
Belum juga bekerja, Jessi sudah cedera. Jessi harus menurunkan gengsinya untuk minta diantarkan oleh Ken. Dia sudah bersiap menunggu kedatangan Ken di balkon kamarnya.
Tak lama, Ken muncul dengan wajah datar. Dia memakai jas seperti biasa, juga kacamata hitam. Gayanya sungguh seperti bodyguard sejati. Tapi, anehnya, Jessi tidak melihat Ferrari yang Ken bawa kemarin.
"Pagi, Nona." sapa Ken ramah.
"Ken, mana mobilmu?" "Maksud aku, mobil kakak ipar." tanya Jessi sambil melongok ke sekitar kost dari atas balkon.
"Sudah aku kembalikan ke Jakarta." jawab Ken santai. Dia melepaskan kacamatanya, lalu menaruhnya di saku jas.
"Maksudmu?"
"Ya, aku akan berjalan kaki dengan anda."
"Astaga, Keeeen. Yang benar saja." pupus sudah harapan Jessi. Dia sudah lebih tenang karena bisa punya kendaraan pribadi di kota ini, meskipun harus pergi dengan Ken. Tapi, kenapa Ken malah bertindak bodoh dan mengembalikan mobilnya ke rumah?
"Tuan Boy ingin anda beradaptasi dengan baik."
"Boy mau menyiksaku." keluh Jessi. Moodnya sudah rusak dan dia jadi malas bekerja. Jessi duduk di bangku depan kamarnya untuk merenungi nasib. Jika tau akhirnya akan seperti ini, Jessi memilih untuk tidak mengenal Marco.
"Cepat berangkat. Nanti Nona terlambat bekerja." Ken menyenggol lengan Jessi.
"Gak mau. Aku capek jalan kaki." Jessi melengos.
"Kalau begitu, aku yang akan gendong." jawab Ken santai.
"Ken, tidak lagi. Kamu tidak boleh menyentuh tubuhku yang berharga ini." ucap Jessi sambil menghindar dari Ken yang sudah membungkukkan badannya untuk mengangkat Jessi.
Ken tertawa sinis. Dia memandang penampilan Jessi dari atas ke bawah.
"Aku tidak tertarik untuk menyentuhmu, Jess." bisik Ken.
"Minggir kau, beruang." Jessi mendorong dada Ken. Wajah Jessi sudah mulai memerah. Dia marah sekaligus malu karena Ken menganggap Jessi tidak menarik.
"Ayo cepat. Mau berangkat tidak?"
Jessi buru-buru berdiri. Dia mencoba jalan sendiri dengan terpincang-pincang, sedangkan Ken berada di belakangnya. Sejak pertama bertemu Ken, Jessi memang kerap berdebat dengan pria itu. Pria dingin dan kaku yang selalu saja membuat darah Jessi mendidih. Bagi Jessi, Ken tidak lebih dari sekedar robot yang melayani kebutuhan Marsha.
"Halo mba.. Halo om.." sapa pemuda bertato yang masih babak belur.
Jessi hanya melambaikan tangan tanpa bicara. Dia sedang kesakitan dan sedang berfokus untuk jalan. Tapi, sialnya Jessi malah tersandung sandalnya sendiri dan akhirnya jatuh terduduk.
Pemuda tadi bersorak ketika Jessi jatuh. Tapi mereka langsung diam ketika Ken melayangkan pandangan membunuh.
"Ken, kenapa gak bantu aku?" teriak Jessi kesal.
"Katanya aku tidak boleh menyentuh tubuhmu yang berharga itu?"
"Ini pengecualian."
Ken bergerak untuk menolong Jessi. Dia mengangkat Jessi dengan memegang kedua lengannya. Ken juga menghimpit tangan Jessi ke lengannya yang kekar.
"Pegangan yang benar." "Aku tidak akan bantu kamu kedua kalinya."
"cuit.cuit.." pemuda tadi bersiul senang melihat kemesraan Jessi dan Ken.
*
*
*
"Maaf, aku terlambat." ucap Jessi sopan.
"Tolong jangan samakan urusan pribadi dengan pekerjaan, Jess." omel Sela. Wanita berkacamata itu memandang Ken bergantian dengan Jessica.
"Tolong turunkan nada suaramu." sela Ken yang membalas tatapan Sela dengan sinis.
"Wah, kamu manja sekali, kerja di temani pacarmu." sindir Sela.
"Kami tidak pacaran." ucap Ken dan Jessi bersamaan.
"Ken, kamu jalan-jalan saja dulu, aku mau bekerja." usir Jessi.
Ken paham maksud Jessi. Dia keluar dari sana, dan berdiri di seberang outlet supaya bisa mengawasi wanita itu dengan baik.
"Jadi, apa pekerjaanku??" tanya Jessi setalah Ken sudah pergi.
"Tidak sulit. Hanya melayani konsumen dan pengenalan barang-barang." Sela mengeluarkan puluhan album dari bawah meja. Dia menghadapkan di depan Jessi sampai wajah Jessi tidak terlihat lagi karena tumpukan map yang begitu tinggi.
Dia sebenarnya hanya mengerjai Jessi saja supaya tidak betah. Tapi, ekspresi Jessi justru mengatakan sebaliknya. Jessi mulai menyebutkan satu persatu jenis-jenis karpet atau bahan yang di pakai pada Art Interior.
"Sudah." "Aku sudah paham." "Kapan ada konsumen yang datang?" Tanya Jessi penasaran. Dari kemarin outlet ini sepi sekali. Jessi tidak melihat ada orang yang masuk, bahkan Jessi yang kesehariannya di mall juga tidak pernah menyadari kalau ada perusahaan jasa interior di sini.
"Tunggu saja lah. Jangan cerewet." omel Sela.
Jessi duduk bersandar dengan santai sambil mengecek nail arts nya yang sudah mulai mengelupas.
"Di mana yang bisa nail arts sebagus ini?" ucap Jessica dengan sangat lirih.
"Cih.. baru pertama kerja saja sudah memikirkan kuku. Pak Martin sepertinya salah mencari orang."
'BRAK' Jessi bangun dan menggebrak meja.
"Sorry Mba Sel.." "Aku kelepasan.." sesal Jessi. Dia bisa mengontrol emosinya karena Ken memberi kode melalui pelototan matanya. Jessi kembali duduk dengan tenang dan bicara lebih pelan-pelan pada Sela. Biar bagaimanapun Sela itu adalah seniornya di sini.
"Mba Sela, menurut pengalamanku, kalau sales itu harus berpenampilan dengan cantik supaya konsumen juga nyaman melihatnya." Jessi berkata dengan sangat lembut, mencoba seperti orang-orang di kota ini.
"Memangnya aku tidak berpenampilan cantik?" protes Sela sambil mengibaskan rambutnya.
Jessi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia jadi serba salah menghadapi orang yang berpikiran sempit seperti Sela.
"Mba, hari ini mau makan apa? Nanti aku yang traktir." ucap Jessi yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kamu jangan merayu ya.." "Aku tetap akan mendidik mu dengan keras."
'Lo pikir lo siapa? Kalau gue mau juga gue bisa beli nih mall.' batin Jessi.
Jessi tersenyum sembari menahan rasa kesalnya.
"Hari ini aku traktir pizza Hut ya mba.."
Sela tidak bergeming dan diam saja. Hari pertama kerja, sepertinya kesulitan Jessi bukan pada pekerjaannya, melainkan mengambil hati seniornya.