
Wedding day
Jessi menguap untuk yang kesekian kalinya. Dia bangun jam 4 subuh untuk make up dan hairdo.
Dia sebelah Jessi, Sania juga sedang di make up oleh MUA.
"Mom, lama sekali. Aku cape." keluh Jessi. Dia sudah 1 jam lebih duduk tidak bergerak.
"Ya ampun anak ini.. mau nikah aja capek." "Kalau belanja 10 jam gak cape. Ini baru duduk sebentar aja udah ngeluh." omel Sania pada anaknya yang anti mainstream.
"Jessica.." seseorang masuk ke dalam ruangan mereka dengan membawa buket bunga yang besar.
"Milka..kamu datang?" Jessi menyambut Milka dengan senyuman saja karena dia tidak dapat bergerak.
"Tentu saja aku datang. Jo yang menyeret aku ke sini. Dia sangat semangat sekali ingin menyaksikan kamu menikah." jawab Milka jujur.
"Jo.. astaga.. aku melupakan dia."
"Hahaha.. baguslah kalau kamu lupa..seandainya aku juga bisa melupakannya.." Milka tertawa putus asa. Pernikahannya dengan Jo selama ini berasa seperti uji nyali. Milka harus membereskan tempat tinggal Jo dan setiap malam mereka hanya bertengkar untuk memperebutkan siapa yang mau tidur di ranjang. Belum lagi keduanya saling mengerjai sehingga membuat Milka kadang spot jantung.
"Tapi kamu datang bersama dia?"
"Tentu saja... karena kami sudah menikah."
"What?" Jessi menengok hingga lipstik yang baru di poles oleh MUA nya tercoret sampai pipi.
"Nona, jangan bergerak." omel MUA Jessi.
"Sorry,, sorry.. aku kaget."
"Mil, kamu gak bercanda kan?" Jessi bicara dengan nada curiga.
Milka mengangguk. Dia menunjukkan cincin di tangan kanannya.
"Daebak, gimana bisa?"
"Itu semua karena calon suamimu yang pergi ke rumah sakit bawa petugas catatan sipil." "Dan sekarang Jo sudah memegang usaha Dad." terang Milka dengan singkat.
"Siapa Dad mu? Kamu masih punya ayah?" Jessi tidak henti-hentinya menengok sampai MUA nya makin kerepotan.
"Tuan Sutandi."
"Whaaaat?" Sania ikut-ikutan menengok. Dia kaget karena setau dia Sutandi hanya punya satu anak laki-laki, yaitu Michael.
"Kalian mau ini cepat selesai gak? Kalau iya, ngobrolnya nanti saja, setelah acara." MUA yang mengurus Sania mengambil langkah tegas untuk para kilennya yang malah bergosip di hari yang penting ini.
"Mereka benar. Kalian harus siap-siap." "Maaf kalau menganggu waktu anda, Nyonya. Saya permisi dulu. Nanti kita cerita lagi." "Jess, semoga sukses.. kamu sangat cantik hari ini." Milka menepuk pundak Jessi, lalu berjalan keluar dari ruang ganti di mana Jo sedang menunggu dia di luar.
*
*
*
Ken tampak gugup menunggu Jessi yang tidak muncul juga. Para tamu sudah menunggu, tapi tidak ada tanda-tanda Jessi muncul. Dia takut sesuatu yaang buruk terjadi pada Jessi.
Jessi berjalan cepat meninggalkan Bridesmaids nya. Dia sudah tidak sabar untuk bersanding dengan Ken. Apalagi sudah 5 hari dia tidak bertemu dengan pria itu.
Tapi, karena gaun yang panjang dan sepatu wedges yang tinggi, Jessi tersandung tepat tinggal selangkah lagi dia memegang Ken. Untung saja Ken sigap menangkap Jessi.
"Kamu selalu saja pecicilan." "Gak lucu kalau di foto pernikahan kita nanti, kepalamu benjol." ucap Ken kesal.
