
Jo mengikuti Jessi ke atas, tepatnya ke kamar kostnya. Dia bilang pada Jessi hanya ingin mengantarkan Jessi. Tapi, sebenarnya Ken sudah memberikan pesan padanya untuk cepat pulang dan mengantarkan Jessi ke kamar karena ada sesuatu yang penting.
Jessi panik begitu melihat pintu kamarnya tidak terkunci dan sedikit terbuka. Pikirannya sudah macam-macam tentang Ken yang berduaan dengan Milka.
"Ken, kamu sungguh.." Kata-kata Jessi terhenti saat melihat sosok pria yang tengah duduk bersebelahan dengan Ken.
Ken dan Marco spontan berdiri. Mereka sudah menunggu Jessi lebih dari 3 jam.
Jessi mundur beberapa langkah sampai dia menabrak Jo.
"Ngapain kamu di sini?" pekik Jessi.
"Sica... aku gak akan melakukan hal nekat kalau kamu bisa diajak bicara dan gak kabur seperti ini." jelas Marco.
"Apalagi sih, Ko. Aku udah gak mau dengerin apa-apa dari kamu." Jessi berpegangan erat pada pergelangan tangan Jo ketika Marco mendekat.
"Aku masih sayang kamu, Sica." "Selama pacaran, apa yang gak ku kasih ke kamu." "Kamu juga senang kan bisa belanja dengan kartu unlimited dari aku? " "Aku ingin kita sama-sama lagi.." "Aku ingin hubungan kita seperti dulu." Marco mulai mengungkapkan perasaannya.
Jessi termenung. Marco memang bukan orang yang jahat. Selama pacaran dia selalu memperlakukan Jessi bagai ratu. Tapi, Jessi merasa bosan. Dia juga tidak suka dengan satu sifat Marco yang belakangan terlihat. Dia pria yang ambisius. Marco selalu harus mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Ko, aku gak bisa. Tolong jangan seperti ini lagi. Aku ingin hidup tenang." "Kalau kamu memang sayang aku, seharusnya kamu gak bikin aku terus menangis."
Jessi mengatakan dengan suara tercekat. Dia juga melengos dari Marco yang sejak tadi menatapnya.
Ya, Jessi lelah dengan segala kejadian yang terjadi belakangan ini. Dia harus sembunyi dari Marco. Dia juga mengalami beberapa kesialan, dan harus di jaga oleh 2 bodyguard seperti sekarang.
"Aku minta maaf atas semua perlakuanku Sica. Sepertinya hubungan kita memang gak bisa lagi di perbaiki. Dan kamu benar. Aku gak mau kamu sedih." Marco mengibarkan bendera putih. Dia mengatakan itu karena Jessica bahkan sama sekali tidak mau menatap ke arahnya dan ketakutan dengan pria itu.
"Apa aku boleh memelukmu untuk terkahir kali?" tanya Marco ragu-ragu. Dia yakin Jessi tidak akan mau berdekatan lagi dengannya.
Tapi, Jessica memberanikan diri untuk maju mendekat. Marco juga maju mendekat dan mereka benar-benar berpelukan seperti Teletubbies, di depan Milka, Jo dan Ken.
"Jangan seperti ini lagi, Ko. Kamu harus bisa sedikit menurunkan ambisimu. Jangan sampai kamu berbuat kesalahan." pesan Jessi.
"Ya, thanks Sica."
"Sudah. Sekarang anda bisa pergi." Ken melepaskan paksa pelukan Jessi-Marco yang sudah 15 detik berlalu.
"Bye, Sica. Semoga kita bisa berteman setelah ini." Marco menatap Jessica sekali lagi sebelum pergi.
Ken membuka pintu kamar Jessi, supaya Marco cepat keluar.
Setelah Marco keluar, Ken beralih pada Milka dan Jo yang masih terpaku di tempat masing-masing.
"Mil, thanks bantuannya. Bisa kamu keluar dulu?" pinta Ken dengan sopan.
"Kamu juga keluar Jo." Ken mendorong tubuh Jo yang masih berada di dekat pintu.
"Lho, kalian mau apa." teriak Jo.
'BRAK' Ken langsung menutup pintu begitu Jo keluar. Dia juga mengunci kamar Jessi supaya kedua orang itu tidak dapat masuk.
"Ken, kamu mau apa?" Jessi sedikit mundur karena Ken menatapnya dengan tajam. Dia maju mendekat pada Jessi sampai hanya berjarak beberapa centi saja.
"Jessica. Aku sangat benci padamu." ucap Ken setengah berbisik.
"Ken, aku juga membencimu." Jessica mulai berani pada Ken, apalagi setelah Ken bilang dia membencinya.
"Kenapa kamu membenciku? Hmm?" Ken merapihkan rambut Jessi yang berantakan.
"Coba kamu pikir sendiri."
"Jess.. aku benci karena banyak sekali pria yang ingin memelukmu." "Aku benci karena kamu selalu sedih ketika dekat denganku." Ken tidak mempedulikan ucapan Jessica sebelumnya dan hanya berfokus pada wanita itu.
Jessica juga diam. Dia bingung dengan ucapan Ken yang terkesan seperti cemburu. Apakah pria itu memang sedang cemburu?
"Apa kamu bodoh, Jess?" Ken menarik tubuh Jessi supaya Jessi jatuh ke dalam pelukannya.
"Keeen." Jessi hendak berontak, tapi tenaganya kalah jauh. Akhirnya Jessi pasrah dan membiarkan Ken memeluknya.
"Aku sangat menyukaimu, Nona Jessica. Ini bukan sekedar hubungan majikan dan karyawan. Aku menyukaimu sebagai layaknya laki-laki dan perempuan." ucap Ken dengan jelas di telinga Jessi.
"Ken.." Jessi luar biasa shock mendengar pengakuan dari Ken. Hari ini ada 3 orang yang mengungkapkan perasaan padanya. Jessi sudah menolak satu dan kini tinggal 2 bodyguard yang sangat berjasa dalam hidupnya.
Ya, Ken dan Jo adalah 2 pribadi yang berbeda. Ken lebih banyak diam dan kaku. Tapi dia sangat memperhatikan Jessi dalam diamnya. Sedangkan Jo, dia lebih ceria dan suka melawak. Dia selalu dapat membuat Jessi tertawa.
Jessi memang pernah mengungkapkan perasaannya pada Ken. Jessi juga cemburu pada Ken yang berdekatan dengan Milka. Tapi, apakah Jessi benar-benar menyukai Ken? Tapi dia juga nyaman dengan Jo.
"Ken, aku pusing." Jessi menyadarkan diri dari alam bawah sadarnya yang berpikir keras.
Ken tersenyum. Senyum yang tidak pernah Jessi lihat sebelumnya. Senyum yang membuat wajahnya semakin tampan. Jessi melengos ke arah lain karena tidak kuat menatap Ken.
"Istirahat nona. Malam ini aku akan temani anda di sini." "Aku takut Marco akan kembali."
Ken membimbing Jessi ke ranjang. Dia menunggu Jessi naik dan tiduran di sana, lalu Ken menarik selimut untuk Jessi.
"Aku akan tidur di sofa." Ken yang lelah segera pergi ke arah sofa. Dia duduk di sana masih sambil memandangi Jessi. Jantung Ken masih terasa berdegub kencang. Dia juga masih dapat mencium parfum Jessi yang begitu wangi yang melekat di bajunya.
"Aku sudah yakin sekarang nona, kalau aku menyukaimu." Ken bermonolog sendiri. "Aku sudah menabrak batasnya, jadi aku harap jawabannya ya."