada dua ayunan kayu yang sudah kusam. Ken melupakan sejenak tentang Jessi. Dia sudah menelepon Marsha dan mengatakan pada Marsha apa yang terjadi pada Jessi. Marsha begitu marah karena Ken meninggalkan adik iparnya, apalagi Marco masih mengikuti Jessi. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Ken tidak bisa membiarkan kesalahpahamannya dengan Milka terus berlangsung. Dia begitu senang bertemu dengan cinta pandangan pertamanya. Milka tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Dia punya kulit putih pucat, alis yang tebal dan tentu saja senyumannya tidak pernah berubah sejak dulu.
Ken duduk di ayunan dan Milka juga duduk di ayunan sebelah Ken.
"Apa kamu kangen tempat ini, Ken?" tanya Milka sambil memandang ke sebuah bangunan tua di depannya.
"Lebih tepatnya, aku merindukanmu." ucap Ken tanpa mengalihkan pandangan dari Milka.
"Ken, kamu sudah bilang itu puluhan kali." Milka tertawa dengan gombalan Ken. Sejak dulu, pria itu sangat tidak pandai menggombali wanita. Tapi, sepertinya Ken sudah berlatih dan ini terbukti ampuh karena Milka senang mendengar gombalan Ken.
"Itu kenyataan, Mil."
"Ken, apa yang kamu kerjakan selama ini?" tanya Milka. Kali ini dia menengok pada Ken yang terlihat begitu modis.
"Aku bekerja dengan Ny.Lee untuk jadi bodyguard anaknya." "Dan sekarang aku sedang mengawasi adik ipar Marsha." jelas Ken secara singkat. Hidupnya memang tidak banyak mengalami perubahan. Dia hanya mengikuti Marsha dan sekarang mengikuti Jessica.
"Wanita tadi maksudmu?"
"Ya.. wanita tadi. Itu Jessica Setiawan. Dia sedikit manja dan mengesalkan."
"Dia sangat cantik."
"Ya, kamu sangat cantik." puji Ken sambil mencubit pipi Milka.
"Keeeen... kamu masih saja menyebalkan." teriak Milka yang langsung menutupi pipinya yang pasti memerah.
"Dulu kamu selalu menangis karena aku cubiti pipimu." Ken kembali mengenang masa kecilnya bersama Milka.
Sudah banyak hal yang Milka dan Ken lalui bersama. Ken selalu melindungi Milka jika ada yang mengejek atau membully nya. Ken juga menjadi teman curhat Milka dan selalu menghibur wanita yang memiliki kisah yang tidak kalah tragis dengannya.
"Aku bukan Milka yang lembek seperti dulu, Ken." "Aku bahkan berani menolong majikanmu dari mantannya." ucap Milka bangga.
"Seharusnya kamu panggil security. Dia bukan lawanmu." ingat Ken.
"Ya sudahlah. Itu sudah berlalu juga, kan. Yang penting majikanmu tidak apa-apa." Milka tersenyum lebar. Sama seperti Ken, dia tidak bosan-bosan memandangi pria itu.
"Bagaimana dengan Ayahmu? Apa dia sudah mau menerima kamu?" tanya Ken yang memilih mengubah topik pembicaraan yang tidak seputar Jessi.
"Aku rasa dia sudah benar-benar membuang aku." kata Milka santai.
"Jadi, kamu tinggal sendiri?"
Milka mengangguk. Dia juga lebih bebas hidup sendiri. Seandainya keluarga asli Milka ingin menemuinya dan membawanya, Milka belum tentu mau.
"Bagaimana dengan pacar?" tanya Ken lagi. Ada banyak sekali pertanyaan dalam otaknya.
"Aku tidak memiliki pacar. Aku masih sibuk mengumpulkan uang." kata Milka sambil tertawa. "Kamu sendiri?" "Tidak mungkin jika pria sepertimu tidak memiliki pacar."
"Aku menyukai Marsha Lee." ucap Ken dengan jujur. Pada kenyataannya, semua orang yang melihat tau jika Ken menyukai Marsha. "Tapi, wanita itu sudah menikah."
