
Jessi selesai jam 9 malam. Dia seharusnya sudah pulang sejak jam 3 sore, tapi Jessi memutuskan untuk tetep tinggal karena ingin menyelesaikan tugas Martin secepatnya. Dia tidak ingin mengerjakan tugas itu di kost.
"Nona, aku ingin jalan-jalan." Jo menarik tangan Jessi untuk menyebrang Mall bukan kembali ke kost.
"Jo, aku cape.. kaki ku sakit." keluh Jessi.
"Udah, kalau cape nanti pulangnya aku gendong."
Jessi terdiam tidak menanggapi Jo. Dia memang hanya beralasan jika kakinya sakit.
Sudah beberapa minggu di sini, Jessi sama sekali tidak berminat untuk jalan-jalan. Kerjaannya dengan Ken hanya ke pasar dan ke mall. Jadi, ini pertama kali Jessi melihat Alun-alun di depan Mall.
Alun-alun kota Purwokerto sangat ramai. Tempat itu cukup bagus untuk sekedar jalan-jalan, duduk sambil mengobrol santai dan makan jajanan SD.
Jo sangat bersemangat melihat-lihat jajanan di sepanjang jalan. Dia tidak pernah begini jika bersama Juna. Juna akan memarahi Jo jika membeli jajan sembarangan. Kalau sakit perut dan sampai tidak masuk, Jo bisa kena omel Juna seharian. Tapi, sekarang Juna tidak ada. Jadi, Jo bisa bebas membeli apa yang dia mau.
"Anda sudah pernah makan telor gulung?"
"Apa itu? Telor mata sapi di gulung?" tanya Jessi bingung.
"Ah, Anda kampungan sekali."
"Ish, aku ini orang kota. Makanya gak tau jajanan seperti itu. Dasar oneng." protes Jessi.
Jo berhenti di salah satu penjual telor gulung. Jessi memandang takjub ketika penjual itu memutar sindik di pinggir penggorengan dan menggulung telornya sampai terkumpul jadi satu.
"Itu sindiknya di cuci?" ucap Jessi to the point pada penjualnya.
Jo menyenggol Jessi karena kepolosan dan ke-oon an Jessi. Untung saja penjualnya tidak mendengar Jessi.
"Sudah.. kamu ingin beli berapa?"
Jessi tampak berpikir. Bau telor gulung itu sangat menggugah selera. Perut Jessi juga belum diisi sejak tadi.
"50rb."
"Anda mau mukbang?" Jo melotot mendengar Jessi membeli telor gulung 50rb.
"20 saja pak." ucap Jo pada penjual itu.
Penjual itu dengan cepat memberikan pada Jo pesanannya.
Jo kembali menarik Jessi berjalan. Wanita itu sudah mulai penasaran melihat deretan makanan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
"Apa itu, Jo?" Jessi menujuk sebuah gerobak dengan tulisan Cilor.
"Itu cilor alias Aci di campur telor. Apa anda mau?"
"Boleh."
Jo dan Jessi mendekati penjual cilor itu.
"Beli berapa neng cantik?" goda penjual cilor. Dia baru pernah melihat wanita secantik Jessi yang menyambangi gerobaknya.
"50rb." jawab Jessi lagi.
"5 ribu saja pak." ralat Jo.
"Nona, kalau anda beli 50rb, itu bisa untuk 3 hari." jelas Jo dengan gemas.
Jessi diam saja karena ingin tau bagaimana penjual itu membuat cilor. Jessi melihat cilornya dicetak dan dimasak seperti membuat takoyaki. Lalu setelah matang, penjual itu memasukkannya dalam wadah, lalu mengocoknya dengan garpu.
"Lho, kok dihancurin? Apa dia kurang kerjaan Jo? Kan udah di cetak." kata Jessi tidak terima.
"Maaf Pak. Teman saya ini memang istimewa. Dia, berasal dari planet Mars."
Jo menarik lengan Jessi setelah mendapatkan makanannya. Jessi begitu cerewet dan memalukan. Jo jadi sudah tidak berminat menawari Jessi makanan lagi.
Mereka duduk di salah satu bangku kosong untuk memakan apa yang sudah mereka beli. Jo juga mengeluarkan air minum dari tasnya. Peristiwa kemarin membuat Jo harus lebih berhati-hati.
"Ini enak." Jessi mulai memakan telor gulung yang di belikan oleh Jo.
"Anda suka?"
Jessi mengangguk. Dia menikmati semua makanan itu dan lupa berbagi dengan Jo.
Jo mengambil ponselnya untuk mengabadikan momen di mana Jessi makan telor gulung seperti anak kecil.
"Jo, jangan laporkan ini ke Boy. Boy sudah banyak menerima foto aib ku dari Ken." omel Jessi tanpa menghentikan makannya.
"Ini untuk dokumentasi saja." Jo kembali menyimpan ponselnya.
"Jangan norak deh Jo." "Kamu mau bikin di status dengan tulisan Orang kota yang baru pertama kali makan telor gulung dan cilor. Gitu kan?" tuduh Jessi sambil mengacungkan sindik telor gulung ke dekat wajah Jo.
"Bukan..tapi caption nya, akhirnya bisa kencan juga." Jo menatap Jessi dengan lebih serius.
"Kencan? Sad boy banget sih lo Jo." Jessi mengeluarkan bahasa informalnya.
"Yah, maklum lah.. aku tidak bisa dekat dengan wanita jika ada Juna." curhat Jo.
"Bukannya kamu ada affair dengan Cassie Sebastian?"
"Siapa yang bilang?" Jo gelagapan ketika Jessi mengucapkan kata Cassie Sebastian.
"Parah kamu, Jo. Suka sama istri orang." Jessi geleng-geleng kepala dengan ekspresi menghina.
"Hey, itu masa lalu. Sekarang aku sudah move on. Dan aku tidak affair dengan Cassie. Kami hanya berteman."
"Temen tapi demen kan?"
"Ya, tapi bertepuk sebelah tangan. Cassie memang untuk Romeo." (Baca Married With Romeo yaa.)
Jo menghela nafas panjang. Dia sangat mengagumi Cassie, tapi sekarang dia tidak boleh melakukan itu lagi, karena Suami Cassie bisa mencincangnya sampai habis jika Jo berani mendekati istrinya.
"Sudahlah Jo. Kamu bisa cari wanita di sini. Lihat deretan penjual itu. Siapa tau ada yang cocok." Cassie menunjuk ibu-ibu yang sedang berjualan.
"Kenapa jauh-jauh kalau di sebelahku juga ada wanita yang cantik?" goda Jo sambil mencolek dagu Jessi. "Kamu saja yang jadi pacarku. Bagaimana nona?"
"Jo, aku mau beli telor gulung lagi." Jessi berdiri dan berlari dengan cepat ke penjual telor gulung untuk menghindari gombalan Jo.
Jo tertawa senang melihat Jessi yang salah tingkah. Jo hanya ingin mengerjai Jessi saja. Mana mungkin Jo jatuh cinta pada Jessi yang sekelas dengan Cassie? Mereka adalah wanita-wanita yang harus bersanding dengan para CEO.