"Ya, itu gunanya punya suami bodyguard." Jessi hanya nyengir kuda.
"By the way..Kamu cantik sekali, nona." Ken melupakan kejadian kecil itu dan berfokus pada penampilan Jessi hari ini.
Ini pertama kali Ken melihat Jessi dengan gaun pengantin yang di pilihnya. Jessi begitu sempurna seperti tokoh dalam disney. Meskipun kini rambutnya sudah biru lagi, tapi itu tidak mengurangi kecantikan Jessi. Gaun yang di pilih Jessi pun sangat mewah.
"Ayo, kita siap-siap. Nanti begitu musik melantun, kalian masuk ya.." EO memberikan briefing, lalu dia berdiri di samping mereka.
Jessi memegang pergelangan tangan Ken sambil menarik nafas panjang. Dia sangat gugup menghadapi pernikahan ini.
Jessi berjalan dengan anggun. Dia tidak berani macam-macam lagi karena Ken menatapnya tajam. Suara tepuk tangan yang begitu keras membuat kepala Jessi pusing. Dia yang biasa percaya diri, kini jadi tegang dan lemas.
Mereka sampai di depan panggung dan langsung mengambil tempat yang sudah disiapkan untuk mengucap janji mereka.
Pemimpin agama tersenyum pada mereka. Dia sudah siap untuk menikahkan Ken dan Jessi.
"Ken Ichiro Sanjaya." ucapnya dengan keras.
Jessi tiba-tiba tertawa mendengar nama panjang Ken. Baru pertama kali ini Jessi mendengar nama panjang Ken.
"Jess, diam lah." bisik Ken sambil menahan kesal.
"Sorry Ken, ini sangat lucu." "Namamu seperti nama puppy Marsha yang baru." kata Jessi yang mencoba menahan tawanya.
"Ehem." Bayu memberikan peringatan lewat deheman. Bisa-bisanya Jessi mau menikah pakai acara tertawa cekikikan seperti itu.
Setelah Jessi tenang beberapa menit kemudian, pemimpin agama mengulangi ucapannya tanpa kata Ichiro. Dia tidak ingin Jessi tertawa lagi dan membuat proses ini berjalan lama.
"Selamat pada Tuan dan Nyonya Sanjaya yang sudah sah menjadi suami istri." ucap MC setelah Jessi dan Ken mengucapkan janji dan bertukar cincin dengan lancar.
Saat yang ditunggu mereka tiba. Ken sudah resmi menjadi suami Jessi dan kini dia bisa menyentuh wanita itu. Lagu romantis melantun bersamaan dengan sebuah ciuman antara kedua mempelai. Ken begitu menikmati sampai dia tidak lagi mendengar suara MC. Begitu juga Jessica.
"Sudah,, sudah.. kalian bisa lanjutkan nanti. Sekarang kita lanjutkan acaranya ya.." MC terpaksa menyentuh Ken supaya pria itu sadar.
Wajah Jessi bersemu merah karena malu. Ken masih memegang pinggang Jessi supaya wanita itu tidak pingsan.
"Gak Ken, gak Boy sama saja mesumnya." bisik Bayu pada Sania yang tampak terharu melihat Jessica menikah.
"Ish, biarin lah. Namanya anak muda." ucap Sania sambil menepuk dada suaminya.
Sementara itu, Jo dan Milka menatap peristiwa itu dengan hati yang hancur. Jo sedih karena Jessi resmi menjadi milik Ken, sedangkan Milka juga harus merelakan cinta pertamanya pada Jessi.
"Mil, apa kamu mau pulang?" tanya Jo tanpa menengok.
Milka mengangguk lemah. "Ya, kita pulang. Aku belum mengepel rumah."
Jo dan Milka berdiri bersamaan. Mereka berjalan melewati kerumunan yang sedang menunggu Jessi melempar bunga. Ya, mereka harus kembali sebelum menangis meratapi nasib mereka yang menikah dengan tidak wajar.