
Kembali bekerja. Jessi sudah lama tidak bertemu Sela. Meskipun mereka tidak akrab, tapi Jessi berterimakasih pada Sela karena wanita itu sudah membantu mengurus pekerjaan Jessi selama dia cuti. Jadi, Jessi sudah menyiapkan oleh-oleh spesial untuk Sela.
Sela menerima paper bag dari Jessi dengan mata berbinar. Dari paper bag nya saja Sela sudah bisa menebak jika hadiah Jessi harganya tidak murah. Benar saja, Jessi memberikan pada Sela sebuah Tas Hermes warna cream.
"Jess, ini buat aku?" tanyanya tak percaya.
"Iyalah, siapa lagi. Masa untuk Pak Martin." jawab Jessi sambil terkekeh.
"Ya ampun.. cuti seminggu bukannya bangkrut, malah tambah kaya." ucap Sela yang masih sibuk memandangi tasnya.
"Itu dibelikan oleh kakak iparku kok. Dia memang kaya."
"Thanks ya Jess." Sela memeluk Jessi senang.
"Pagi semua.." suara Pak Martin menyadarkan mereka berdua.
Sela buru-buru menyimpan paper bag yang diberikan Jessi, lalu dia berdiri menyambut bosnya. Tidak biasanya Martin datang sepagi ini. Pasti ada sesuatu yang dibutuhkan bosnya.
Berbeda dengan Sela yang langsung sigap menyambut bosnya, Jessi tampak duduk santai sambil memainkan ponsel. Jessi masih sibuk membalas WA Mom Sania yang menanyakan tentang Martin.
"Jess, apakah semalam kamu tidur nyenyak?" tanya Martin to the point. Dia mengambil kursi yang tadi diduduki oleh Sela.
"Ya, aku sampai ketiduran di mobil." Jessi mengingat kejadian semalam. Dia tidur di mobil dan berakhir di kamarnya. Pasti Ken yang sudah membawa Jessi masuk ke kamar. Tidak hanya membawa ke kamar, tapi Ken juga menyelimuti Jessi.
Sela sedikit bingung dengan kedua orang itu. Kenapa mereka bisa tampak begitu akrab?
"Sel, nanti aku dan Jessi akan makan siang di luar." Martin beralih pada Sela yang sedang bengong.
"Eh, iya Pak. Gimana maksudnya?" tanya Sela gelagapan.
Jessi menyenggol kaki Martin di bawah kolong meja.
"Makan siang dengan klien maksudnya." lanjut Martin dengan tenang. "Kamu jaga sendiri, tidak apa-apa kan?"
Sela mengangguk cepat. Tapi, otaknya masih mencoba mencerna perkataan Martin tadi.
Jessi memberikan tatapan tajam pada Martin. Dia seolah protes kenapa sikap Martin begitu mencurigakan di depan Sela.
"Maaf Pak, ada konsumen. Saya mau layani konsumen dulu." Sela menjauh dari kedua orang itu yang tampaknya juga membutuhkan ruang untuk bicara berdua.
"Apakah nanti kita bisa pergi tanpa Ken?"
"Tidak bisa. Ken harus ikut kemanapun." tolak Jessi mentah-mentah. "Bapak kemarin sudah dengar ceritanya kan? Mantanku itu masih menguntit aku." "Jadi, aku butuh seseorang yang menjagaku dari dia." Jessi memberikan penjelasan pada Martin.
"Come on Jess, kamu gak percaya padaku?" Martin memegang tangan Jessi yang ada di meja. "Aku juga bisa bela diri. Kamu tenang saja."
Jessi berpikir sejenak. Dia memandang Ken yang seperti biasa sedang berdiri di depan Outlet seperti patung selamat datang.
"Baiklah. Tidak lebih dari 2 jam kan?" akhirnya Jessi menyetujui untuk pergi dengan Martin bedua saja.
*
*
*
Ken penasaran dengan apa yang dikatakan Martin pada Jessi. Mereka tampak begitu dekat. Apakah Jessi menerima Martin dan sekarang mereka sedang pacaran?
Ken melamun lagi sampai tidak sadar jika Martin sudah berdiri di depannya.
"Ken, nanti aku akan pergi makan siang dengan Jessi."
"Sharelock saja alamatnya. Nanti aku akan antarkan nona ke sana."
"Tidak perlu, Ken. Aku akan menjemput Jessi. Kami akan makan berdua." Martin menepuk lengan Ken lalu dia pergi dari sana.
'Pergi berdua?' tanya Ken heran dalam hatinya.
Tak lama ponsel Ken berbunyi tanda pesan masuk.
'Ken, aku akan pergi dengan Martin. Kamu tunggu di mall saja. Aku cuma pergi 2 jam.'
Ken menaruh ponselnya di saku dan langsung berjalan ke outlet untuk mendengarkan dari mulut Jessi sendiri.
"Nona, saya mau bicara." kata Ken to the point.
"Bicara saja, Ken." Jessi tidak terlalu menggubris Ken karena dia sibuk dengan laptopnya.
"Apakah anda dengan Martin akan.."
"Tunggu dulu, Ken." Jessi bangun dari kursinya. Dia menarik Ken untuk pergi sedikit jauh dari Sela. Mereka bicara di belakang lemari tempat biasa Jessi dan Sela menaruh tas dan berdandan.
Ken harus sedikit berdekatan dengan Jessi karena tempat itu sempit sekali.
"Kenapa harus ke sini?" komplain Ken yang sangat tidak nyaman di ruangan itu.
"Nanti Sela dengar, jadi gak enak. Kalau ngomongin Pak Martin jangan keras-keras." ucap Jessi setengah berbisik.
"Apa benar kamu mau pergi sendiri?" "Tapi, aku gak akan biarkan kamu pergi sendirian. Terlalu beresiko." ceramah Ken.
"Ken, kamu sudah sering tinggalkan aku sendiri, kan? Lagipula hanya 2 jam. Jika 2 jam tidak ada kabar dariku, kamu bisa jemput aku."
Ken diam seribu bahasa. 2 jam itu waktu yang lama. Dan ada banyak hal yang bisa terjadi dalam jangka waktu itu. Tapi, Ken melihat Jessi begitu kekeuh dengan pendiriannya. Orang kasmaran mana mau mendengarkan orang lain.
"Oke, aku akan tunggu kamu di sini."