
"Jessica Setiawan, kamu kembali ke Jakarta sekarang juga." teriakan Boy membuat Jessi menjauhkan ponsel dari telinganya.
Jessi belum sadar sepenuhnya. Dia memicingkan mata untuk melihat jam berapa sekarang. Masih jam 4 pagi. Apa Boy tidak salah?
"Boy, kenapa tiba-tiba?" ucap Jessi tidak jelas.
"Ya, Marco sudah mengibarkan bendera putih, jadi kamu gak perlu bersembunyi lagi."
"Oh.." Jessi teringat kejadian semalam di mana dia berhasil menyelesaikan masalah dengan mantannya itu.
Jessi melihat Ken masih tertidur di sofa dengan posisi duduk dan tangan bersedekap.
"Ken masih tidur, Boy."
"Kenapa kamu tunggu dia? Dia bisa pulang sendiri. Kamu pulang saja dengan sopir. Dia sudah menunggu di depan kost mu." ucap Boy lagi.
Jessica beranjak dari ranjang untuk membuktikan ucapan dari Boy. Dia takut jika kakaknya itu hanya nge prank atau iseng saja.
Jessi keluar pelan-pelan. Dia tidak ingin membangunkan Ken yang tampak seperti beruang hibernasi.
Boy benar. Sopir mereka sudah berada di samping mobil Jessi. Senyumnya langsung terkembang begitu melihat majikannya datang.
"Pagi, Non. Tambah gemuk ya sekarang." sapanya ramah tapi menyakitkan. Mana ada wanita yang suka dibilang tambah gemuk.
"Pagi Pak." "Bapak beneran disuruh jemput aku di sini?" tanya Jessi curiga.
"Ya, tentu aja Non." "Tapi sepertinya Non betah di sini." sekali lagi sopir Boy melihat penampilan Jessi yang cukup berisi daripada terakhir dia melihatnya.
"Eh, enggak pak. Ayo pulang sekarang." Jessi buru-buru masuk. Dia duduk dengan manis dan langsung menggunakan selt belt nya.
"Siap, non?" Pak Sopir masuk tidak lama setelah Jessi masuk. Dia menyalakan mesin mobil. "Yakin tidak ada yang mau dibawa lagi, Non?"
"Emmm.. aku ingin membawa boneka beruangku. Tapi biar sajalah." ucap Jessi sambil mengerucutkan bibirnya. Yang dia maksud Boneka beruang adalah Ken.
"Non.. Non.. udah gede kok mainan boneka beruang." ejek Pak sopir sambil menggelengkan kepalanya.
"Pak, ini satu-satunya di dunia."
"Ya udah, ambil. Mumpung belum jalan ini."
"Jalan aja Pak. Gak apa.. Aku ingin ketemu dengan Mom and Dad." Jessi mengomando agar sopirnya segera jalan.
Akhirnya mereka pergi dari kota kecil bernama Purwokerto. Jessi mendapatkan banyak sekali kenangan di sana. Di Purwokerto lah Jessi bisa merasa galau karena ditembak oleh 2 orang sekaligus. Jika Jessi ingat kejadian kemarin, rasanya dia belum percaya. Jo dan Ken mengungkapkan perasaannya dan Jessi belum menjawabnya. Dia butuh waktu untuk berpikir, tapi mungkin saat tiba di Jakarta nanti. Hal pertama yang Jessi pikirkan adalah bagaimana dia harus membuka usaha sendiri supaya bisa menjadi wanita yang mandiri dan menghasilkan uang sendiri seperti Boy.
*
*
*
Ken merasakan sinar matahari menerpa wajahnya. Dia mengintip dengan satu matanya. Tentu saja ini sudah pagi. Ken diam cukup lama untuk mengumpulkan nyawa. Dia langsung melihat ranjang Jessi yang kosong.
"Jessica." panggil Ken.
Tidak ada jawaban.
Ken lalu melongok ke kamar mandi. Jessi juga tidak ada. Perasaan Ken tidak enak. Terlebih ketika tas Jessi yang biasa dia letakkan di nakas tidak ada.
'Nomor yang Anda hubungi.. '
Tidak aktif.
Ken makin panik. Berbagai pikiran negatif muncul dalam benak Ken. Apa Jessica kabur karena dia mengungkapkan perasaannya? atau kemarin Marco kembali lagi dan membawa Jessi pergi diam-diam?
"Ken.." panggil Jo. Dia berlari ke arah Ken dengan nafas terengah-engah.
"Jessica hilang." ucap Ken pada Jo yang sudah sampai di depannya.
"Ya, dia diculik oleh bapak-bapak."
"Kemana dia?" Ken menarik kerah kemeja Jo.
"Yang benar kamu." "Apa kamu liat nona diculik?" tanya Ken kesal.
"Sabar, Bro. Kenapa kamu begitu emosi?" Jo menahan dada Ken. Tapi, Ken segera menyingkirkan tangan Jo dari dadanya.
"Tadi Pak Hadi bilang kalau Nona Jessi pergi dengan bapak-bapak." jelas Jo dengan santai.
Ken berpikir sejenak. Apa mungkin Jessica menyewa sopir lalu dia pergi diam-diam karena kemarin Ken mengungkapkan perasaannya?
"Aku akan kembali ke Jakarta. Apa kamu mau ikut?" tanya Jo pada Ken yang malah melamun.
"Aku harus cari Jessica." Ken kembali kepada kesadarannya.
"Hey, kamu berani sekali panggil dia dengan nama saja."
"Kenapa? Aku akan panggil dia dengan namanya saja mulai sekarang." "Aku sudah mengungkapkan perasaanku padanya." ucap Ken dengan sombong.
"Whaaat? Apa jawabannya?" Jo berteriak keras sekali sampai memekikkan telinga Ken.
"Kepo banget sih."
"Ken, aku juga mengungkapkan perasaanku pada nona Jessi."
Giliran Ken yang berteriak. Jo? Seorang Jo mengungkapkan perasaan pada Jessica? Dia menyukai Jessica juga? Ken kira selama ini Jo hanya senang mengerjai Jessica saja.
Mereka berdua duduk di bangku dekat pohon. Ekspresi Jo dan Ken sama. Mereka putus asa karena ternyata nasib mereka sama. Tidak ada jawaban dari Jessi. Wanita itu malah pergi.
"Apakah kita kurang sadar diri, Ken?" Jo menengok ke arah Ken.
"Aku sudah memikirkan semuanya." jawab Ken ambigu.
"Seharusnya kita mencari wanita biasa-biasa saja."
"Ya, kamu cari saja wanita lain karena Jessica pasti akan pilih aku." lagi-lagi Ken bertindak sombong.
"Cih. Jangan menangis kalau nanti tiba-tiba Nona yang memilihku."
"Ya, kita lihat nanti Jo."
Jo dan Ken saling menatap dengan sengit. Kini mereka akan bersaing secara terbuka untuk merebutkan Jessica. Tapi pertanyaannya sekarang, di mana wanita itu berada? Ken harus segera meminta bantuan dari suami Marsha untuk melacak Jessica.