"Sabarlah, Ken." "Kita gak bisa menyukai orang yang punya status elite seperti itu. Kita ini hanya anak buangan." Milka menghibur Ken dengan mengelus punggungnya.
"Mungkin kita bisa melanjutkan kisah kita, Mil." goda Ken lagi.
Milka berdiri. Dia bukannya tidak ingin bersama Ken lagi, tapi dia sedikit trauma dengan perpisahan mereka. Milka butuh waktu 3 tahun untuk bisa menyakinkan dirinya jika dia bisa hidup sendiri tanpa Ken.
"Sebaiknya kita seperti ini dulu saja, Ken." "Mantan tapi teman." jelas Milka dengan gamblang.
Ken terdiam cukup lama. Dia tidak ingin memaksa Milka. Wajar jika wanita itu marah padanya setelah Ken meninggalkan panti asuhan tanpa berpamitan dengan semua yang ada di sana.
"Kak Keeeeeeen" seorang wanita remaja berlari ke arah Ken dan langsung memeluk Ken dengan erat.
"Hey, Selen. Bagaimana kabarmu?" Ken mengacak-acak rambut Selen.
"Baik kak. Kak Ken belum lama ke sini, kenapa kembali lagi?" tanya Selen penasaran. Biasanya Ken akan ke panti sebulan sekali. Ya, sewaktu cuti, dia gunakan itu untuk pergi ke panti menjenguk Ibu Panti dan juga anak-anak yang lain. Selen adalah salah satu gadis yang Ken rawat waktu dia bayi.
"Kakak mengajak seseorang yang spesial." Ken menunjuk ke arah Milka.
"Kak Milka..." teriak Selen senang. Dia juga berpindah untuk memeluk Milka.
"Hai, kamu sudah besar ya." Milka mengusap punggung Selen yang sudah remaja.
"Kita sudah sangat tua, Ken. Bagaimana ini?"
"Yang penting kamu tetap masih cantik, Mil."
"Ish.. jangan bicara lagi Ken." Milka menonjok pelan lengan Ken.
"Oh iya kak. Kemarin ada wanita cantik juga ke sini. Dia memberikan banyak sekali pakaian dan juga makanan." Selen melepaskan pelukan Milka.
"Siapa?" tanya Ken penasaran.
"Dia punya rambut coklat dan badan yang mungil. Gayanya seperti artis kpop. Orangnya juga sangat ramah." "Dia bilang, dia teman Kak Ken." cerita Selen dengan semangat.
"Apa namanya Jessica?" tebak Ken. Siapa lagi wanita yang Ken kenal dengan gaya seperti yang tadi di deskripsikan Selen, jika bukan Jessi.
"Ya, namanya Kak Jessi." "Apa dia tidak ikut ke sini?"
"Terimakasih informasinya. Kamu kembali jaga adik-adik. Nanti kapan-kapan Kakak akan ajak Kak Jessi ke sini ya." Ken membungkukkan badannya supaya sejajar dengan Selen.
'Jessi. Pantas saja kemarin dia menghilang bersama dengan Marsha. Ternyata dia ke sini.' Ken cukup terkejut dengan fakta yang baru dia dengar. Jessica ke sini dan memberikan sumbangan yang begitu banyak? Dia benar-benar sangat murah hati.
Ken jadi sangat menyesal karena telah meninggalkan Jessica sendirian. Bagaimana jika Jessi tertangkap oleh Marco?
"Sebentar Mil, aku perlu menelepon Jessica." Ken sedikit menjauh dari Milka.
Ken terlihat mondar mandir dengan panik. Dia berulang kali menekan tombol telepon. Sepetinya telepon Ken tidak tersambung dengan Jessica.
"Halo, Nona. Apakah Nona Jessi sudah pulang?" "Belum?" "Tuan Boy tidak bisa mencarinya?" "Baik saya akan segera pulang."
Ken kembali kepada Milka. "Aku antar kamu pulang sekarang."
Milka mengangguk. Dia tau Ken sedang panik sekarang. Ini pasti karena Ken meninggalkan Jessica sendiri.