
Jam menunjukkan pukul 12 siang. Itu artinya, Ken-Jo dan petugas sudah mencari selama lebih dari 2 jam. Matahari juga semakin menyengat. Beberapa petugas istirahat lebih dulu. Jo juga tampak kelelahan. Dia duduk di sebuah pohon sambil minum air mineral yang dibawanya. Hanya Ken yang masih berusaha mencari Jessi.
Ya, bukan hanya Jo yang akan jadi rempeyek, tapi dirinya juga. Jessi adalah anak kesayangan Sania dan Bayu. Jika sampai Jessi kenapa-kenapa, mereka bisa shock dan kena serangan jantung.
Sementara itu, Jessica mulai sadar ketika mendengar suara kresek-kresek dari atas. Dia sejak tadi tertidur karena mengantuk. Setelah berteriak lama dan tidak ada yang menolong, Jessica kelelahan lalu tertidur.
"Jess.. Jessica.." suara khas itu membuat Jessi tersadar sepenuhnya.
"Keeeeenn... aku di sini. Tolong aku.." teriak Jessica dengan sekuat tenaga.
Jessi mendongakkan kepala. Dia berharap bahwa itu benar suara Ken dan bukan hanya halusinasinya.
"Nona.. Anda di sana?" Ken benar-benar muncul. Dia menatap Jessica dengan mata sipitnya untuk memastikan apakah Jessi baik-baik saja.
Jessica melambaikan tangannya pada Ken.
"Ken... aku di sini."
Ken terlihat begitu lega. "Anda baik-baik saja nona? Apa ada yang terluka?" tanya Ken memastikan. Dia ingin segera turun, tapi tempatnya terlalu curam.
"Aku mau naik Ken. Cepat tolong aku."
"Aku akan ambil tali, nona tunggu di situ."
Ken segera meminta bantuan pada Jo yang berdiri tidak jauh dari situ.
"Jo, nona Jessi ketemu. Cepat panggil petugas dan minta tali tambang."
Jo terperangah. Dia tidak percaya dengan Ken, tapi dia tetap berlari untuk meminta tali.
Mereka semua dengan cepat menyiapkan bantuan untuk Jessi. Jo bersyukur lega karena Jessi masih hidup. Dia akan merasa menyesal seumur hidup seandainya Jessi sampai kenapa-kenapa karena idenya untuk glamping.
Ken sudah melemparkan tali pada Jessi. Jessi bingung apa yang harus dia lakukan dengan tali itu.
"Pegang talinya, dan naik ke atas seperti mau memanjat tebing." teriak Jo.
"Apa tidak ada cara yang lebih praktis lagi? Aku tidak bisa naik." Jessi tidak mau memegang talinya. "Aku takut."
"Jessica. Ini bukan waktunya protes. Kamu pasti bisa naik." ucap Ken dengan tidak sabar. "Kami juga akan bantu tarik dari sini."
Jessi akhirnya menuruti Ken. Untung saja kaki Jessi tidak terkilir. Jessi memegang tali erat-erat, lalu dia mencoba untuk naik. Setelah Jessi sudah stabil, Ken dan Jo menarik talinya supaya Jessi juga lebih ringan untuk naik.
Jessi berhasil naik dengan selamat setelah drama-drama yang terjadi. Jessi langsung memeluk Ken yang berdiri di depannya dengan perasaan lega.
"Tenang nona.. ada aku di sini." Ken menepuk- nepuk punggung Jessi. Dia juga mengamati bagian tubuh Jessi yang terluka. Lengan kanan Jessi jelas tergores dan sedikit berdarah. Sedangkan bagian lain tampak baik-baik saja. Tapi, Ken harus tetap mengeceknya setelah ini.
"Kita pergi dulu dari sini ya, nona." Ken menggendong Jessi dengan hati-hati.
"Jo, kamu yang menyetir." Perintah Ken pada Jo yang terlihat melamun.
Jo tersadar, lalu dia buru-buru berlari lebih dulu ke mobil yang dibawa oleh Ken.
Ken dan Jessi duduk di belakang, sedangkan Jo yang menyetir mobilnya.
"Nona, aku minta maaf." ucap Jo sambil melihat spion tengah. Jessi tidak akan mengalami hal ini jika Jo tidak ceroboh.
"Tidak apa-apa Jo." Ucap Jessi lemah. Dia masih memeluk Ken erat tanpa berniat melepaskan pelukannya.
"Kenapa anda bisa jatuh seperti itu?" tanya Ken tanpa mengalihkan pandangannya pada Jessi.
"Ada yang mengejar ku Ken." ucap Jessi yang masih gemetaran.
"Anda lihat orangnya?"
"Ken, Jessi baru shock. Kamu jangan banyak bertanya dulu." ucap Jo sambil memandang spion tengah.
"Aku tidak lihat orangnya. Aku cuma berlari saja karena takut."
"Sudah-sudah nona. Ada aku dan Jo di sini." Ken mengeratkan pelukannya karena Jessi hampir menangis lagi.
Jo merasakan hawa panas di mobil karena Ken dan Jessi yang tampak begitu mesra di belakang. Jessi terlihat sangat nyaman di pelukan Ken. Dia seperti sedang memeluk boneka beruang besar.
"Jo, tolong ambilkan roti di sampingmu." perintah Ken di tengah keheningan. Jo mengoperkan paper bag ke belakang.
"Anda pasti lapar, nona. Aku membawa cheesecake kesukaanmu." Ken mengeluarkan sekotak cheesecake dan menunjukkannya pada Jessi.
"Aku tidak lapar Ken." Jessi melengos.
"Nona..aku bawa ini jauh-jauh untuk anda." bujuk Ken. Dia tetap mengeluarkan kue kesukaannya itu, lalu Ken menyuapi Jessi.
"Kamu seperti hantu, Ken." ucap Jessi yang mau tidak mau akhirnya tergoda untuk makan cheesecake dari Ken. Lagipula Jessi memang lapar karena belum makan dari tadi pagi.
Bagaimana pria itu tau jika Jessi suka cheesecake?
"Kita ke rumah sakit dulu, Jo."