
"Sayaaang.." Sania menyambut Jessi dengan memeluknya begitu erat. Dia senang karena Jessi bisa kembali lagi ke rumah tanpa perlu bersembunyi lagi dari Marco. Pria itu sudah meminta maaf secara langsung pada Bayu-Sania dan berjanji tidak akan mengejar Jessica lagi.
"Mom.. jadi karena aku sudah kembali, aku bisa minta ATM ku, kan?" tanya Jessi dalam pelukan Mom nya.
"Ish.Kamu tuh. Harusnya kamu tanya kabar Mom. Kenapa kamu malah tanya ATM?" omel Sania. Tapi meski begitu, Sania segera mengeluarkan 3 black card dari saku celananya.
"Thanks Mom." "Aku yakin Mom baik-baik saja karena Mom kelihatan makin gemuk." Jessi mencubit lemak di perut Sania.
"Jessica!" Sania menampol tangan Jessi yang tidak sopan. Ya, selama Jessi pergi Bayu dan Sania seperti bulan madu lagi. Mereka banyak menghabiskan waktu dengan liburan dan makan malam berdua. Jadi, tidak salah juga apa yang dikatakan oleh Jessi.
"Sayang, pasti kamu akan dapat lelaki yang lebih baik dari Marco." hibur Sania yang tiba-tiba teringat oleh Jessi yang baru saja putus cinta.
"Emm.. apa kriteria menantu yang Mom mau?" tanya Jessi ragu-ragu.
"Tentu saja yang bisa menafkahi kamu lahir batin." jawab Sania sembari tertawa.
"Harus kaya?"
"Emmm.. kalau bisa yang seperti itu. Karena Mom gak mau kamu hidup susah, Jess." Sania membelai rambut Jessi. Meski dia sudah hampir 30 tahun, tapi Sania selalu menganggap Jessi seperti anak kecil.
"Daripada kaya tapi stress seperti Marco, lebih baik yang biasa saja kan, Mom?"
Sania menatap Jessi dengan curiga. Dia yakin kalau pertanyaan Jessi ini bukan hanya pertanyaan iseng saja. Pasti ada sesuatu yang Jessi ingin beritahukan kepada dirinya.
"Biasa seperti apa?"
"Yaa,,, maksudnya dia juga kerja ikut dengan orang. Tapi dia rajin sih." Jessi memutar kedua bola matanya untuk menemukan kata-kata yang tepat. Tapi, apa yang dikatakan Jessi malah memperjelas semuanya.
"Jessi,, kamu tau kan berapa pengeluaranmu dalam sehari?" Sania menangkap bahu Jessi dengan kedua tangannya.
"Ya sekitar 20 juta, kalau gak belanja." Jessi berhitung cepat.
"Di kali 30 hari, jadi berapa?"
"Mom,, Jessi itu tanya, kenapa malah suruh hitung-hitungan seperti ini?" protesnya kesal.
"600 juta Jess.. kalau dia gajinya satu bulan 2M, Mom akan ijinkan." Sania tampak tidak peduli dengan protes Jessi.
"Ih, mom mata duitan sekali."
"Lho, ini artinya berpikir realistis." "Atau kamu bisa berhemat dan makan seadanya?"
Jessi diam saja. Dia tidak akan mungkin bicara dengan Sania jika yang menyukainya adalah Jo dan Ken yang notabene hanya bodyguard.
"Tenang Jess.. Mom sudah siapkan beberapa nama pria yang cocok untukmu."
"Mom, yang terakhir juga tidak beres." Jessi berjalan ke sofa, lalu merebahkan diri di sana. Dia teringat akan Martin yang bekerja sama dengan Marco. Pilihan apalagi yang akan diberikan Mom nya? Lebih baik Jessi menolak sekarang. "Jessi gak mau ya Mom kalau jodoh-jodoh an. Itu gak akan berhasil."
