
Jo begitu panik ketika Ken memberitahunya jika Jessi tidak bisa makan coklat. Dia tidak tau jika gadis itu memiliki alergi pada coklat. Setahunya mana ada gadis yang tidak suka coklat? Semua wanita menyukai itu.
Jo terpaksa meninggalkan Juna dan segera pergi ke hotel menemui Jessi. Dia merasa bersalah karena gara-gara dia, Jessi jadi sakit seperti ini.
Jo menyeruak masuk ketika Jessi baru saja menelan obatnya.
"Beb..maaf.." ucap Jo dengan penuh penyesalan. Dia langsung memeluk Jessi yang sedang bersandar pada head board. "Aku gak bermaksud buat kamu kayak gini."
"Jo,, jangan kencang-kencang. Nanti aku bisa mati." Jessi memprotes Jo yang memeluknya dengan begitu erat.
Jo tersadar. Dia melepaskan Jessi, tapi tetap memegang tangannya.
"Katanya kamu menyukai Jessi..tapi kamu gak tau apa-apa tentang Jessi." sindir Ken dengan telak.
Jo menatap ke arah Ken dengan pandangan sinis. "Memangnya kamu tau semua tentang Jessi?"
"Sudah-sudah. Kalian apaan sih. Ini cuma salah paham aja. Aku gak sadar makanan yang di kasih sama Jo. Jadi aku juga salah." Jessi menengahi mereka supaya percakapan itu tidak menjadi semakin panjang. "Ken, makasih udah antar aku ke dokter dan Jo, aku gak marah sama kamu."
"Ken, aku mau bicara dulu dengan Jessi. Kamu bisa keluar dulu?" usir Jo secara halus. Jo harus bicara dengan Jessi sekarang juga.
Ken mengalihkan pandangan dari tangan Jo ke arah Jessi.
Jessi memberi kode pada Ken dengan anggukan. Artinya Jessi memberi kesempatan Jo untuk bicara berdua.
Ken mengalah. Dia pergi keluar dengan perasaan dongkol. Pertama dia ingin menghajar Jo yang membuat alergi Jessi kumat dan kedua dia sangat cemburu melihat Jo memeluk dan memegang tangan Jessi.
"Jess..kali ini aku serius dan gak bercanda." ucap Jo tegas. "Aku langsung lari ke sini waktu tau kamu sakit. Aku gak peduli Juna teriak-teriak dan mengancam akan memecat aku. kamu tau kenapa?"
"Kamu lari beneran?" Jessi terperangah.
"Maksudnya naik mobil Juna." ralat Jo.
"Pantes aja Juna marah. Kamu cari masalah aja sih." omel Jessi. "Lagian ada Ken. Kamu gak perlu khawatir, Jo."
"Jess, bulan itu yang ingin aku denger dari kamu. Tapi, aku buru-buru lari ke sini karena aku sangat menyukai kamu. Apa kamu gak bisa liat ketulusan aku? Dan bukankah kamu nyaman denganku?" Jo menyelidik ke dalam mata Jessi.
"Ya.. kamu sangat lucu Jo. Aku gak perlu jadi orang lain kalau sama kamu.."
Jo merasa lega karena Jessi mengatakan itu. Dia ingin mendapatkan jawaban dari Jessi saat ini juga karena sepertinya Ken juga berkeras mendapatkan Jessi.
"Kamu mau terima aku, Jessica Setiawan?" "Memang aku gak punya apapun yang dibanggakan. Tapi, Juna sudah bilang akan memberikan aku anak perusahaannya jika memang kamu menerima aku. Jadi, kamu gak perlu khawatir soal hidupmu nanti." ucap Jo penuh keyakinan. Dia bisa percaya diri seperti ini memang berkat jaminan dari Juna. Jika berhasil mendapatkan Jessi, maka Juna akan memberikan hadiah berupa salah satu anak perusahaannya untuk Jo.
Jessi merasa seperti mendapatkan angin segar. Dia tidak perlu memusingkan soal finansial lagi. Tapi masalahnya Jessi masih bingung hatinya itu untuk siapa.
"Jo, tapi waktunya belum habis. Dan aku belum berkencan dengan Ken."
'Brak' pintu kamar terbuka. Jessi dan Jo kompak menengok ke arah pintu.
"Jessica Setiawan!"