
Setelah drama tersedak karena pertanyaan "Siap menikah?" Jessi akhirnya bisa makan dengan tenang. Dia makan dengan lahap sampai tidak tau jika 2 orang pria yang berada di meja itu sedang menatapnya.
"Jess,, kamu sungguh unik." Martin memberikan tisu pada Jessi karena mulut Jessi belepotan saus.
Jessi menerima benda itu tanpa banyak bicara. Dia sedang menikmati makanan yang entah kenapa terasa begitu enak. Memang benar kata orang. Kalau lapar semua makanan akan terasa enak.
"Jadi, kenapa wanita secantik kamu belum punya pacar?" tanya Martin lagi.
"Thanks untuk pujiannya." Jessi meletakkan sendoknya perlahan. Pertanyaan Martin sungguh sangat sensitif untuk Jessi. "Aku belum punya pacar karena belum ada yang cocok."
"Apa kriteria pria idaman kamu?"
Jessi tampak berpikir sejenak. Dia sendiri tidak punya kriteria khusus dalam memilih pasangan. Jessi bisa beradaptasi dengan siapapun. Dan rata-rata pria yang berada di dekat Jessi merasa nyaman pada wanita itu.
"Yang jelas pria yang waras dan tidak suka PHP." kata Jessi sambil menekankan kata PHP.
Martin mengangguk tanda mengerti. Dia baru pernah menemui wanita yang pemikirannya begitu sederhana. Biasanya jika ditanya seperti itu, para wanita akan menjawab berbagai kriteria yang sangat sulit dipenuhi. Ganteng lah, kaya lah, macho lah, humoris lah. Jika hanya waras dan tidak PHP, sepertinya Martin masih memiliki kesempatan untuk mendekati Jessi.
"Bapak sendiri, kenapa gak nikah-nikah padahal sudah kepala 4? Apa bapak terlalu pilih-pilih?"
"Emm.. sebenarnya gak juga sih. Saya hanya mencari wanita seperti kamu, tapi gak ada." "Syukurlah sekarang saya bisa ketemu sama kamu." jawab Martin penuh arti.
"Ah, bapak bisa aja gombalnya."
"Serius, Jess." "Kenapa kita gak coba saja saran orangtua kita?"
"Maksudnya?" Jessi mengernyitkan dahi meskipun dia mengerti maksud dari Martin.
"Kenapa kita gak coba untuk saling mengenal lebih jauh dan pacaran dulu?"
Deg. Jessi terdiam. Dia menatap Ken, dan pria itu juga memandang Jessi dengan rasa penasaran. Untuk beberapa detik, pandangan mereka bertemu.
"Maaf, saya ingin ke toilet dulu." Ken menarik kursinya, lalu dia buru-buru pergi ke belakang. Dia tidak ingin mengganggu momen Jessi dan Martin.
Setelah Ken pergi, kini tinggal Jessi dan Martin yang saling diam.
Sebenarnya, ini bukan pertama kali Jessi ditembak oleh pria. Martin juga bukan orang yang jelek. Dia tampan dan pintar. Tapi, entah kenapa Jessi tidak excited seperti biasanya.
"Pak, tapi akan sangat tidak nyaman kalau kita ada hubungan di tempat kerjaan yang sama." ucap Jessi lirih.
"Aku jarang ke outlet Jess. Aku mengurus pekerjaan dari rumah. Jadi itu bukan masalah." kilah Martin. Dia memandang Jessi dengan penuh harap. "Apa kamu sudah menyukai seseorang?"
"Bukan itu, pak, tapi..."
*
*
*
"Sampai ketemu besok, Jess." Martin memeluk Jessi singkat sambil menepuk punggungnya pelan.
"Baik, Pak. Hati-hati di jalan." Jessi tersenyum lebar pada Martin.
Dia menunggu Martin yang masuk ke mobil lebih dulu. Sekali lagi, Martin melambaikan tangan pada Jessi dari mobilnya sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan restoran.
"Ayo Ken. Aku sudah mengantuk sekali." Jessi berjalan ke mobil mereka. Seperti biasa, Ken membukakan pintu mobil untuk Jessi. Dia juga meletakkan tangannya pada atap pintu supaya kepala Jessi tidak terbentur.
"Tidur saja, nona. Nanti saya akan bangunkan jika sudah sampai." Ken menengok ke arah Jessi seraya menjalankan mobilnya.
"Hmm.. tanggung." jawab Jessi singkat. Jessi tidak terlalu mempedulikan Ken karena dia sedang sibuk mengetikkan sesuatu di ponselnya.
"Apakah tadi berjalan lancar, Nona?" tanya Ken tanpa menengok pada Jessi. Jalanan cukup padat, jadi Ken harus berfokus ke depan.
"Lancar."
"Jadi ada pacaran dengan Pak Martin?"
Tidak ada jawaban. Ken menengok dan Jessi ternyata sudah tertidur dengan ponsel yang masih membuka halaman WA.
"Astaga, katanya tanggung, tapi tidur juga." sindir Ken.
Ken mempercepat laju mobilnya dan menyalip beberapa kendaraan supaya mereka bisa cepat sampai Kost.
Tidak sampai 5 menit, mereka akhirnya sampai. Ken melepas selt belt Jessi. Dia tidak tega membangunkan Jessi karena wanita itu terlihat tidur sangat lelap sampai mulutnya melongo.
Seperti biasa, Ken menggendong Jessi naik ke atas. Karena Ken sudah memegang kunci kamar Jessi, jadi dia sudah tidak bingung jika menghadapi situasi seperti ini.
Ken meletakkan Jessi perlahan di ranjangnya. Rambut Jessi sedikit berantakan akibat tadi dia menggeliat dalam pelukan Ken. Tanpa berpikir panjang, Ken merapikan rambut Jessi dengan satu tangannya.
"Tidur yang nyenyak Jessica. Kamu pasti sangat lelah." ucap Ken lirih. Dia tidak lupa memakaikan selimut untuk Jessi sebelum pergi.
"Ken, ini hanya pekerjaan saja." Ken pada dirinya sendiri. Sejak Jessi mengucapkan kata suka, Ken jadi selalu memikirkan Jessi pada tiap kesempatan.