"Jess,,, kamu gak lihat Boy dan Marsha? Memangnya mereka gak dijodohkan?" ucap Sania sambil menunjuk foto pernikahan yang entah sejak kapan terpajang di ruang tengah rumah mereka. Pasti Boy diam-diam memajang itu supaya Sania dan Bayu tidak kesepian karena mereka sudah pisah rumah.
"Beda Mom.. mereka sebenarnya udah jatuh cinta pada pandangan pertama.."
Sania merebahkan diri di sebelah Jessi.
"Ya sudahlah. Bicarakan itu nanti saja. Mom mau nonton drama Korea dulu."
"Kalau gitu, aku pergi ke kamar dulu, Mom." Jessi mencium pipi Sania, lalu dia berjalan cepat menuju ke lantai 2, tepatnya ke kamarnya yang super nyaman.
*
*
*
"Welcome to the real life, Jessi..." ucapnya pada diri sendiri.
Kamar Jessi memang sangat nyaman. Semua di desain dengan warna pink muda dan biru laut. Jessi memandangi sekeliling kamar yang tidak pernah dia lihat selama beberapa bulan terakhir ini. Rasanya dia tidak percaya bisa kembali lagi ke sini. Jessi harus berterima kasih pada Boy.
Jessi mengambil ponsel dan menyalakannya. Dia cukup, terkejut ketika melihat puluhan panggilan tak terjawab dan pesan yang berasal dari para bodyguardnya.
Ken
Nona apakah anda kabur karena tidak nyaman?
Jo
Nona, kabari kalau hape mu sudah aktif.
Ken
Jessica, tolong jangan seperti ini.
Jessi membaca satu persatu pesan. Dia cekikikan sendiri karena Ken dan Jo begitu panik dirinya hilang. Tadinya Jessi berencana untuk memberitahu Ken, tapi dia tidur sepanjang jalan, jadi Jessi lupa.
"Kucing eh kucing." Jessi hampir saja melempar ponselnya karena tiba-tiba ada telepon masuk. Ken calling..cepat sekali pria itu menyadari keberadaan Jessi. Apakah dia memantau pesannya 24 jam?
"Haloo.." Jessi memutuskan untuk mengangkat telepon Ken.
"Jessica, kamu dimana? Kasih tau aku sekarang juga. Aku akan segera ke sana." teriak Ken senang sekaligus panik.
"Ken, aku sudah di Jakarta. Boy suruh aku pulang."
"Syukurlah.." ada nada lega dalam ucapan Ken.
Apa pria itu benar-benar panik? batin Jessi.
"Emm.. aku rasa kamu gak perlu jaga aku lagi Ken." kata Jessi tiba-tiba.
Diam. Ken tidak menjawab. Dia mungkin terkejut dengan apa yang dikatakan Jessi.
"Thanks untuk bantuanmu selama ini."
"Nona.. tapi anda.."
Jessi menekan tombol end. Jessi tau, pasti Ken ingin membicarakan tentang perasaannya. Dulu, Jessi mungkin akan langsung bilang iya. Tapi sekarang, dia malah bingung untuk menjawab. Jadi daripada salah langkah, Jessi lebih baik tidak bicara itu dulu.
Ponsel Jessi kembali berdering. Kali ini Jo calling. .
"Satu lagi deh." "Haloo.."
"Nona.. akhirnya nyambung juga." "Apa anda diculik lagi?" ucap Jo panik.
"Hadeh.. memang aku gampang sekali diculik?" Jessi bicara dengan nada meninggi. "Aku udah balik ke rumah di Jakarta."
"Hah? Serius? Aku akan susul nona."
"Eh, jangan-jangan. Aku mau quality time dulu sama Mom." Jessi mencari alasan. Saat ini dia tidak ingin bertemu dengan Jo ataupun Ken. Jessi harus berpikir baik-baik sebelum memutuskan tentang perasaannya.
"Okey deh. Istirahat nona..love you.."
"Jooooooo" teriak Jessi. Tapi, itu sia-sia saja karena Jo langsung mematikan teleponnya.