Love U My Bodyguards

Love U My Bodyguards
Gara-gara Milka



Jo menggeser tubuh Milka yang menindihnya. Gadis itu benar-benar berakting pura-pura mati. Dia menidurkan Milka pelan di sampingnya, lalu dia memandang pria-pria dengan badan yang bagai pegulat profesional itu. Lengan meraka jauh lebih besar dari Ken. Sekali melawan, Jo yakin dia akan masuk ke rumah sakit.


"Kalian siapa? Siapa itu Milka?" tanya Jo berpura-pura tidak tau.


"Gadis di sampingmu itu. Kami akan bawa dia."


'Apa Milka bohong? Jangan-jangan dia terlilit pinjol dan di kejar debt collector. Atau Milka kalah judi online? Atau dia menipu Michael Sutandi?' Jo malah berkutat dalam pikirannya sendiri karena dia meragukan Milka.


"Dia sepertinya mati." Jawab Jo sesuai instruksi Milka. Tapi wajahnya datar dan tidak ada paniknya sama sekali. Ini efek terlalu lama bergaul dengan Juna plus Jo sedang patah hati. Jadi dia tidak mood untuk berakting.


"Sudah, minggir." salah satu pria sudah siap membawa Milka.


"Tunggu. Kalian lihat ini.. detaknya sudah gak ada." Jo memencet hidung Milka. Dia juga mengguncang-guncangkan tubuh Milka. Dan supaya meyakinkan, Jo menepuk-nepuk pipi Milka dengan kuat. "Lihat. Dia gak bergerak kan." lanjut Jo lagi. "Gadis ini mungkin terkena serangan jantung karena dia berlari begitu kencang." "Berarti yang membunuh gadis ini adalah kalian." tuduh Jo. Dia menengok dan menatap mereka dengan pandangan tajam. Dia mau gak mau harus profesional dan melanjutkan ini meskipun perasaannya sendiri sedang tidak karuan.


"Kami gak membunuhnya. Kami hanya ingin membawa dia ke rumah." elak pria di depan Jo dengan panik.


"Saya akan bawa dia ke kantor polisi. Lebih baik kalian ikut juga. Saya akan jadi saksinya." Jo mengangkat tubuh Milka dan menggendongnya ala bridal.


"Gimana nih?"


"Aduh, kita kabur aja. Kita gak maksud kan untuk bikin nona celaka."


"Kita berdosa kalau kita kabur. Kita harus tanggung jawab."


"Ya, kalau begitu yang harus tanggung jawab itu keluarga Sutandi. Bukan kita."


Mereka berdua malah berdebat sendiri. Jo yang mendengarkan mereka berusaha tetap tenang sambil mencerna ucapan mereka.


"Maafkan kami. Kami akan bilang ke bos kami dulu. Dia yang akan bertanggung jawab." mereka berdua mengatakan itu, lalu kabur dengan sendirinya.


Jo tersenyum. Dia yang sebenarnya berdosa karena sudah membohongi orang. Semua gara-gara Milka. Ada apa dengan gadis ini?


Milka yang merasakan suasana sudah tenang, perlahan membuka matanya. Dia bisa melihat dengan jelas wajah asia Jo yang bersinar terkena cahaya matahari di atasnya.


"Jo?" ucapnya kaku.


"Surprisee.." teriak Jo senang.


"Kenapa jadi kamu?"


"Sepertinya aku kena karma. Yang lalu aku menubrukmu dan sekarang aku sudah mendapatkan balasannya." jawab Jo sambil tertawa lepas.


"Lepaskan aku." Pekik Milka.


Jo langsung melepaskan tangannya dari Milka sehingga wanita itu jatuh terduduk.


"Kamu gila." omelnya. Milka bangun sendiri sambil mengusap pantatnya yang sakit.


"Lho, kamu yang suruh aku lepaskan. Ya aku ikutin lah."


"Memang sungguh sial bisa ketemu kamu di sini." Milka berbalik hendak pergi. Tapi dengan cepat, Jo menangkap pergelangan tangan Milka.


"Tunggu dulu, nona. Anda lupa janji anda."


"Anda sudah membuat saya yang soleh ini jadi berdosa. Jadi, Anda gak boleh kabur sampai saya mengucapkan permintaan saya."


