Love U My Bodyguards

Love U My Bodyguards
Sial



Jo kesal karena Ken mengusir dan juga mengunci pintunya dari dalam. Tapi, di tengah keresahan nya, Jo tampak melihat seorang wanita yang tadi diusir juga oleh Ken.


"Kamu kan yang tabrak aku. Kenapa kamu bisa kenal Ken?" teriak Jo pada wanita ramping di depannya yang sedang menempelkan telinganya di pintu kamar Jessi.


Milka menghentikan kegiatannya dan menengok pada Jo. Sedetik kemudian, Milka tersadar jika Jo memang orang yang dia tabrak tadi siang.


Milka tersenyum kaku. Dia kembali teringat kejadian tadi pagi. Milka baru saja keluar dari kost Jessi dengan menggunakan motor. Tapi karena sedang kesal dengan Ken, Milka tidak melihat ada orang di depannya, jadi tidak sengaja menyerempet dia. Ya, Milka langsung kabur dan tidak menolong Jo. Sungguh sial dia bisa bertemu dengan Jo di sini.


"Kamu harus tanggung jawab. Tangan ku lecet." Jo mencengkram tangan Milka.


"Hey, kamu gak pernah dengar lagu masa lalu?" "Yang sudah ya sudah." sanggah Milka dengan yakin. "Lagian cuma lecet aja udah ribut. Untung gak masuk rumah sakit."


Jo menahan emosinya. Dia sangat kesal karena Milka sama sekali tidak merasa bersalah, malah mengomeli dia.


"Dasar cewek aneh. Kamu ga pernah di ajarin sama orang tua ya?" tanya Jo sinis.


Milka meradang mendengar ucapan Jo. Dia menginjak kaki Jo dengan cukup kuat sehingga membuat Jo langsung melepaskan tangannya dan berganti memegangi kakinya yang nyut-nyutan.


Sementara itu, Milka menatap nanar pria yang telah menyinggungnya. "Ya, aku gak pernah diajar orangtuaku." "Karena aku gak punya orang tua." "Puas kamu?"


"Sorry." Jo langsung meminta maaf pada Milka yang terlihat tidak baik-baik saja. "Kamu benar. Kejadian tadi siang lupakan saja. Sekarang kita bagaimana? Sepertinya Ken dan Jessi tidak akan keluar sampai besok." Jo menghela nafas panjang. Dia harus mengakui jika Ken selangkah lebih maju darinya. Ken sudah mengantongi ijin dari Boy alias kakak Jessi. Sedangkan Jo hanya bodyguard cadangan yang ilegal. Jika Juna tau dirinya di Purwokerto mengejar Jessi, habis sudah riwayat Jo.


"Aku ingin istirahat. Aku akan cari tempat penginapan." Milka berjalan dengan lemas. Dia merasakan moodnya hancur berantakan karena Ken ternyata menyukai Jessica dan perkataan menyakitkan yang terlontar dari mulut Jo.


"Lho, kok aku di tinggal. Hey, tunggu." Jo mengejar Milka. Dia menghalangi jalan Milka.


"Kan urusan udah selesai. Apa lagi sih." kata Milka kesal.


"Kita belum kenalan." "Aku Jonathan Wijaya." Jo mengulurkan tangan pada Milka sembari tersenyum lebar.


"Milka." Jawabnya singkat.


"Jutek amat sih."


"Maaf ya Bapak Jo yang terhormat, saya mau istirahat. Tolong menyingkir." Milka menggeser badan Jo dengan paksa.


Dia kembali berjalan untuk menuruni tangga. Tapi dasar Jo. Dia tidak mau menyerah. Jo mengejar Milka lagi. Sayangnya, karena terburu-buru Jo tersandung. Dia menerjang Milka, sehingga mereka berdua jatuh berguling-guling dari tangga.


"Awwww.. punggungku." Milka berteriak kesakitan. Apalagi saat ini posisi Jo menindih badannya.


"Sorry..." ucap Jo sambil meringis. Dia segera bangun dari tubuh Milka.


"Sial sekali aku hari ini." omel Milka. Dia menepuk celananya yang kotor terkena debu. Dia menatap Jo dengan sinis, sampai Jo jadi jiper dan tidak berani menatap Milka.


"Tunggu Mil.." Jo sekali lagi menahan tangan Milka.


"Aku obati dulu lukamu." ucap Jo dengan hati-hati.


Milka tersadar. Dia melihat darah segar keluar dari siku kanannya. Akhirnya Milka menurut. Mereka duduk di sebuah bangku kayu di bawah pohon besar depan kost.


"Tunggu sebentar." Jo berlari cepat keluar kost, tepatnya menuju apotik yang terletak dekat kost Jessi.


Tidak sampai 5 menit, Jo kembali dengan membawa bungkusan berisi betadine, hansaplast, dan alcohol swab. Dia segera mengobati luka Milka yang terlihat cukup parah.


Sementara itu Milka tampak pasrah saja. Luka di dahinya belum sembuh, kini dia malah terluka lagi. Berdekatan dengan pada bodyguard orang kaya membuat Milka malah ketiban sial.


"Aku akan antar kamu ke tempat penginapan." ucap Jo yang tengah meniup siku Milka supaya alkoholnya cepat kering.


"Gak perlu. Aku bisa sendiri." jawab Milka ketus. Dia tidak ingin menambah kesialan lagi hari ini.


"Jangan ngeyel. Kamu itu perempuan. Kalau ada orang jahat gimana?"


Milka menghela nafas panjang. "Terserah kamu sajalah." ucapnya pasrah.


Jo tersenyum. Dia sudah menambal luka Milka dengan hansaplast. Sekarang Jo tinggal mengantar wanita itu mencari penginapan.


Jo meregangkan badannya yang pegal. Dia lalu mengambil motor yang terparkir tidak jauh darinya. Tapi ekspresi Jo berubah ketika dia tidak dapat menyalakan motor sewaan itu. Dia mencoba metode lain dengan menggunakan kick starter.


Milka beranjak dari duduknya. Dia mendorong tubuh Jo, sehingga Jo terhuyung ke samping. Milka kemudian berjongkok untuk mengecek bagian kabel bawah motor dan businya.


"Eh, jangan di utak atik. Nanti rusak." cegah Jo.


"Tolong diam 10 menit saja." jawab Milka yang tidak ingin Jo mengganggunya.


Jo menutup mulutnya sesuai arahan Milka. Dia diam sambil menatap cemas pada Milka yang sudah mengutak atik bagian dalam motor. Apakah wanita ini paham tentang motor? Dari wajahnya Milka tampak seperti anak manis yang biasa duduk di meja kantoran.


'Greeng' motor Jo benar-benar menyala.


Jo melongo menyaksikan Milka yang berhasil memperbaiki motor. Ternyata memang benar pepatah yang mengatakan don't judge a book by its cover.


"Daebak.. Kamu keren banget." puji Jo sambil bertepuk tangan takjub.


"Silahkan pergi. Aku mau tetap cari penginapan sendiri." Milka memutuskan untuk tidak menerima tawaran Jo. Dia melambaikan tangan, lalu langsung pergi dari hadapan Jo.


"Milka..aku juga akan menginap denganmu." teriak Jo.


Milka mempercepat langkahnya supaya Jo tidak mengejarnya.