
Jessi menguap untuk yang keseratus kalinya. Siang ini Jessi sangat mengantuk. Ini gara-gara Ken yang memaksanya bangun pagi dan masak. Tapi, pria itu tampak cuek saja. Dia masih duduk santai sambil memandangi Jessi.
"Bodyguard mu ganteng sekali." bisik Sela yang menatap Ken tanpa berkedip. Jelas saja dia terpesona pada Ken. Penampilan Ken sekarang jauh lebih trendy dan membuat otot-ototnya terlihat jelas.
Jessi sangat puas dengan pilihannya. Dia bukan hanya bisa mendesain interior, tapi juga bisa menjadi stylish beruang madu.
"Ya, dia memang punya badan yang bagus." aku Jessi.
"Kenalkan aku padanya." pinta Sela dengan penuh harap. Ya, sejak insiden kopi, Sela jadi merubah pandangannya pada Jessi. Dia pikir Jessi mudah di tindas dan akan tidak betah, tapi ternyata Jessi cukup easy going dan tidak mudah sakit hati.
"Percuma, dia tidak suka wanita." ucap Jessi sambil tertawa.
Sela membulatkan matanya. "Maksudmu dia itu.."
"Bukan.. Maksudnya dia tidak berniat untuk pacaran atau menikah." ralat Jessi. Dia tidak boleh menjatuhkan harga diri Ken juga. Biar bagaimanapun Ken adalah bodyguardnya. Kalau nama Ken jelek, namanya juga pasti akan terbawa-bawa.
"Ooo.." Sela hanya mampu meng-oh kan ucapan Jessi.
"By the way, kenapa tidak ada konsumen juga? Apa perusahaan ini tidak bangkrut kalau begini terus?" tanya Jessi bingung. Kerjanya sejak kemarin hanya duduk saja.
Sela tertawa keras. "Kenapa kamu memikirkan sampai sejauh itu? Yang penting kita tetap di gaji, kan?"
'Kalau aku punya pegawai seperti dia, sudah pasti akan langsung aku pecat.' ucap Jessi dalam hati.
Jessi bangkit berdiri. Dia menyisir rambutnya dengan jari, lalu dia memastikan jika dirinya sudah rapi dan terlihat cantik. Setelah itu, Jessi berdiri di depan. Dia tersenyum pada setiap orang yang lewat. Sesekali dia menyapa orang yang melihat ke arahnya.
Ken yang melihat itu hanya mampu terbengong. Syaraf gadis itu pasti sudah putus.
"Silahkan mampir pak.." teriak Jessi.
Seorang pria mendekat. Dia tertarik pasti karena Jessi bukan dengan interiornya.
"Mba jualan apa?" tanya orang itu penasaran.
"Kami jual jasa pak, untuk desain rumah bapak supaya lebih nyaman."
"Seperti apa contohnya?"
Jessi membawa Bapak itu masuk. Dia lalu menunjukan beberapa contoh desain yang kira-kira cocok untuk Bapak yang tampak sederhana itu.
"Jadi, bapak tidak harus mengubah semua. Yang bapak inginkan saja." kata Jessi dengan semangat.
"Wah, boleh saya coba. Saya suka yang seperti ini. Tapi, apakah lama? Saya harus pergi akhir pekan ini." tanya Bapak itu.
"Tenang saja, tidak akan lama. Ini akan selesai 2 hari lagi." ucap Jessi percaya diri.
Sela melotot mendengar janji Jessi pada pelanggan pertamanya. Dia menyenggol Jessi untuk memberitahu dia tentang pengerjaan yang bisa menghabiskan waktu 1 minggu. Tapi, Jessi tidak menanggapi Sela.
"Senang bisa bekerja sama dengan Bapak. Semoga Bapak suka hasilnya dan juga bisa promosikan pada teman Bapak yang lain." Jessi menyalami Bapak itu sambil memberikan senyum terbaiknya.
"Jess, siapa yang mau mengerjakan itu dalam 2 hari?" tanya Sela bingung.
"Ya tukang di sini. Memang gak bisa?"
Sela menepuk jidatnya. Dia sudah tidak bisa membantu Jessi jika seperti ini.
"Emm.. kalau begini, aku harus gunakan cara lain." Jessi teringat sesuatu yang bisa membantunya.
Jessi berjalan ke arah Ken. Dia melepaskan gelang tangannya, lalu memberikan pada Ken.
"Ken, tolong jual ini."
"Lho, kenapa di jual?" tanya Ken bingung.
"Untuk membayar sesuatu." jawab Jessi asal.
"Saya tidak akan menjual jika alasannya tidak jelas."
"Ya ampun,, kamu kaku sekali." "Kamu lihat tadi kan, ada customer yang minta cepat. Jadi aku mau panggil tim ku ke sini." "Aku butuh uang, Ken."
"Nona, anda itu mau kerja atau mau beramal?" omel Ken.
"Kerja lah, Ken." "Ini justru namanya totalitas kerja."
"Ternyata anda lebih absurd dari kakak anda yang aneh itu." sindir Ken yang tidak tau bagaimana cara kerja otak Jessi.
"Jadi mau bantu atau enggak? Kalau enggak, aku jalan aja sendiri." Jessi hendak merebut kembali gelang yang sudah ada di tangan Ken. Tapi, Ken dengan cepat menutup tangannya.
"Nanti saja, saya jual saat makan siang." Ken menyimpan gelang Jessi di saku celananya.
"Nah, gitu kek dari tadi." "Thank you my bodyguard." Jessi kembali menunjukan ekspresi senang. Dia kembali ke tempatnya dengan perasaan tenang. Sekarang tinggal menghubungi tim dekornya yang berada di Jakarta. Mereka yang akan membereskan pekerjaan Jessi.
"Gimana? Kamu sanggup gak?" tanya Sela yang penasaran.
Jessi tampak begitu santai menghadapi masalah ini. Dia sama sekali tidak panik atau bingung.
"Beres. Mba tinggal tunggu aja hasilnya. Pasti pelanggan tadi puas." Jessi melipat kedua tangannya di dada.
"Aku ga mau ikut campur kalau pelanggan tadi ngomel."
"Tenang aja mba.. Hasilnya pasti akan memuaskan." ucap Jessi bangga. Tim nya adalah yang terbaik di Jakarta. Belum pernah ada pelanggan yang komplain jika Jessi menggunakan jasa mereka.