
Ken tetap mengikuti Jessi dengan diam-diam. Dia sudah belajar banyak dari Timothy untuk menyamar. Ken menggunakan motor sewaan dengan jaket ojek online dan helm full face. Martin tidak akan menyadari sekalipun Ken mengikuti dari jarak yang cukup dekat.
Mobil Martin tampak memasuki sebuah hotel bintang 5 di tengah Kota. Ini sungguh aneh sekali. Kenapa Martin mengajak Jessi makan siang di hotel?
Ken memarkirkan motornya sembarangan. Dia tentu tidak ingin kehilangan jejak dari Jessi dan Martin. Jangan sampai Ken mengulangi kesalahan ketiga kalinya sehingga membuat Jessi celaka.
Sementara itu, Jessi bingung karena Martin malah mengajaknya ke resepsionis, bukannya ke restoran.
"Sebentar Jess. Aku harus menemui keponakanku dulu." ucap Martin yang tau keresahan Jessi.
"Oh, oke." Jessi memegang ponselnya untuk mencari kontak Ken. Dia harus bersiap jika sesuatu terjadi padanya atau Martin punya niat jahat.
"Ayo.. temani aku." Martin menarik pergelangan tangan Jessi menuju ke lift. Jessi terpaksa mengikuti Martin dengan perasaan cemas.
"Kenapa kamu tegang sekali, Jess?" "Kamu tidak berpikir macam-macam kan tentang aku?" Martin menengok pada Jessi yang tampak gelisah memainkan tali tasnya.
"Eh, enggak kok. Mau ketemu keponakan, kan?" ulang Jessi yang mencoba tersenyum pada Martin.
"Iya, dia baru saja datang dari Australia."
Ting. Pintu lift terbuka. Martin masih memegang tangan Jessi. Dia mengajak Jessi untuk mencari ruangan yang sudah ditunjukkan resepsionis.
Martin berhenti di ruangan paling pojok. Jantung Jessi berdetak makin tidak karuan. Dia menyadari kebodohannya untuk pergi berdua saja dengan Martin. Bagaimana jika ini hanya akal-akalan Martin dan di ruangan itu tidak ada siapapun? Apa yang akan Martin lakukan?
Martin sudah menekan bel di samping kanan pintu. Mereka berdua menunggu hingga pintu di buka. Tapi belum sempat pintu terbuka, Ken tiba-tiba datang dan langsung menyergap Martin sampai tubuh pria itu menabrak dinding.
"Ken!" teriak Martin dan Jessi bersamaan.
Jessi tentu senang Ken bisa datang. Tapi, Martin tampak kebingungan. Kenapa bodyguard Jessi bisa ada di sini?
"Jangan macam-macam pada Jessi." Ken menahan badan Martin dengan satu lengan kirinya.
"Siapa yang macam-macam?" ucap Martin yang sedikit kesakitan karena Ken menekan dadanya dengan lengannya yang besar.
"Kenapa bawa Jessica ke hotel? Aku sudah curiga jika anda yang dulu ingin mencelakai Jessi dengan menaruh obat tidur di minumannya." kata Ken sengit.
"Ken.." panggil Jessi. Dia tidak masalah jika Ken menginterogasi Martin. Tapi yang jadi masalahnya, tubuh Ken berkeringat begitu banyak. Kaos Ken sampai basah kuyup.
Ken tidak menggubris Jessica. Dia sangat ingin memberi pelajaran pada Martin.
'Ceklek' di tengah keributan yang terjadi di Koridor, pintu kamar di belakang Jessi terbuka.
"Uncle Martin." teriaknya.
Ken menengok lalu memandang anak kecil yang sedang bengong di depan pintu.
Martin menyingkirkan tangan Ken yang sudah melonggar. Dia tersenyum sinis pada Ken yang sudah sembarangan menuduhnya.
"Aku ajak Jessi untuk bertemu keponakanku dan bermaksud untuk mengajak makan siang bersama." jelas Martin pada Ken.
"Ayo, Jess.. masuk sebentar." Martin kembali mengajak Jessi untuk masuk ke dalam dan meninggalkan Ken.
Jessi menengok ke arah Ken. Pria itu jelas tidak baik-baik saja. Wajah Ken begitu pucat seperti menahan sakit.
'BRUK'
Benar saja dugaan Jessi. Belum sampai Jessi melangkah masuk ke kamar, Ken tiba-tiba terjatuh ke lantai.
"Keen.." teriak Jessi. Dia langsung duduk di lantai untuk memeriksa keadaan Ken. Tubuh Ken sangat dingin dan Ken merintih kesakitan. "Ken, kamu kenapa Ken?"
"Perutku." Ken memegangi perutnya sambil menahan sakit.
"Martin, cepat bawa Ken ke rumah sakit." pekik Jessi pada Martin yang malah diam dan melihat saja.
"Dia baru saja menyerang ku." kata Martin penuh pertimbangan. Bisa saja itu adalah trik dari Ken yang ingin mengganggu makan siang mereka.
"Dia hanya salah paham. Cepat Martin, tolong Ken." rengek Jessi.
Martin akhirnya membantu Jessi untuk memapah Ken. Dia memperhatikan Jessi yang saat ini begitu panik dan ketakutan.
Untung saja tak jauh dari hotel itu ada Rumah Sakit. Tidak sampai 10 menit, mereka bisa membawa Ken untuk ke Rumah Sakit terdekat.
Para perawat langsung mendorong ranjang Ken ke IGD.
"Kalian tunggu saja di sini. Kami akan melakukan pemeriksaan dulu." perawat menahan Jessi dan Martin yang terus mengikuti Ken sampai ke IGD.
Ken sudah masuk ke IGD bersama perawat. Tak lama, seorang dokter juga masuk ke dalam untuk memeriksa Ken.
Tinggal Jessi dan Martin yang masih berdiri di depan ruangan. "Bagaimana ini Pak? Ken tidak akan mati, kan?" tanya Jessi ketakutan. Selama berada di sini, Ken tidak pernah sakit apalagi sampai tumbang seperti sekarang.