Love U My Bodyguards

Love U My Bodyguards
Siap menikah?



"Nona, bangun." Ken menggoyangkan tubuh Jessi yang sudah tertidur selama 5 jam.


Jessi menggeliat. Dia merasakan badannya pegal-pegal setelah menempuh perjalanan kurang lebih 8 jam.


"Welcome back to reality." ucap Jessi dengan miris. Dia melepaskan selt belt, lalu turun sambil menguap.


"Halo Mba Jessi.. kemana aja nih. Seminggu gak kelihatan." Pak Hadi menghampiri Jessi yang baru saja muncul di kost an.


"Iya Pak, saya balik ke kota." Jessi mencoba memberikan senyuman pada Pak Hadi meskipun dia sedang tidak mood.


"Mba jadi makin cantik saja." puji Pak Hadi.


"Ah, bisa aja Pak Hadi. Aku kan jadi seneng." Jessi menepuk pelan lengan Pak Hadi. Jessi memang sempat melakukan beberapa kali perawatan saat berada di Jakarta. Jessi benar-benar memanfaatkan waktunya ketika berada di sana.


"Terus ini mobil siapa, Mba? Bagus sekali." Pak Hadi beralih pada mobil silver yang dibawa oleh Jessi dan Ken.


"Mobil orang tua pak." kata Jessi merendah. Sebenarnya mobil itu adalah milik pribadi Jessi. Bayu dan Sania menghadiahkan mobil itu sewaktu kelulusan Jessi.


"Pak, saya ke kamar dulu ya. Capek." Jessi berpamitan pada Pak Hadi, lalu berlalu darinya.


Ken membuka bagasi mobil dan menurunkan barang-barang Jessi. Dia lalu mengikuti Jessi ke kamar.


Jessi langsung merebahkan diri di ranjang. Dia membiarkan pintu kamar terbuka karena tau Ken akan masuk dan meletakkan barang-barangnya.


"Nona, saya pergi dulu." pamit Ken.


"Hmmmm"


"Apakah anda butuh sesuatu?"


"Tidak."


Ken tidak ingin mengganggu Jessi lagi. Dia keluar dari kamar Jessi. Tapi, langkah Ken terhenti ketika ponsel Jessi berdering.


"Jo, aku sudah sampai dengan selamat." "Ya, perjalannya sedikit membosankan, tapi it's okay. Aku tidur di mobil." "Ya, mintalah cuti pada Juna dan temani aku di sini."


Percakapan Jessi itu membuat Ken melamun. Dia sampai tidak sadar jika Jessi mendahuluinya, lalu berdiri di depan pintu. Ken tau jika Jessi sedang memberi kode padanya untuk segera keluar.


'BRAK' Jessi menutup pintu dengan keras setelah Ken keluar.


"Wanita itu memang aneh." ucap Ken lirih. Dari tingkah Jessi, jelas sekali wanita itu masih marah padanya.


*


*


*


Jessi menguap untuk yang kesekian kalinya. Dia mengaduk minuman di depannya dengan malas sambil sesekali melihat ke arah pintu masuk restoran. Ya, saat ini Jessi sedang menunggu orang yang ingin berkenalan dengannya. Jessi tidak punya pilihan karena Sania menelepon Jessi hampir setiap menit.


Doa Jessi terkabul ketika pintu restoran terbuka. Seorang pria yang tidak asing masuk dengan pakaian serba hitam plus topi berlogo EXO. Jessi langsung berdiri dari bangkunya. Itu bukan karena Jessi terpesona pada pria itu, tapi dia lebih kearah terkejut. Jelas saja Jessi kaget karena yang datang adalah Bos nya sendiri.


"Pak Martin?" pekik Jessi dengan suara cemprengnya.


Martin tersenyum. Dia sudah diberitahu oleh orangtuanya jika yang akan berkenalan dengannya adalah Jessica Setiawan. Martin awalnya tidak percaya, tapi setelah membuktikan sendiri jika Jessica berada di sini, dia jadi yakin 100% pada orangtuanya.


