
Jessica bangun dengan perasaan lebih baik. Dia juga sudah kembali ke kamarnya. Ken sepertinya masih tidur di mobil, dan Milka juga masih tertidur lelap di ranjang Jessi.
Jessi membiarkan Milka tidur, sementara dia sendiri pergi ke dapur. Jessi berniat memasakkan sarapan untuk Milka dan Ken. Ya, Jessi merenungkan kejadian semalam. Ken benar. Jessi memang harus minta maaf pada Milka. Jika Jessi membiarkan Milka tidur di sofa, pasti mereka tidak akan terluka. Mungkin Milka merasa minder pada Jessi dan tidak ingin mengganggu Jessi, jadi dia memutuskan untuk menolak tawaran Jessi tidur di ranjangnya. Lagipula, Milka sudah berbaik hati menyelamatkan Jessi dari Marco. Jessi belum membalas kebaikan Milka, malah membuatnya jadi terluka.
Untuk menebus kesalahannya, Jessi akan membuatkan mereka French toast dengan toping sirup maple dan buah berries. Dia juga membuatkan kopi yang dia racik sendiri.
Bau roti yang di bakar di telfon segera menyeruak ke seluruh ruangan. Tidak lama, Milka terbangun dari tidurnya. Dia mengucek matanya beberapa kali sampai sosok Jessi yang sedang memasak terlihat jelas.
"Jessi?"
"Eh, Kak Milka. Pagj ka.." Jessi menengok ke belakang sambil tersenyum.
Milka beranjak dari ranjang.
"Terimakasih, tumpangannya." ucap Milka yang kini sudah berada di samping Jessi yang sedang sibuk memasak.
"Maaf." Jessi dan Milka berkata maaf secara bersamaan. Keduanya lalu tertawa karena bisa kompak untuk mengatakan itu.
"Maaf Kak, aku tidak sengaja membuat kakak jatuh." Jessi lebih dulu mengeluarkan isi pikirannya.
"Ya, maafin kakak juga yang suka ngeyel." Milka menepuk pundak Jessi.
Mereka berdua merasa lega setelah bermaaf-maafan ria. Milka sangat kagum dengan Jessi. Meskipun Dia anak sultan, tapi dia tidak sombong. Jessi bahkan mau meminta maaf lebih dulu.
"Duduk saja kak. Sebentar lagi makanannya siap." Jessi memberi kode supaya Milka duduk di meja makan kecil dengan kursi plastik yang berada di tengah ruangan.
"Kamu bisa masak?" tanya Milka penasaran.
"Ya, sedikit. Aku berteman dengan chef. Jadi aku belajar dari dia." "Tapi ini simple aja kok." Jessi memindahkan French toast nya ke piring. Dia membuat itu 3 porsi.
"Aku akan panggilkan Ken dulu." "Dia semalam tidur di mobil." Jessi melepaskan apronnya, untuk menemui Ken. Tapi, Milka buru-buru menahan Jessi.
"Biar aku saja yang bangunkan. Kamu kan udah capek masak."
"Oh.." Jessi mengangguk. Dia membiarkan Milka untuk pergi keluar menemui Ken.
"Ya, kenapa kamu repot-repot ketika pacar Ken ada di sini." Ucap Jessi pada dirinya sendiri. Dia mengambil coffe maker nya, lalu menuangkan kopi hitam itu pada masing-masing cangkir yang sebelumnya sudah Jessi siapkan.
*
*
*
Milka mengetuk kaca mobil Jessi. Dia menunggu sampai Ken keluar. Tapi, pria itu tidak kunjung bangun juga. Milka lalu iseng menarik handle pintu dan ternyata tidak di kunci.
Ken tidur dengan pulas. Milka bukannya membangunkan pria itu, malah sibuk memandangi wajahnya. Meskipun sedang tidur, wajah Ken sangat cool sekali.
"Kamu semakin tampan saja, Ken." kata Milka lirih.
"Jessica.." igau Ken. "Jangan pergi."
Milka mengerutkan keningnya. Jessica? Apakah Ken memimpikan majikannya?
"Ken.. bangun Ken." Milka menepuk pelan pergelangan tangan Ken.
Dia melakukan beberapa kali sampai Ken terkejut dan tersadar dari tidurnya.
