
Jessi tidak bisa melakukan apapun selain mengikuti kemauan Jo untuk glamping alias camping di alam terbuka. Untung saja Jo memberikan sebuah cottage, sehingga Jessi tidak berasa seperti anak pramuka. Ya, cottage itu seperti kamar mini dengan ukuran 2x2 saja. Ada beberapa cottage berejejer dengan jarak cukup jauh. Dari luar, tempat itu sangat unik seperti rumah kurcaci yang terbuat dari kayu. Tapi meskipun namanya cottage, tetap saja udara dingin dapat menembus masuk ke dalam, sehingga Jessi kedinginan.
"Jessi.. kamu bodoh sekali, seharusnya sejak awal kamu jangan minta jalan-jalan." dia bermonolog sendiri sambil memasang selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"Anda bicara apa, nona?" Jo tiba-tiba masuk tanpa permisi. Dia sebenarnya mendengar Jessi mengomel. Tapi dia sengaja ingin menggoda Jessi.
"Jo, sudah sana. Jangan ke sini. Aku masi marah padamu." ucap Jessi dengan gigi yang bergemelutuk.
"Nona, dengan begini anda bisa jadi belajar bersyukur. Anda sangat beruntung dilahirkan dari keluarga kaya raya."
"Tidak perlu seperti inipun aku sudah bersyukur setiap hari, Jo."
"Ya, aku percaya." kata Jo sambil cekikikan.
"Ini nona. Pakai selimutku." Jo datang ke cottage Jessi hanya ingin memberikan selimutnya untuk Jessi karena dia tau wanita itu pasti kedinginan.
"Ini tidak pengaruh, Jo." Jessi tetap menerima selimut Jo meskipun mulutnya masih protes dan mengomel.
"Anda ingin lebih hangat lagi?"
"Iya. Apa ada selimut lagi?" tanya Jessi semangat.
"Ya, selimutnya adalah aku." Jo tertawa lebar. "Kalau Anda peluk aku, pasti akan lebih hangat." Dia merentangkan tangannya dengan senang hati.
Jessi melemparkan bantal ke arah wajah Jo. Gombalan Jo sudah sangat parah. Jessi sudah tidak mempan dihujani gombalan seperti itu. Apalagi dari seorang Jo.
"Pergi tidur sana." "Jangan ganggu aku." usir Jessi.
Jessi mengambil bantalnya kembali. Dia sangat lelah setelah seharian ini bekerja dan bermain. Tapi, sebelum tidur, Jessi mengecek ponselnya.Sinyal di sini sangat sulit. Jessi tidak bisa membuka instagram atau bahkan untuk sekedar mengirim pesan pada Momnya.
Sementara itu, Jo tidak langsung masuk ke dalam cottage nya yang berada di sebelah Jessi. Dia berjaga di luar dulu untuk memastikan tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Jo sebenarnya bukan hanya ingin liburan bersama dengan Jessi, tapi dia merasa ada seseorang yang mengikuti mereka. Dia tidak ingin Jessi tau karena nanti wanita itu bisa heboh. Jo juga sudah memberitahu Ken soal ini. Jadi, Ken menyuruh Jo untuk tidak tidur dan bergadang saja supaya Jessi tetap aman.
*
*
*
"Jo, aku mau ke toilet." Jessi menyenggol tangan Jo. Dia tidak berani ke toilet sendiri karena langit masih gelap.
"Hmm.. minggir Jun. Aku masih mengantuk." igau Jo.
"Kamu begitu berdedikasi pada Juna, tapi mau jadi bodyguard ku?" Jessi geleng-geleng kepala sendiri. Jo bahkan sampai membawa Juna ke dalam mimpinya.
Karena sulit membangunkan Jo, Jessi terpaksa pergi ke toilet sendiri. Dia menyalakan senter dari ponselnya untuk mencari toilet. Dia dapat dengan cepat menemukan toilet dari tanda anak panah yang tertancap di sudut-sudut tempat glamping ini.
Jessi berjalan dengan cepat. Dia takut dengan suasana yang sepi dan juga udara begitu dingin. Untuk mengurangi rasa takut, akhirnya Jessi mengalihkan pikiran dengan berbicara sendiri. Dia masuk ke toilet yang terletak di luar.
'Krek' Jessi mendengar suara ranting terinjak di luar. Jantungnya berdegub kencang saat ada derap langkah kaki yang mendekat.
Jessi berdoa dalam hati. Dia sudah selesai buang air, tapi Jessi tidak mau keluar dari situ. Dia juga tidak lupa mengirim WA ke Jo dan Ken untuk meminta bantuan. Tapi, itu percuma. Tempat ini sangat susah sinyal. Sinyalnya datang dan pergi seperti akang Ghosting.
Jessi menunggu sekitar 5 menit sampai suasana kembali hening. Dia akhirnya memberanikan diri untuk membuka pintu toilet. Itupun Jessi harus melongokkan kepala lebih dulu. Saat dirasa aman, Jessi baru berani keluar.
Tapi baru saja berjalan 5 langkah, seseorang menepuk pundak Jessi.
Jessi terkejut bukan main. Dia langsung ambil langkah seribu sambil berteriak. Orang yang menepuk Jessi juga berlari mengejarnya.
Bodohnya Jessi, dia bukan berlari kembali ke cottage nya, malah berlari ke arah hutan. Jessi sudah panik dan dalam otaknya dia hanya ingin melarikan diri. Jessi berlari sekuat tenaga sampai dia merasa pria itu sudah jauh.
Jessi berhenti sejenak dengan nafas terengah-egah.Tapi ketika menengok ke belakang, Kaki Jessi malah tergelincir batu sehingga dia jatuh terpelosok. Jessi sukses meluncur ke bawah dengan tangan menahan supaya dia bisa berhenti.
'Duk' Jessi berakhir ketika badannya menabrak sebuah pohon.
"Awww" Jessi merintih kesakitan karena luka gores di sepanjang tangannya plus badannya yang terkena pohon.
Setelah sadar situasinya dalam keadaan yang buruk saat ini, Jessi segera berteriak meminta pertolongan.
"Jooooo... tolong..." teriak Jessi kencang. Dia harap suaranya cukup keras sehingga seseorang bisa menolongnya.
"Joooo... aku terjebak di sini.."
"Aku tidak mau mati di makan binatang buas Jo.. cepat selamatkan aku.." " Joooo.." "Aku takut Jooo.."