
Seminggu berlalu. Ken sudah pulih dan boleh pulang dari rumah sakit. Jessi tidak perlu repot-repot mengurus Ken karena Milka menjaga Ken selama 24 jam. Jessi juga jarang bertemu dengan Ken karena dia malas melihat kedua mahkluk itu menceritakan hal yang tidak Jessi mengerti.
Hari ini Ken sudah kembali ke kostnya. Sementara itu, Milka berada di kamar kost Jessi. Ya, Jessi harus rela berbagi kamar dengan Milka karena wanita itu tidak tau harus menginap di mana. Jessi sebenarnya tidak menyarankan Milka untuk tidur di kamarnya, tapi Ken meminta Jessi untuk menampung Milka sementara waktu.
"Apakah kamu bisa cuti lama?" tanya Jessi yang sedang duduk di meja rias untuk mengoleskan krim malam pada wajahnya.
"Emm.. aku freelance." Milka menutup pintu kamar mandi. Dia lalu duduk di sofa sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Jessi dapat memandang Milka yang duduk dibelakangnya dari cermin. Pantas saja gadis itu bisa mengurus Ken tanpa beban. Rupanya Milka pengangguran.
"Tapi, sebelumnya kakak kerja di mana?" tanya Jessi penasaran.
"Aku kerja di club. Tapi, beberapa bulan lalu aku memutuskan berhenti karena tempat itu begitu menakutkan." jelas Milka sambil bergidik ngeri.
"Ooo.. begitu." Jessi hanya ber-oh saja. Tentu saja yang namanya club itu mengerikan.
"Jadi, apa rencana Kak Milka ke depannya?"
"Emmm.. mungkin akan buka bengkel motor."
"Hah?" Jessi terkejut sampai membalikkan tubuhnya ke arah Milka. "Memang Kak Milka bisa perbaiki motor?"
"Ya, aku suka otomotif." Milka berdiri dan mengulet. "Aku ngantuk sekali. Di mana aku bisa tidur?" Milka menengok kanan kiri. Ranjang Jessi memang besar, tapi Milka tidak enak jika harus tidur dengan Jessi. Bagaimanapun juga, status Jessi berbeda dengannya. Dia adalah golongan Sultan.
"Tidur sama aku aja Kak. Ranjangnya luas kok." kata Jessi ramah. Dia tentu masih memandang Milka yang notabene pacar Ken.
"Aku tidur di sofa saja." Milka bergerak ke ranjang untuk mengambil bantal dan selimut.
Jessi buru-buru mencegah Milka. Dia merebut bantal dan selimut Milka supaya dia tidur di ranjang saja.
Milka tetap bersikeras dan akhirnya malah terjadi tarik menarik antara Jessi dan Milka. Keduanya tidak ada yang mau mengalah.
'Duk' keduanya terjatuh ke sisi yang berlawanan setelah selimut yang mereka tarik itu sobek. Pelipis Milka terbentur ke pinggir meja kaca. Jessi yang melihat darah segar keluar dari pelipis Milka langsung berdiri dan menghampiri Milka.
"Kak.. dahimu." teriak Jessi panik. Dia segera mengambil tisu di meja, lalu membantu Milka mengelap lukanya.
'Tok.. tok' terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Nona.."
Jessi secepat kilat membuka pintu.
Ken melihat tisu di tangan Jessi yang penuh darah. Dia lalu memandang Milka yang terduduk di lantai sambil memegangi dahinya.
"Milka!" teriak Ken. Dia memegang tangan Milka, lalu membantunya berdiri dan berpindah ke sofa.
Ken sibuk sendiri mencari kotak P3K di kamar Jessi. Dia juga mengobati Milka tanpa banyak bicara. Untung saja lukanya tidak terlalu dalam dan masih bisa ditutup hansaplast. Yang terpenting, mereka tidak perlu ke rumah sakit untuk menjahit lukanya.
"Kenapa kamu bisa terluka seperti ini?" Ken meminta penjelasan setelah selesai merawat luka Milka.
"Tidak apa-apa Ken. Ini bukan soal besar. Kamu jangan berlebihan."
Ken menengok ke arah Jessi. "Apa yang anda lakukan, nona?"
"Aku?" Jessi menunjuk ke arah dirinya sendiri dengan bingung. "Maksudnya kamu yang menuduh aku membuat dia terluka?" suara Jessi sedikit meninggi.
"Ken, itu bukan salah Jessi. Aku yang keras kepala, padahal Jessi sudah menawarkan untuk tidur di ranjangnya." bela Milka. Dia tau Ken sedang dalam mode marah.
"Cepat minta maaf." Ken tidak mempedulikan Milka dan tetap tidak mengalihkan pandangan dari Jessi.
"Tidak mau. Aku tidak salah." Jessi melengos ke arah lain.
"Nona, anda harus minta maaf." ulang Ken. Dia kini sudah berdiri di depan Jessi yang masih tidak mau memandangnya.
"Ken, aku tidak mau. Aku lebih baik pergi saja cari kost lain." ucap Jessi dengan suara tercekat. Dia kesal sekali pada Ken yang membela Milka. Ken bekerja untuknya, tapi malah membela orang lain.
Jessi melangkah keluar dengan perasaan campur aduk. Dia harus pergi sebelum air matanya turun.
"Nona.." teriak Ken.
"Mil, kamu istirahat saja di sini."
"Tapi, Jessi.." Kata-kata Milka terhenti karena bingung dengan situasi ini. Posisi Milka serba salah. Jika dia pergi, Ken akan marah padanya. Tapi jika dia tetap di sini, Jessi tidak mungkin kembali ke kamarnya.
"Aku kejar Jessi dulu." ucap Ken yang langsung ambil langkah seribu.