"Astaga, ternyata cuma mimpi." Ken menekan tuas kursi mobilnya untuk mengembalikan kursi pada posisi semula.
"Mimpi apa Ken?" tanya Milka penasaran.
Ken bersiap keluar sehingga Milka harus menyingkirkan badannya dari pintu mobil. Ken meregangkan badan beberapa menit. Badannya cukup pegal karena semalaman berada di mobil. Apalagi Ken over thinking sampai dia tidak bisa tidur. Ken baru bisa memejamkan mata jam 3 pagi.
"Jessi mengajak sarapan."
Ken memperhatikan Milka. Kalau tidak salah ingat, kemarin Jessi dan Milka sedang ribut. Lalu sekarang Milka mengatakan jika Jessi ingin mengajak sarapan?
"Aku sudah minta maaf pada Jessi. Begitu juga sebaliknya." jelas Milka tanpa menunggu Ken bertanya. Dia sudah tinggal cukup lama sama Ken, jadi dia tau setiap ekspresi pria itu. Dari ekspresinya, Ken sangat butuh penjelasan dari Milka.
"Bagus. Kalau gitu, kita ke atas saja. Aku lapar." Ken berjalan lebih dulu ke atas, meninggalkan Milka yang masih melamun.
Di atas, Jessi sudah duduk manis dan menyiapkan semuanya. Ken duduk di samping Jessi, sedangkan Milka duduk di depan Jessi.
Ken melihat meja yang sudah terisi sarapan untuk Milka dan dirinya. Dia memegang dahi Jessi, tapi ternyata tidak panas.
"Tumben sekali nona bikin sarapan. Apa anda sakit?" sindir Ken.
"Ish, memangnya aku gak boleh masak untuk kalian?" Jessi menyingkirkan tangan Ken yang menyentuh dahinya.
"Bukan, tapi anda aneh."
"Aku baik salah, diam salah, ngomel juga salah. Perasaan yang selalu salah itu harusnya laki-laki. Kenapa jadi terbalik?" protes Jessi.
Ken tersenyum. Dia mengambil piringnya dan mulai makan.
"Kenapa kalian bengong? Ayo makan." ucap Ken pada kedua wanita yang sedang diam sambil menatapnya.
Milka dan Jessi mulai makan juga. Mereka makan dengan hening dan hanya terdengar suara pisau garpu yang menyentuh piring.
"Beruntung sekali pria yang mendapatkan kamu ya, Jess. Kamu itu paket komplit. Sudah pintar kerja, pintar masak, cantik lagi." puji Milka.
"Ya, tapi dia manja dan boros." jawab Ken cepat.
Jessi memandang Ken dengan tatapan elang. "Aku gak boros Ken. Aku cuma khilaf kalau belanja."
"Itu sama saja, Nona." Lagi-lagi Ken tersenyum karena sudah berhasil membuat Jessi kesal.
"Kalian tampak sangat akrab. Apakah ada sesuatu?" Milka memandang interaksi keduanya yang tampak seperti pasangan kekasih. Ken juga sepertinya nyaman dengan Jessi.
"Gak kok." jawab Jessi singkat.
Ken juga tidak peduli dengan pertanyaan Milka. Dia masih sibuk dengan roti buatan Jessi yang begitu enak.
Mereka menyelesaikan sarapan dengan cepat. Jessi membereskan piring-piringnya, lalu membawa itu ke tempat cucian.
"Aku saja yang cuci. Anda mandi dan siap-siaplah kerja." Ken menarik Jessi yang sudah siap di depan wastafel.
Jessi menurut. Dia langsung pergi ke kamar mandi karena ternyata jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Setengah jam lagi dia harus berangkat.
"Ken, hari ini aku akan pergi ke Baturraden. (Tempat wisata di Purwokerto) Apakah kamu bisa temani aku?" Milka berdiri di samping Ken yang sedang mencuci piring.
"Tidak bisa. Aku harus menjaga Jessi." jawab Ken tanpa menengok.
"Aku lupa. Kita ini cuma mantan." ucap Milka dengan nada kecewa.
Ken menghentikan kegiatannya. Dia mematikan keran, lalu mengelap tangan dengan pakaiannya sendiri.
Setelah itu, Ken menangkap bahu Milka dengan kedua tangannya dan menarik Milka sedikit mendekat dengan posisi mereka saling berhadapan.