
"Nonaaaa.." teriak Jo. Suara yang cempreng itu melengking begitu keras di mall sehingga membuat orang-orang yang berada di sekitar situ menengok. Jo terlihat berbeda hari ini. Dia datang dengan menggunakan jas lengkap plus dasi batik. Jessi sampai mengucek matanya karena tidak percaya jika orang yang berlari mendekat itu adalah Jo.
Mata Ken mengikuti ke arah Jo yang berlari kecil menuju outlet. Ken yang sejak tadi berdiri diam seperti patung, langsung mengikuti Jo dari belakang.
"Hai.. sayangku.." tanpa basa basi, Jo memeluk Jessi dengan erat sembari menggodanya dengan memanggil sayang.
"Jo, kamu salah minum obat ya?" Jessi tidak menolak pelukan Jo, malah cekikikan karena penampilan formal Jo begitu menarik perhatian. Pasti pengunjung mall ini berpikir kalau mereka sedang syuting film atau drama Korea.
"Kamu jangan sembarangan peluk dia." Ken yang baru sampai di outlet dan menyaksikan Jo memeluk Jessi, langsung memisahkan mereka.
"Lho, kenapa?" tanya Jo heran.
"Pertama, dia majikanku. Kedua, dia sudah punya pacar baru. Ketiga, kamu membawa kuman penyakit dan belum di semprot alkohol." ucap Ken yang kini berdiri di tengah Jo dan Jessi.
"Pacar? Really?" Jo menyingkirkan badan Ken dan memandang Jessi untuk menuntut penjelasan darinya.
Ken tersenyum sinis. Dia pasti sangat terkejut sekarang. Sebagai laki-laki, Ken tau jika Jo juga menyukai Jessi.
"Masih ada yang mau denganmu, nona?" ejek Jo.
"Masihlah. Siapa yang bisa menolak gadis cantik seperti aku." Jessi mengibaskan rambutnya ke belakang dengan sombongnya.
"Ya, mereka semua rabun."
"Joooo.." teriak Jessi kesal. Dia mencubit lengan Jo dengan kuat.
"Awwww..sakit." omel Jo.
Keduanya berinteraksi dengan lancar membuat Ken tersisih. Tadinya Ken ingin supaya Jo mundur dari Jessi, tapi sebaliknya dialah yang dianggap seperti manusia transparan yang tidak terlihat. Bagaimana Jessi bisa begitu keliatan ceria dengan Jo? Sementara kalau dengan dirinya, Jessi terlihat murung dan lesu.
"Ken, siapa pacarnya?" tanya Jo yang akhirnya sadar jika ada Ken di dekatnya.
"Tanya saja sendiri." "Aku mau ke toilet dulu." kata Ken dingin. Dia berlalu dari hadapan Jo-Jessi yang sedang bercanda seperti teman akrab.
"Ken kenapa sih Jess? Kamu gak bayar gajinya ya?" Jo bertanya sambil memandangi Ken yang sudah menjauh dari mereka.
Jessi mengangkat kedua bahunya tanda jika dia tidak tau. Mungkin Milka marah pada Ken karena tidak ditemani jalan-jalan.
"Biarin aja. Nanti juga biasa lagi." ucap Jessi yang memutuskan untuk mengabaikan Ken. "Jadi, kenapa kamu ke sini, Jo? Apa ada kerjaan dari Juna lagi?" tanya wanita itu penasaran.
"Emm,, enggak juga sih. Juna pergi keluar negeri. Jadi aku bebas sementara waktu." "Dan aku kabur ke sini." Jo tertawa dengan bangga. Biasanya Jo adalah karyawan teladan yang siap melayani Juna 24jam. Kini rupanya Jo sudah berani pada Juna.
"Gak mungkin Juna pecat aku." "Kerjaan untuk 3 hari ke depan semua sudah beres." "Lagian kalau aku di pecat, aku akan daftar untuk jadi bodyguard resmi Jessica Setiawan." oceh Jo tanpa beban.
"Gak deh. Aku bisa stress kalau punya bodyguard seperti kamu dan Ken."
"Hadeeeh.. pelit amat sih Bu." Jo tampak sedih karena Jessi tidak mau menerimanya sebagai pegawai.
"Biarin aja. Siapa yang suruh kamu ke sini?"
"Ya anda lah."
"Oh iya, lupa."
"Bagus deh ya.. kalau lupa." "Berarti Anda masih manusia, bukan robot." Jo tersenyum pada Jessi. Senyuman lebar yang menghinanya.
"Kamu mau aku hajar ya Jo?" Jessi sudah siap mengepalkan tangan untuk meninju Jo.
"Jangan galak-galak nona. Nanti pacarnya kabur lho."
"Joooo.." teriak Jessi geram.
Pada saat Jo mengangkat kedua tangannya tanda untuk minta ampun, Jessi melihat telapak tangan Jo lecet-lecet.
"kenapa kamu, Jo?"
"Tadi aku ditabrak di dekat kost. Sepertinya dia sedang kesal sampai tidak sadar jika aku sedang menyebrang jalan." "Dasar cewek." umpat Jo. Dia jadi kesal ketika mengingat kejadian sebelum dia pergi ke mall menemui Jessi. Seorang wanita menabraknya dengan menggunakan motor. Untung saja wanita itu sigap mengerem. Jo jadi hanya lecet-lecet saja.
"Aduh.." Jessi tampak prihatin mendengar cerita Jo. "Tapi, aspalnya gak apa-apa?"
Jo melirik ke Jessi sambil memanyunkan bibirnya. "Kamu gak pernah peduli padaku, nona."
"Kenapa aku harus peduli sama kamu?" Jessi tertawa senang karena dia bisa membalas Jo yang selama ini juga selalu mengerjainya.
"Setelah pulang, kita nongkrong yuk makan jagung bakar." ajak Jo.
"Tapi cari yang higienis ya Jo." pesan Jessi lebih dulu.
"Nanti cacing mu juga terbiasa makan-makanan seperti itu, nona."
Mereka berdua asyik mengobrol lama sampai tidak sadar ada dua pasang mata yang mengamati dari lantai atas.