
Jessica tidak bisa berkata-kata lagi saat ini. Ken memang mengajak Jessica dinner di pinggir pantai, tapi tidak ada lilin, bunga, atau musik romantis yang mengalun. Ken membawa Jessi makan seafood di pinggir pantai. Entah Ken terlalu sederhana atau ekspetasi Jessica terlalu tinggi pada tunangannya itu.
"Silahkan duduk, nona." Ken menarikkan kursi untuk Jessi.
Jessi duduk tanpa banyak bicara. Setelah Jessica duduk, Ken berputar untuk duduk di hadapan Jessi. Bagi Ken, posisi seperti ini saja sudah romantis.
"Sepertinya pakaian kita terlalu formal." sindir Jessi secara halus.
Ken memandang wanita nya itu yang berdandan sangat cantik. Saat ini Jessi menggunakan A-line dress warna hitam. Dia juga melakukan hairdo dengan membuat rambutnya di kepang, lalu di bikin simple bun. Jessi sudah sangat bersiap untuk malam ini. Sementara itu, Ken masih tampil dengan seragam bodyguardnya, setelan jas hitam klasik. Mereka berdua memang lebih cocok datang ke kondangan daripada makan seafood di pinggir pantai.
"Kamu sangat cantik." ucap Ken tanpa dosa. Sebenarnya dia tau jika Jessi ingin makan malam romantis seperti di film Korea. Tapi, Ken sengaja menguji Jessica. Dia ingin lihat apakah Jessi akan tahan dengan keadaan ini bersamanya?
"Ken, kalau itu gak perlu di bilang. Memang aku cantik." jawab Jessi kesal.
Ken tersenyum melihat Jessica cemberut. "Aku sudah pesan semua makanan kesukaan kamu. Makanan di sini sangat enak." Ken coba menghibur Jessi dengan mengusap punggung tangannya yang ada di meja.
"Okey lah. Masih dimaafkan." Jessi melunak karena dia bisa mencium bau udang yang harum dari arah dapur.
"Ya, maafkan aku, Jess." ucap Ken tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Ya, kamu jadi harus hidup susah seperti ini." "Kamu tau sendiri jika aku hanya seorang bodyguard. Mungkin setelah menikah kamu harus hidup lebih sederhana."
"Ken,,aku udah pikirkan hal itu." "Tenang saja." Jessi menjawab Ken dengan sebuah senyuman.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Ken penasaran.
"Aku juga akan bekerja. Jadi, aku akan penuhi kebutuhanku sendiri." "Tanggung jawabmu juga kan besar. Aku gak akan keberatan jika kamu menyumbangkan uangmu ke panti asuhan." jelas Jessi sambil menatap Ken.
Ken sungguh tidak percaya jika seorang Jessica mengatakan hal itu. Ini di luar ekspetasinya. Ingin sekali rasanya Ken melompat untuk memeluk dan mencium bibir Jessica. Tapi dia perlu ingat pesan Bayu. Ken juga takut jika dia mencium gadis itu, dia akan meminta lebih. "Aku tidak salah memilihmu, Jess."
"Meskipun aku boros, menyebalkan, cerewet dan manja?"
"Ya, itu gak masalah. Aku suka kamu seperti itu."
"Aku juga gak salah memilihmu, Ken." "Aku yakin kamu bisa membuat aku bahagia dengan.." Jessi berhenti bicara. Dia mengenyahkan pikirannya. Tubuh Ken begitu sempurna. Dia sebenarnya sesuai dengan kriteria Jessi. Jessi ingin pria yang manly dengan badan kekar.
"Dasar mesum." Ken tau pikiran Jessi.
*
*
*
"Keeeeen!" suara itu tidak asing untuk Ken. Ken menengok dan mendapati Milka sedang berlari ke arahnya. Di belakang Milka juga ada Jo dengan penampilan acak-acakan.
"Milka, Jo.. kenapa kalian ada di sini?" Jessi berdiri dengan kebingungan.
"Selamat ya Ken, Jessi.. aku sudah dengar tentang hubungan kalian." Ucap Milka dengan tulus. Jika di jejerkan, Jessica dan Ken memang sangat cocok. Yang satu cantik seperti artis Korea, yang satu gagah dengan seragam bodyguardnya.