"Hai, Jess. Kamu sudah kembali?" tanya Martin sembari duduk di depan Jessi.


"Pak Martin gak salah meja?" Jessi menengok ke kanan kiri untuk mencari orang yang akan ditemui Martin.


"Enggak dong. Saya di minta oleh Tante Sania untuk menemui anaknya."


Martin tertawa lepas karana tidak tahan melihat ekspresi kaget Jessi.


"Panggil dengan namaku saja, Jess."


"Tapi, Pak.."


"Sudah, tidak apa-apa. Meskipun saya bos kamu, tapi mulai sekarang kita ini juga teman."


"Bukan itu masalahnya pak. Saya merasa tidak sopan jika memanggil nama saja karena Bapak sudah tua."


Ken yang sejak tadi berdiri di belakang Jessi berusaha mati-matian untuk tidak tertawa dan menjaga ekspresinya untuk tetap cool.


"Ya sudah. Tidak apa-apa.. panggil saja semau kamu." akhirnya Martin mengalah.


Jessi senang karena Martin mau mengalah. Tapi, dia masih canggung dengan situasi ini. Kenapa Mom Sania meminta Jessi berkenalan dengan Martin? Padahal perusahaan yang Martin kelola juga bukan perusahaan besar.


"Bapak kenal dengan Mom Sania?" tanya Jessi sambil memilih menu. "Yang ini, ini dan ini satu mba." ucap Jessi pada pelayan yang menunggu mereka.


"Tidak." "Yang kenal dengan Tante Sania adalah orangtua ku." "Orang tua kita itu adalah teman sekolah."


"Jadi, orangtua bapak itu orang Korea juga?" Jessi sudah berfokus lagi pada Martin.


"Memang saya tidak ada face-face orang Koreanya?" Martin mengerlingkan satu matanya pada Jessi.


"Astaga, sadar umur Pak." Jessi terkekeh melihat tingkah Martin yang berusaha menggodanya.


"Kamu sangat cantik jika sedang tertawa, Jess."


"Ehem.. ehem." Ken berdehem. Dia memegangi tenggorokannya seolah tenggorokannya benar-benar gatal.


"Oh, kenapa bodyguard mu berdiri saja? Duduk saja, Ken." Martin menarik kursi di sampingnya.


"Tidak perlu, dia biasa berdiri." jawab Jessi cepat.


Tapi, sebaliknya Ken malah duduk di antara Martin dan Jessi.


Jessi lumayan terkejut dengan perubahan Ken. Biasanya dia lebih suka makan belakangan atau tidak makan.


Tak lama, pesanan mereka datang. Jessi memesan makanan untuk satu meja sekaligus. Dia sudah sangat lapar karena melewatkan makan siang selama perjalanan.


Ken melihat menu yang dipilih Jessi. Ayam kungpao, sapo tahu, dan udang telur asin. Semua adalah makanan kesukaan Ken. Bagaimana wanita itu bisa tau makanan kesukaannya?


"Ayo, makan." Jessi beranjak dari kursinya untuk mengambilkan nasi untuk pria-pria itu.


"Jess,, kamu sungguh sangat perhatian sekali." puji Martin yang senang dengan manner Jessi.


Jessi hanya membalas dengan senyuman. Dia mempersilahkan mereka untuk mengambil lauk lebih dulu.


"Jadi, apakah kamu sudah siap menikah?"


"Uhuk.. uhuk" Jessi yang baru saja meneguk air putihnya, langsung tersedak begitu mendengar perkataan Martin.


Ken bergerak cepat untuk menepuk-nepuk punggung Jessi. "Anda baik-baik saja, Nona?" tanya Ken cemas.


"Gimana baik-baik saja. Uhuk. Kamu sungguh aneh. Uhuk uhuk." ucap Jessi yang masih terbatuk.


Martin memandang interaksi keduanya yang tampak aneh.