
Ken dan Jessi sudah menyelesaikan prosesi pernikahan yang panjang. Dan saat ini, Ken sudah membawa Jessi ke kamar mereka. Jessi langsung merebahkan diri di ranjang tanpa berganti pakaian, sebaliknya Ken segera melepaskan jas dan kemejanya.
"Ken, aku lelah. Besok saja ya unboxing nya." ucap Jessi yang melihat Ken sudah membuka bajunya.
Mendengar ucapan Jessi, Ken jadi tertarik menggodanya. Ken sebenarnya melepaskan itu semua karena dia kepanasan. Tapi Jessi malah berpikiran ke arah lain.
Ken mendekat pada Jessi dan duduk di tepi ranjang untuk mengamati istrinya yang unik dari dekat.
"Apakah kamu tidak tertarik dengan tubuh suami mu ini?" Ken memegang pipi Jessi lalu mengusapnya dengan lembut. Jessi otomatis menengok ke arah Ken. Tubuh atletis Ken memang tidak perlu diragukan lagi. Otot-otot Ken begitu menarik hingga membuat Jessi menelan ludah.
"Ken, apa harus sekarang? Tapi aku lelah." Kata Jessi tanpa mengalihkan pandangannya pada Ken.
"Cepat lepas baju mu." Ken mengangkat tubuh Jessi supaya dia bangun. "Mulai sekarang, kamu harus menuruti suami mu." ucapnya lagi.
"Iya.. iya.." Jessi bangun dari tidurnya, lalu dia memberikan punggung pada Ken supaya pria itu melepaskan Zipper Jessi.
Ken menurunkan zipper baju pengantin Jessi, sehingga hanya menyisakan tank top dan celana street saja. Ken dapat merasakan jantungnya berdegup 2x lipat ketika menyaksikan pemandangan indah di depannya. Otaknya tentu kasihan pada Jessi yang kelelahan, tapi dirinya juga lelaki normal yang tidak bisa menahan malam pertamanya.
"Jess, apa kamu lapar?" tanya Ken sambil menarik tangan Jessi supaya dia menghadap ke arahnya dan duduk di pangkuannya.
"Emmm, memang ada makanan?" Jessi menatap Ken yang wajahnya sedikit memerah.
"Aku akan pesan." Ken mengambil telepon tanpa mengalihkan pandangannya. Dia juga bicara di telepon sambil terus menatap Jessi. Saat ini Ken seperti singa yang mengintai mangsanya.
"Sudah. Nah, sambil menunggu makanannya, kita sebaiknya bersantai dulu." Ken memutar badan Jessi, sampai dia terjatuh di ranjang. Dengan cepat Ken langsung mengunci badannya supaya wanita itu tidak kabur.
"Ken, jangan menatapku seperti itu." Jessi melengos karena Ken begitu dekat dengannya. Dia belum terbiasa dengan situasi sekarang.
"Boleh aku ulangi lagi ciuman yang tadi?" tanya Ken sembari menghadapkan wajah Jessi ke arahnya.
"Jika hanya ciuman, tidak apa-apa. Tapi tidak le.."
Ken keburu mencium Jessi sebelum wanita itu menyelesaikan ucapannya. Jessi merespon dengan baik. Ken merasa ini waktu yang tepat untuk melakukan unboxing karena Jessi juga menikmatinya. Tangan Jessi bahkan merajalela di tubuh kekar milik Ken.
*
*
*
Jessi menggeliat. Dia membuka matanya perlahan. Wajah Ken tepat berada di depannya dan dia tampak sangat berseri-seri. Tentu saja Ken senang karena sudah sah menjadikan Jessi istrinya.
"Ken, aku gak mau makan." Jessi menutup matanya lagi dan tidak mau melihat Ken.
"Benar, tidak mau makan?"
"Hmmm.."
"Kalau gitu aku yang akan makan semuanya."Ken sengaja menyentuhkan sendok garpu nya ke piring sehingga menimbulkan bunyi nyaring.
"Tunggu." Jessi memegang tangan Ken. "Aku mau makan, tapi di sini saja. Aku masih sakit."
Ken tertawa. Alasan Jessi tidak mau makan adalah karena dia tidak mau bergerak. Jessi pasti masih merasakan sakit setelah apa yang baru saja mereka lakukan. Ken membantu Jessi bersandar pada head board. Dia juga tidak lupa meletakkan bantal di belakang punggung Jessi supaya istrinya duduk lebih nyaman.
Ya, mereka akhirnya jadi untuk malam pertama. Sebenarnya, Ken tidak akan memaksa jika Jessi tidak mau, tapi dengan sebuah ciuman ternyata bisa membuat Jessi lupa diri.
"Kamu licik sekali, pantas saja kamu pesan makanan." protes Jessi yang sudah mulai disuapi oleh Ken.
"Pasti setelah melakukan itu, kamu lapar. Jadi, aku sudah persiapkan dengan baik. Kamu sungguh beruntung mendapat suami yang siap siaga."
"Cih. Suami mesum." ralat Jessi.
"Sayang,, makanya aku tidak mau kita berciuman sebelum menikah." "Kebablasan kan." jawab Ken santai.
"Ya, tapi benar juga." Jessi sedikit bisa berpikir setelah beberapa sendok makanan masuk ke dalam perutnya. Jaman sekarang, entah berapa banyak wanita yang hamil di luar nikah. Mereka begitu mudah memberikan mahkotanya hanya karena alasan cinta saja. Jessi bergidik ngeri membayangkan jika dia dan Ken juga kebablasan sebelum nikah. "Makasih sayang, karena sudah menjaga ku dengan sabar."
Ken tersenyum membuat wajahnya jadi 2x lipat lebih tampan. "Suapan terakhir,, aaaa.." Ken dengan semangat mengarahkan sendok ke mulut Jessica.
"Ken, aku jadi teringat Jo dan Milka. Tadi, Milka bilang dia sudah menikah dengan Jo. Tapi, kenapa dia tampak ga bahagia?" "Apakah kamu paksa mereka menikah?" tanya Jessi yang tiba-tiba teringat pada Jo-Milka.
"Sebenarnya mereka saling menyukai, cuma gengsi aja." Ken meletakkan piring makanan yang sudah kosong di nakas. "Sudahlah, mereka itu bukan anak TK yang harus dipikirkan." "Lebih baik kita pikirkan tentang siapa nama anak kita nanti."
"Astaga, Ken. Kita baru 5 jam menikah. Kenapa pakai bicara soal anak?" "Nanti kalau sudah hamil, baru deh ngomongin itu." protes Jessi.
"Ya, makanya kita harus rajin supaya kamu bisa cepat hamil." Ken mengecup bibir Jessica, sementara tangannya mematikan lampu kamar. Adegan selanjutnya sudah pasti mereka mengulangi lagi kegiatan malam ini.