
Jarak Jakarta-Bali tidak memakan waktu lama. Jo segera melingkarkan tangannya pada pundak Jessi. Dan seperti pertama waktu berangkat, Ken yang membawa koper Jessi dan berjalan paling belakang.
Dia terus memperhatikan Jessi yang masih bisa mengoceh untuk memberitahukan rencananya selama di Bali.
"Aku harus kerja dulu ya Beb..Juna bisa tidak memberiku gaji bulan ini kalau aku gak menemaninya meeting." pamit Jo pada Jessi saat mereka sudah berada di mobil.
"Terus nanti kamu jadi kan ajarin aku surfing?"
"Iya pasti dong. Sebelum sore aku akan balik ke hotel." Jo mencubit pipi Jessi dengan gemas.
Jessi memegangi pipinya yang terasa sakit dan gatal. Apa Jo belum cuci tangan? Kenapa Jessi merasa badannya jadi gatal-gatal saat berdekatan dekat Jo dan disentuh olehnya?
Mobil melaju dengan cepat mengikuti mobil Rolls Royce di depan mereka. Ya, Juna memutuskan berkendara sendiri dan menyewakan mobil lain untuk Jo-Ken dan Jessi. Dia sudah tidak tahan lagi melihat tingkah Jo yang mencoba merayu Jessi. Sepertinya, Jo memang lebih cocok sendiri. Jika dia dekat dengan wanita lain, Juna yang jadi repot mengurus sekretarisnya itu.
Perjalanan ke Hotel Kempinski memakan waktu 20 menit. Jessi turun berdua Ken, sedangkan Jo pindah ke mobil Juna.
"Bye Baby..sarangbeo.." Jo melambaikan tangan sambil berteriak pada Jessi.
Jessi membalas lambaian Jo dengan senyum canggung. Tentu saja Jessi malu dengan tingkah urakan Jo. Hampir seluruh pengunjung dan pegawai hotel di depan menengok ke arahnya.
"Ken, kenapa panas sekali?" keluh Jessi. Dia ingin segera sampai di kamar dan mandi. Tubuhnya gatal-gatal dan mulai muncul bintik merah. Mungkin ini efek cuaca di Bali yang begitu menyengat.
Ken mengantarkan Jessi ke kamarnya tanpa menjawab pertanyaan Jessi. Dia masih mengamati tingkah Jessi sambil berpikir tentang apa yang Jessi makan tadi di pesawat.
Sesampainya di kamar, Ken masuk ke dalam untuk menaruh koper gadis itu. Sedangkan Jessi langsung melenggang masuk ke kamar mandi. Dia sudah melepas outer nya dan hanya menyisakan tank top ketat saja. Baru saja Jessi akan melepaskan celana jeansnya, ponsel Jessi berdering. Sania calling..
"Jess, apa kamu sudah sampai?" tanya Sania panik.
"Sudah mom. Baru saja sampai."
"Syukurlah." "Apa Ken jaga kamu dengan baik?" "Coba kamu kirim foto temanmu. Biasanya kamu suka upload di medsos." cecar Sania.
Jessi merasakan kepalanya berdenyut. Entah karena pertanyaan-pertanyaan Sania atau karena dia mabuk udara. Jessi sampai harus berpegangan pada dinding supaya tidak limbung.
"Sebentar Mom..Hoek." Jessi segera berlari ke closet. Dia memuntahkan isi perutnya di sana. 'Hoek'
Ken yang mendengar Jessi muntah-muntah segera masuk ke dalam kamar mandi.
"Nona, anda kenapa?" Ken membantu Jessi dengan memijit tengkuknya supaya Jessi lebih lega.
"Ken, sepertinya ada yang salah. Hoek"
"Ya, tentu saja. Kamu selalu gak pernah lihat apa yang masuk." Jelas Ken dengan kesal. Jika sudah memegang kerjaan atau ponsel, Jessi tidak pernah melihat makanan apa yang masuk ke dalam mulutnya.
"Mana aku tau Ken. Aku kan cuma menikmatinya saja."
"Ya,seharusnya kamu itu bisa rasakan bedanya, Jessica." Ken membantu Jessi menekan tombol closet. Dia juga mengambil beberapa tisu di wastafel untuk mengelap sisa cairan di mulut Jessi.
"Ya, kita perlu ke dokter."
"Gak mau, Ken." Jessi menahan tangan Ken.
"Enggak. Pokoknya kita harus ke dokter supaya semua jelas." "Aku harus bertanggung jawab atas semuanya, Jess." Ken dengan paksa menarik Jessi keluar. Tadi Ken bisa tau tentang rencana Jessi ke Bali karena kebetulan mendengar percakapan Boy dan Marsha di kamar. Sepertinya Boy masih menyadap ponsel Jessi karena penasaran dengan kisah cinta adiknya itu.
"Keeeen" teriak Jessi. Dia meronta dengan kuat sampai menjatuhkan ponselnya.
Ken yang tidak sabar akhirnya menggendong Jessi ala karung beras. Dia mengambil kunci mobil di meja, lalu pergi keluar hotel. Ken jelas harus membawa Jessi ke dokter karena alergi Jessi kambuh. Jo tadi menyuapi Jessi roti coklat dan sepertinya Jessi tidak sadar apa yang dia makan. Jadi wajar jika Jessi muntah-muntah, pusing dan gatal. Itu karena dia alergi coklat.
*
*
*
Sementara itu, di ujung sana Sania mendengar semua percakapan Jessi dan Ken. Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika menyadari sesuatu yang tidak beres. Jessi muntah-muntah dan Ken bilang dia akan bertanggung jawab. Itu artinya?
"Aaaaaaaaaaaa...." teriak Sania histeris. "Bayuuuu"
Bayu yang baru selesai mandi langsung berlari ke arah sumber suara. Dia melihat Sania sudah berlinang air mata sambil memegangi ponselnya.
"Kenapa sayang?" tanya Bayu cemas.
"Anak kita.." Sania berpegangan pada pergelangan tangan Bayu.
"Apa? Kenapa? Boy atau Jessi?"
"Jessi sayang.." "Sepertinya Jessi hamil." katanya dengan lirih.
"Apaaaaa?" giliran Bayu yang berteriak.Dia memegang pundak Sania dengan kuat. "Kamu dapat informasi dari mana? Siapa yang berani lakukan itu pada putri kesayangan kita?"
"Aku dengar dia muntah-muntah tadi di telepon dan.." Sania berhenti sesaat.
"Cepat bilang, siapa!" bentak Bayu. Dalam 30 tahun lebih pernikahannya, ini pertama kali Bayu membentak Sania dengan begitu keras. Dia juga tidak sadar karena terlalu shock dengan berita ini.
"Ken."
"Ken, maksudmu bodyguard Marsha itu?" Bayu tercengang. "Ini gila."
"Kita harus cepat susul mereka ke Bali." saran Sania.
"Oke, aku akan siapkan pesawat sekarang juga."