"Ya,, ya.. Oke." Milka berbalik lagi untuk menghadap Jo. "Minta apapun asal jangan tidur denganku." terang Milka to the point.


"Ya ampun.. kamu sangat percaya diri. Kurasa nyamuk aja males sih untuk nempel." Jo memperhatikan Milka dari bawah ke atas. Milka memang cantik, tapi bodynya biasa saja. Bahkan cenderung seperti triplek.


"Belikan aku minum. Aku haus. Aku bisa mati beneran." Milka menodong Jo untuk membelikan minuman untuknya. Dia kabur dengan tidak membawa apapun, hanya baju yang melekat di tubuhnya saja.


Jo menggelengkan kepalanya keheranan. Tapi didetik berikutnya, Jo membawa Milka ke sebuah warung kecil yang menjual es kelapa muda.


"Bu, 2 ya.." teriak Jo pada penjual sambil menunjukkan angka 2 dengan tangannya.


Mereka berdua duduk di bangku kayu kecil yang sangat pas diisi badan mereka.


"Kamu beneran keluarga Sutandi? Atau kamu bohong?" Seingat Jo, Milka bilang jika dia tidak punya orang tua. Kenapa Milka bisa mengaku dari keluarga Sutandi?


"Ya, aku tidak diakui oleh mereka. Mom cerai dengan Dad, lalu Dad menaruhku di panti asuhan karena tidak mau merawat aku." Milka mulai menceritakan masa lalunya. Entah kenapa dia bisa mengungkapkan semua ini pada Jo. Mungkin Milka takut di cap sebagai pembohong oleh Jo.


"Lalu, apakah mereka ingin bawa kamu kembali ke Keluarga Sutandi?" Jo juga mulai penasaran dengan cerita Milka yang tampak seperti sinetron dengan plot yang menarik.


"Sebenarnya gak juga." "Dad masih gak menginginkan aku. Dia hanya ingin kertas ini.." Milka mengeluarkan sebuah kertas kusut yang dilipat dalam saku celana jeans nya.


Jo membaca itu dengan perlahan. Begitu membaca, Jo melongo sambil terbengong.


"Jadi, kamu itu orang kaya yang cosplay jadi orang miskin?" ucap Jo setelah sadar.


"Kemarikan. Nanti kertasnya sobek." Milka kembali mengambil kertas penting itu dari Jo.


"Isinya sungguh menarik."


"Menarik dari mananya. Ini bikin repot. Aku lebih suka kehidupan bebas seperti ini."


"Emmm.. iya juga sih." "Tanpa keluarga itu, kamu terlihat sangat mandiri, bahkan bisa benerin motor." kata Jo untuk sedikit menghibur Milka.


Mereka mengobrol sambil minum kelapa. Milka curhat pada Jo soal kenapa sampai berurusan lagi dengan keluarga Sutandi, sedangkan Jo juga curhat perihal Ken dan Jessi yang akan segera menikah. Semua begitu cepat terjadi. Milka pun kaget. Dia sedih karena Ken benar-benar memilih Jessi. Tapi di satu sisi Milka lebih lega. Dia sekarang bisa move on dari Ken dan tidak perlu mengharapkannya lagi.


Mereka berdua sangat seru mengobrol sampai tidak sadar jika matahari sudah bersembunyi, dan berganti tempat dengan bulan.


"Kita harus pergi." Jo berdiri sambil mengulet. Badan dan kakinya pegal akibat tubrukan dari Milka, juga karena dia duduk terlalu lama. Mereka sudah menghabiskan 6 butir kelapa dan sekotak tisu.


Jo berjalan beriringan dengan Milka menuju ke tempat mobil Juna di parkir. Tapi, pandangan Jo teralihkan saat melihat Ken dan Jessica sedang makan malam di sisi pantai yang lain.


"Keeeen" Milka memanggil nama Ken dengan suara cemprengnya.


"Astaga, kenapa dipanggil." Jo menurunkan tangan Milka. Sayangnya dia terlambat. Ken dan Jessi sudah melihat mereka berdua.


"Perasaanku gak enak." ucap Jo lirih.


"Halah.. biasa aja.. Tunjukkan kalau kita itu juga masih baik-baik saja dan bahagia."


Jo meresapi kata-kata Milka seraya berjalan mendekat ke arah orang yang baru saja menolaknya tadi pagi.