"Hey, tentu saja aku ingin mengenalkan wanita impianku." Jo merangkul pundak Milka sambil tersenyum pada Jessi.
"Apa maksudmu Jo?" Jessi merasakan prihatin pada Jo. Apa setelah dia tolak, Jo jadi frustasi dan bicara sembarangan?
Milka pun otomatis menengok karena ucapan Jo. Apalagi saat ini Jo tengah memegang dagunya dan mendekatkan wajahnya. Jo membisikkan sesuatu pada wanita itu, lalu mencium pipinya.
Milka mencoba tersenyum. Padahal hatinya dongkol setengah mati. Dia begitu ingin menendang Jo karena berani mencium pipinya. Tapi, Milka harus fair. Ya, baru saja Jo meminta Milka untuk berpura-pura menjadi pasangan di depan Ken dan Jessi.
Jessi berpandangan dengan Ken. Mereka tidak menyangka jika Jo dan Milka bisa dekat hanya dalam waktu beberapa jam saja.
"Jo, jadi kamu beneran sama Milka? Atau kamu memang frustasi?" tanya Jessi blak-blakan. "Kalau memang kamu sakit hati karena aku, aku minta maaf."
"No, Jess. Aku justru bersyukur. Karena kamu tolak aku, aku jadi bisa menyadari perasaanku pada Milka. Kami sudah jatuh cinta pada pandangan yang pertama." jelas Jo yang masih memandangi Milka.
'Pandangan pertama gundulmu.' batin Milka dongkol. Pertemuan dengan Jo sejak pertama sudah diwarnai dengan kesialan. Dan itu sepertinya akan berlanjut sampai sekarang.
"Milka, aku ingin berikan ini untukmu." Jo mengeluarkan kotak merah berisi cincin yang tadi dia akan berikan pada Jessi jika wanita itu menerimanya.
Milka yang tidak tau apa yang terjadi diantara mereka hanya melongo. Jo sangat totalitas dalam berakting sampai dia sudah menyiapkan cincin segala.
Jo mengambil tangan kiri Milka, lalu dia menyematkan cincin itu pada jari manisnya tanpa minta persetujuan dari Milka.
Mendapat perlakuan istimewa dari seorang pria, otak Milka sempat hang untuk sesaat karena hatinya lebih mendominasi. Jujur, dia tersentuh dengan tindakan Jo.
"Cantik sekali." ucapnya tanpa sadar.
"Ya, sama cantiknya seperti kamu, Milka Sutandi."
Ken yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik mereka langsung menegang begitu Jo menyebutkan nama belakang Milka. Tidak ada satu orangpun yang tau tentang keluarga Milka, kecuali Ken. Bagaimana Jo bisa tau?
"Apa rencanamu pada Milka?" Ken meradang dan tidak dapat menahan emosinya. Dia mencengkram kemeja Jo hingga pria itu limbung dan tertarik ke depan sampai menabrak meja. Suara gaduh itu tentu mengundang perhatian orang sekitar.
"Hey, kenapa kamu begitu emosi?" Jo yang tidak Terima berusaha melepaskan diri dari Ken.
"Ken, stop Ken." Milka berusaha menengahi kedua pria yang saling memandang dengan sengit.
"Mil, dia pasti menginginkan sesuatu. Kamu harus hati-hati." ingat Ken.
"Jo orang yang baik. Dia selalu membantuku. Apa salah kalau aku dengan Jo?" teriak Milka penuh emosi.
"No, kamu gak boleh sama pria ini." ucap Ken tegas.
"Ken!" pekik Jessi. Dia mengambil badan di tengah Ken dan Jo, tepat saat Ken akan menghajar Jo. Untung saja Ken bisa mengerem sehingga dia tidak sampai mengenai Jessi.
Mata Jessi sudah berkaca-kaca. Dari percakapan ketiganya sejak tadi, dia menyadari sesuatu yang membuat hatinya sedih.
"Sepertinya, kamu masih menyukai Milka." Air mata Jessi langsung meluncur turun. Baru beberapa jam saja merasakan bahagia, Jessi kembali harus menelan pil pahit. Jessi langsung berlari meninggalkan Ken, Jo dan Milka.
"Jessica, tunggu." Ken melepaskan Jo dengan kasar, lalu segera menyusul Jessica yang pasti marah padanya.