Love U My Bodyguards

Love U My Bodyguards
Tidur berdua



"Jessica, tunggu.." teriak Ken dengan suara baritonnya.


"Jessica, aku bilang berhenti!" Ken terpaksa mengulang karena Jessica tidak mau berhenti.


Akhirnya, Ken berlari dan pria itu dengan mudah menangkap Jessica. Dia langsung membalikkan badan Jessi. Dan, seperti dugaannya, Jessica sudah menangis sesenggukan.


"Nona.." ucap Ken dengan suara lembut.


"Apa? Kamu mau menyalahkan ku lagi?" ucap Jessi sinis. "Tidak apa-apa. Salahkan saja terus."


Ken memilih diam dan membiarkan Jessi mengomelinya.


"Bukan cuma dia yang terluka, Ken. Tapi aku juga. Lihat ini." Jessi menunjukkan luka gores di sepanjang pergelangan tangannya. "Jangan pikir karena Milka pacarmu, kamu jadi seenaknya saja seperti ini. Yang harus di jaga itu aku, bukan dia." Jessi menghujani Ken dengan omelan dan teriakan.


Dia tidak peduli jika nanti penghuni kost yang lain bisa mendengar mereka.


"Maaf, Nona." Ken baru mulai bicara setelah Jessi sudah selesai dengan unek-uneknya. "Ayo ikut aku." ajak Ken. Dia menggenggam tangan Jessi, lalu membawanya pergi dari kost.


"Ken, aku gak mau." tolak Jessi. Dia mencoba melepaskan tangannya, tapi tampaknya sia-sia saja. Jessi malah terseret oleh Ken yang berjalan dengan cepat.


Mereka sampai di kost-kostan Ken. Ken langsung membawa Jessi ke kamarnya. Ini bukan pertama kali Jessi masuk ke kamar Ken. Waktu itu Jessi juga pernah menyambangi kamar bodyguardnya yang kecil, tapi cukup rapi.


Ken menyuruh Jessi duduk di ranjang. Setelah itu, dia melakukan hal yang sama dengan yang dia lakukan pada Milka. Ken mengambil alkohol dan betadine. Dia perlu mengobati Jessi juga.


"Kamu mau apa Ken?"


"Mau melukis." jawab Ken asal. Dia menaruh alkohol di kapas, lalu dengan perlahan Ken menempelkan itu pada luka Jessi supaya steril.


Setelah itu, Ken memakaikan betadine dengan hati-hati.


"Perih, Ken." Jessi mencengkram tangan Ken sambil meringis menahan perih.


"Anda jangan lebay." Ken melirik ke arah Jessi. Luka Jessi ini seperti luka anak-anak yang jatuh tersandung di aspal. Tidak ada yang serius dan hanya goresan-goresan saja.


"Memang perih."


"Iya, sabarlah." Ken meniup luka Jessi supaya Betadine nya cepat kering.


Dalam hati, Jessi tersenyum mendapat perlakuan istimewa dari Ken. Mana ada orang yang akan memperlakukan Jessi seperti ini. Bayu? Boy? yang ada 2 orang itu hanya akan menertawakan Jessi karena jatuh dan menangis.


Tanpa Jessi sadari, sejak tadi Jessi terus saja memandang Ken.


"Ken ini bagian dari pekerjaan, kan?" kata Jessi lirih.


Ken ganti memandang Jessi. "Iya. Pekerjaan." jawab Ken singkat. Dia membereskan kotak obatnya, lalu melepaskan tangan Jessi.


"Thanks, Ken."


Ken berdiri, lalu mengambil selimut yang ada di samping Jessi.


"Nona, karena anda masih marah dengan Milka, anda tidur di sini dulu." Saran Ken. Solusi terbaik adalah memisahkan kedua orang wanita yang sedang berselisih itu. Tidak mungkin juga Ken menyatukan dua singa yang sedang berebut mangsa.


"Terus, kamu di mana Ken?" Jessi menatap ruang kost Ken yang tidak ada apa-apa. Ranjang Ken juga ukuran single.


"Saya akan tidur di mobil."


"Lho.Kamu baru sembuh dari sakit, Ken."' Jessi mencegah Ken untuk pergi. Dia sampai menghalangi pintu kamar Ken.


"Berdua?" ulang Jessi sambil menatap Ken.


Ken dapat melihat wajah Jessi bersemu merah. Pasti Jessi membayangkan yang tidak-tidak.


"Dasar mesum." Ken mengacak-acak rambut Jessi. "Mana mungkin saya berani tidur di ruangan yang sama dengan anda, Nona." "Saya akan tetap tidur di mobil." "Lagipula anda sudah punya Pak Martin."


"Martin?"


"Iya.. pacar anda." "Sudah, istirahat saja." "Semoga mood Anda besok bisa lebih baik." Ken tidak ingin berlama-lama berduaan di kamar dengan Jessi. Jadi dia segera meninggalkan Jessi di kamarnya.


*


*


*


Ken harus kembali ke kost Jessi karena mobilnya ada di sana. Tidur di mobil bukan masalah yang besar untuk Ken. Yang jadi masalahnya sekarang adalah kenapa hati Ken begitu sakit.


Ken duduk diam di mobil. Hidupnya akhir-akhir ini jadi begitu rumit. Dulu dia hanya mengurus Marsha dan berfokus pada gadis ini. Tapi, kini Ken dihadapkan dengan Jessi yang menyukainya juga Milka yang adalah cinta pertamanya.


"Halo nona. Apakah saya mengganggu?" tanya Ken pada Marsha dalam sambungan telepon.


"Tidak Ken. Boy sudah tidur. Ada apa?"


"Aku mau curhat." ucap Ken lirih.


"Wait.. wait.." "Seorang Ken mau curhat?" "Ada masalah apa Bear?" "Apa kamu butuh uang?" Marsha memberondong Ken dengan banyak pertanyaan.


"Bukan.Ini soal perasaanku."


"Maksudnya?"


"Bagaimana cara mengetahui kalau kita benar-benar suka sama seseorang?"


"Kamu sedang jatuh cinta, Ken? Dengan temanmu itu?" terdengar suara tak percaya dari ujung sana. Tapi di detik berikutnya, Marsha tertawa.


"Hanya untuk memastikan saja, Nona."


"Emmm.. kata Juna, coba kamu peluk atau pandangi dia. Kalau kamu merasa sakit jantung, berarti kamu suka dia." jelas Marsha yang mendapatkan ilmu dari mantan pacarnya itu.


"Baiklah. Besok saya akan coba." "Thanks Nona Marsha."


"Tunggu Ken."


Marsha menahan Ken sebelum dia memutuskan sambungan telepon.


"Jangan praktekan itu pada Jessi." "Bukan apa-apa.. Tapi, dia sangat mudah baper-an. Kasihan dia jika dia berharap padamu, padahal kamu menyukai wanita lain." pesan Marsha.


"Ya, saya mengerti, Nona." "Hubungan kami hanya sebatas pekerjaan saja."


Ken menutup teleponnya. Dia memegangi dadanya yang baru saja berdetak cepat.


'Ini tidak mungkin.' batin Ken.