Love U My Bodyguards

Love U My Bodyguards
Jangan macam2



'BUK' seorang pria asia yang melihat Jessica akan di bawa ke mobil segera melayangkan tendangan pada orang itu. Pria yang membuka pintu mobil tersungkur. Sedangkan pria yang membawa Jessi segera menaruh Jessi mobil belakang.


"Jangan macam-macam dengan gadis itu."


"Kamu yang jangan ikut campur urusan kami." ucap Penculik yang sudah menggulung lengan pakaiannya.


Pria dengan rambut spike itu juga melepaskan jaketnya. Dia sudah memasang kuda-kuda untuk siap dengan serangan para penculik itu.


Adegan action terjadi tidak terlalu lama karena pria itu tampaknya sangat ahli dalam bidangnya untuk bela diri.


"Jooo.." Jessi turun dari mobil, lalu segera menghampiri Jo dan memeluknya erat.


Jo yang masih ngos-ngosan sedikit terhuyung menerima pelukan Jessi.


"Kamu tidak apa-apa nona?" tanya Jo sambil mengecek Jessi dari atas ke bawah.


Jessi menggeleng. Dia masih shock dengan apa yang baru saja terjadi. Dia takut jika Penculik itu akan bertindak nekat seperti Max.


"Kenapa anda bisa ada di sini?" tanya Jo bingung. Setau Jo, Jessica berada di Jakarta. Jo juga tidak menyangka jika wanita yang tadi dibawa penculik itu adalah Jessi. Ya, Jo pangling karena rambut biru Jessi berubah jadi coklat.


"Panjang ceritanya Jo. Sekarang, tolong Ken dulu. Aku rasa ada yang salah dengan minumannya." Jessi menarik Jo ke dalam.


Ken tertidur pulas dan tidak bergerak sama sekali ketika Jo membangunkannya.


"Anda ke sini dengan siapa, nona?" Jo bercak pinggang karena Ken ternyata sangat berat. Dia tidak bisa dibangunkan atau dipindahkan.


"Bos ku." jawab Jessi yang juga bingung dengan Ken yang tidur seperti orang mati.


"Anda kerja?" Jo menengok ke arah Jessica.


"Panjang ceritanya, Jo. Panjang."


"Jess, ada apa?" Pak Martin datang dan menghentikan percakapan Jo dengan Jessica.


"Lho, Ken kenapa?" tanyanya bingung.


"Martin Mulyadi." Jo mengenali pria berkacamata yang berdiri di dekat Jessica.


"Jonathan Wijaya?" Jo tak kalah terkejutnya dengan Pak Martin.


"Kalian saling kenal?" Jessi ikut menginterupsi keduanya.


"Ya, kami adalah teman lama." ucap Jo yang kini malah duduk berbincang dengan Pak Martin.


Jessi akhirnya juga duduk di dekat Ken. Sesekali dia mengecek nafas Ken dengan menaruh jarinya dekat hidung Ken.


"Kamu masih bekerja dengan Juna?" tanya Pak Martin yang tampak memandangi Jo dari atas ke bawah. "Kamu cukup trendy sekarang." pujinya.


"Ya, aku masih kerja dengan Juna. Aku ke sini pun dalam rangka mengurus pekerjaan." jawab Jo yang juga memandang penampilan Martin yang seperti oppa oppa Korea versi 40an.


"Wah, kamu bisa di museum kan oleh Juna." sindir Martin.


"Ya, gimana lagi. Pria itu memang tidak bisa jauh-jauh dariku." Jo hanya tertawa mengingat Juna yang selalu mengandalkannya.


"Ayo lah kita ngopi dulu." ajak Pak Martin.


Jo menengok ke arah Jessica dan Ken. Kini yang tertidur bukan hanya Ken, tapi juga Jessica.


"Apa dia minum bekas Ken?" tanya Jo pada Pak Martin.


Jo menatap Martin dengan curiga. Dia yakin ada sesuatu di minuman Ken. Lagipula Jessi sudah tau, kenapa dia juga minum juga?


"Aku harus bawa mereka dulu. Jessi adalah adik teman Juna. Jadi aku harus pastikan dia aman." Jo memutuskan untuk mengurus Jessi dan Ken lebih dulu.


Pak Martin membantu membawa Ken, sedangkan Jo menggendong Jessica.


Dengan susah payah, mereka akhirnya bisa membawa Jessi dan Ken ke mobil.


"Aku baru saja datang, sudah ada masalah di sini." keluh Jo. Dia senang sekali akhirnya bisa tugas di luar tanpa ada Juna. Setidaknya beban Jo berkurang 50%. Tapi, baru saja ingin makan malam, Jo malah mendapati Jessi yang hampir saja diculik.


Kenapa Jessi bisa ada di kota kecil ini bersama Ken? Apa ini berhubungan dengan mantan Jessi?


"Apakah dia kerja dengan mu?" tanya Jo pada Martin yang sedang fokus menyetir.


"Ya, dia kerja dengan sangat baik." "Apakah kamu kenal baik dengan wanita cantik ini?" tanya Pak Martin kembali.


"Ya.. dia adik Boy Setiawan. Kamu jangan macam-macam dengannya, bro." Ucap Jo dengan serius.


"Boy? Maksudmu, Boy yang rambutnya hijau?" Pak Martin meninggikan suaranya.


"Yes.. benar. Pokoknya jangan sampai Boy tau kejadian ini."


Pak Martin mengangguk sambil berpikir. Pantas saja Jessi begitu percaya diri. Dia adik Boy Setiawan yang tersohor di antara pengusaha itu. Boy adalah ahli IT terbaik dan dia selalu membuat program yang bagus untuk beberapa perusahaan besar.


"Aku akan perlakukan Jessi dengan baik." ucapnya dengan penuh arti.


"Ya, pokoknya kamu harus berhati-hati Bro."


Jo memandang bangku belakang. Jessi kini tengah nyenyak sambil memeluk lengan Ken.


'Siapa yang berani mencampurkan minuman Ken dengan obat tidur? Apakah Marco atau.. Martin?' batin Jo dalam hati. Dia juga melihat tingkah Martin yang mencurigakan. Sejak tadi Martin berulang kali mengecek ke belakang menggunakan spion tengah.


"Sudah sampai."


Jo memandang kost tempat tinggal Jessi. Dia tidak menyangka Jessi bisa tinggal di tempat kecil seperti ini.


"Kamu akan turun di sini, Jo?" tanya Pak Martin sambil menurunkan Ken.


"Lho.. Mba Jessi kenapa?" Pak Hadi yang melihat Jessi sedang di gendong seorang pria buru-buru menghampiri mereka.


"Dia hanya tidur, Pak. Di mana kamar Jessica?"


*


*


*


Visual Jo dan Martin



Jonathan Wijaya



Martin Mulyadi