
Jo membuka pintu apartemennya. Dia duduk di sofa, di susul oleh Milka. Mereka berdua menghela nafas panjang bersamaan.
"Jo, apa AC nya rusak? Kenapa panas sekali?" Milka mengipas tubuhnya dengan tangan. Dia bahkan melepaskan bolero nya dan melemparkan itu ke meja.
"Gimana mau dingin kalau AC nya mati." Jo mengambil remote di meja, lalu dia segera menyalakan AC nya di suhu paling dingin. Tapi setelah menunggu beberapa menit, ruangan masih terasa panas. Jo akhirnya melepaskan jas dan membuka 2 kancing kemejanya. Sepertinya ucapan Milka menjadi kenyataan jika ACnya memang rusak.
"Katanya mau mengepel?" tanya Jo sambil melirik ke arah Milka.
"Ya ampun. Aku duduk belum ada 5 menit. Lagian aku ini istrimu atau pembantu sih?" protes Milka dengan nada yang cukup tinggi. Jo sangat tidak pengertian.
"Lho, aku sudah sibuk seharian mencari uang. Perusahaan ayahmu itu kacau sekali. Banyak korupsi di sana sini. Aku harus berusaha keras untuk bereskan itu." "Apa kamu mau gantikan aku?" cerocos Jo.
Milka berdiri dengan kesal sambil menirukan gaya ucapan Jo yang sudah semakin dia hafal. Setiap kali Milka protes, Jo akan berceramah seperti tadi. Jo sangat pandai merangkai kata-kata untuk bisa membungkam Milka.
Setelah hampir sebulan tinggal bersama Jo, apartemen milik suaminya itu mendadak jadi rapi. Milka sangat rajin dan cekatan. Dia bahkan mengepel 2x sehari. Itu sudah menjadi kebiasaannya saat bekerja di club.
Jo menatap pergerakan Milka yang sedang mengepel di depannya. Malam ini Milka tampil berbeda. Gadis tomboy itu menggunakan dress kemben hitam yang menunjukkan kaki jenjangnya yang putih mulus. Jo sejak tadi tidak sadar karena dia terlalu berfokus pada Jessi. Sekarang, dia baru lihat jika Milka berpakaian terlalu seksi.
Milka yang mulai berkeringat segera mengikat rambutnya, sehingga memperlihatkan juga leher putihnya.
'Apa dia istriku? Sial. Kenapa dia begitu cantik malam ini?' batin Jo.
Jo yang pusing karena terus melihat Milka, akhirnya memutuskan untuk pergi.
"Aaaaaa kecoa..." Milka membuang alat pel nya, lalu dia berlari ke arah Jo. Milka bahkan tidak sadar melompat untuk minta di gendong oleh Jo.
Jo yang baru saja berdiri dengan sigap menangkap istrinya.
"Kenapa, Mil?" tanyanya panik.
"Itu ada kecoa. Aku takut." Milka memeluk Jo begitu erat dalam gendongannya.
Jo melihat kecoa yang berlari ke kolong bufet.
"Kecoa nya udah pergi." "Kenapa kamu takut kecoa?" Jo tertawa geli ketika Milka mengerek hanya karena kecoa. Wanita yang tangguh takut dengan binatang yang kecil? Itu sungguh lucu.
"Kamu bohong Jo, pasti masih ada." teriaknya.
"Coba lihat aku, apakah aku seperti pembohong?"
Milka mengendurkan pelukannya, lalu dia menatap Jo. Tapi, entah kenapa tatapan mereka kali ini berbeda. Mungkin karena posisi mereka dan juga jarak Jo-Milka yang begitu dekat satu sama lain.
"Mil, sejak menikah, kita belum pernah sama sekali bersentuhan selain bergulat di ranjang."'ucap Jo lirih. Maksud Jo bergulat di ranjang adalah benar-benar saling bertengkar dan memperebutkan posisi tidur.
"Apa mau mu, Jo?" tanya Milka gugup.
"Apa kamu gak iri dengan Jessi dan Ken?"
"Kita belum tau, Mil karena kamu belum beri aku kesempatan."
"Jadi?" Milka menggigit bibir bawahnya karena gugup. Tatapan intens Jo membuat jantung Milka bekerja keras.
"Kasih aku kesempatan malam ini."
Milka berpikir sejenak. Dia lalu mengangguk pelan. Tanpa buang waktu lagi, Jo segera mencium Milka. Milka cukup terkejut, tapi perlahan Milka mulai bisa menerima dan memberi kesempatan Jo.
Jo membawa Milka ke kamar tanpa melepaskan ciumannya. Mereka berdua hanyut dalam perasaan masing-masing dan melakukan apa yang sudah seharusnya sebagai suami istri yang sah.
*
*
*
"Bagaimana perasaanmu, Mil?" Jo mengeratkan pelukannya sambil membelai rambut Milka. Dia begitu senang karena dia yang pertama kali menyentuh Milka.
"Jo, aku rasa aku mulai sedikit menyukaimu." jawab Milka jujur. Ya, dia tentu tidak dapat berbohong karena semua kegiatan yang mereka lakukan tadi sudah dapat menjawab perasaan Milka.
"Jadi, kita mulai hubungan kita dengan baik?"
"Hmmm..tentu saja." Milka mendongakkan kepalanya supaya dapat melihat wajah Jo yang tampan.
"Makasih, Baby. Aku akan berusaha untuk jaga kamu." Jo tersenyum lebar.
"Dan aku akan berusaha jadi istri yang baik." janji Milka.
"No.Kamu tidak perlu mengepel lagi."
"Lho, kenapa?"
"Dad memberikan rumah yang begitu besar. Kalau kamu mengepel di sana, nanti kamu kelelahan dan gak bisa ehem-ehem sama suami mu." kata Jo sambil mengedipkan satu matanya.
"Astaga, dasar mesum." Milka memukul dada bidang Jo.
"Apa kamu sudah ngantuk?"
"Mana bisa aku tidur."
"Kalau gitu, ayo kita lakukan lagi olahraganya."
Mereka berdua kembali melebur jadi satu. Perasaan Jo dan Milka semua tertuang dalam kegiatan mereka malam itu.