Love U My Bodyguards

Love U My Bodyguards
Ngambek



Jo dan Jessi makan di sebuah restoran dengan interior tempo dulu yang ada di pinggir curug. Jessi sudah berganti dengan pakaian yang dibelikan oleh Jo. Sedangkan Jo masih menggunakan boxer yang basah, karena dia masih mau bermain air setelah makan.


Makanan khas kota Purwokerto alias tempe mendoan sudah terhidang di meja. Selain itu, Jo juga memesan bebek goreng dan juga sayur yang Jessi bahkan belum pernah lihat sebelumnya.


"Sayur apa ini, Jo?" Jessi mengangkat piring itu dan menelitinya dengan cermat.


"Sayur pakis. Apa anda tidak tau?"


"Pakis?"


"Makan saja nona.. anda tidak akan mati jika makan itu. Rasanya juga enak." Jo menyendokkan sayur itu ke piring Jessi.


Jessi menghela nafas panjang. Sulit sekali mengajak orang yang seperti Ken dan Jo. Mereka lebih suka makan seperti ini daripada makanan di restoran.


Jessi tidak langsung makan. Dia lebih dulu menyesap teh rempahnya yang masih panas. Seketika badannya langsung hangat dan tidak menggigil kedinginan lagi.


"Setelah ini, kita glamping ya nona." "Aku sudah booking 2 tempat untuk kita." kata Jo dengan mulut penuh makanan. Jo sudah mulai makan lebih dulu.


"Jo, jangan bicara kalau sedang makan." Jessi mengingatkan Jo. Dia begitu heran dengan nafsu makan para bodyguard nya yang seperti kuli. Apa menjaga Jessi begitu melelahkan sampai makan begitu banyak?


Jessi juga mulai makan apa yang ada. Ini pertama kali Jessi mencoba mendoan. Rasanya ternyata enak juga, meskipun gorengan itu sangat berminyak.


"Bagaimana dengan mantan anda, Nona?" tanya Jo di sela-sela makan siang mereka.


"Jangan merusak mood ku, Jo." protes Jessi.


"Yah, habis.. aku harus bicara apa dengan nona?" tanya Jo sambil memandangi Jessi.


"Apa kek.. kerjaan atau makanan."


"Itu tidak menarik, nona."


"Kalau begitu, ceritakan saja tentang dirimu yang disiksa Juna." balas Jessi kesal.


Jo tertawa karena ekspresi BT Jessi yang sangat lucu.


"Nona, sepertinya aku tidak akan disiksa Juna lagi." ucap Jo yang berhenti makan sejenak.


"Kenapa?" Jessi melirik ke arah Jo.


"Karena aku akan mendaftar untuk jadi bodyguard anda." jawab Jo senang.


'Uhuk' 'Uhuk.' Jessi tersedak. Dia bahkan dapat merasakan nasi yang belum selesai dikunyah sampai naik ke hidung.


"Minum dulu nona.." "Makanya kalau makan pelan-pelan." ceramah Jo. Dia tidak sadar jika dialah penyebab utama Jessi sampai tersedak seperti ini.


"Jo, kamu gak usah bercanda terus deh, bisa gak?" "Kamu bukan jaga aku, malah bikin aku hampir mati seperti ini." protes Jessi. Dan suara Jessi yang ngegas membuat pelanggan lain menengok ke arah mereka.


"Lho, aku serius nona." "Menjaga Anda lebih seru daripada menjaga Juna."


"Aku akan bilang ke Boy untuk mendeportasi kamu ke Africa." omel Jessi yang masih kesal.


"Boleh, tidak apa-apa. Itu juga seru." jawab Jo enteng.


Jessi sudah tidak bisa berdebat lagi dengan Jo. Dia tau kalau dia tidak akan menang melawan Jo yang syaraf otaknya sudah putus satu.


"Nona, satu pertanyaan lagi."


"Apalagi, Jo?" Jessi membatalkan niatnya untuk melanjutkan makan. Dia yakin, Jo akan membuatnya tersedak lagi.


"Ini soal Marco Scotts, pacar anda."


"Mantan." ralat Jessi.


"Iya, maksudnya itu." "Apakah Marco se menyeramkan itu?" tanya Jo serius. Dia tidak pernah mendengar nama Marco sebelumnya. Yang dia tau, Marco ingin menculik Jessi dengan menyuruh Max, tapi salah sasaran.


Jessi menghela nafas panjang. Ken sudah tau semua tentang Marco dari Boy dan Marsha. Sedangkan, Jo memang orang baru.


"Marco itu bisa melakukan apapun untuk mendapatkan yang dia inginkan." "Aku rasa dia punya penyakit kejiwaan." curhat Jessi.


"Jadi, Marco benar-benar menyukai anda?"


"Ya begitulah."


"Apa dia tidak salah? Yang lebih menarik kan banyak." protes Jo yang tidak terima.


Jessi geram sekali. Dia sudah tidak tahan dengan Jo. Jessi membawa piringnya ke meja samping dan mulai makan di sana.


"Nona, gitu aja ngambek." "Jangan begitu nona.. nanti cantiknya hilang lho kalau ngambek." Jo masih terus bicara tanpa rem.


Jessi memiringkan badannya supaya dia tidak bisa melihat wajah Jo lagi dan membiarkan Jo bicara sendiri.


'Kenapa ada mahkluk menyebalkan seperti dia sih?' batin Jessi yang masih menghindar dari Jo.