
Ken sudah hampir pingsan setelah mengikuti Jessi naik turun mall. Jessi belanja seperti orang yang kehilangan akal. Dia sama sekali tidak peduli pada Ken yang kerepotan membawakan belanjaannya.
"Nona, stop. Uang anda sudah hampir habis. Jangan belanja lagi." omel Ken dengan sedikit nada ancaman.
"Hah? Apa Ken? Yang benar saja." "Perasaan aku tidak membeli banyak barang. Masa uangnya habis." Jessi tidak percaya pada Ken. Dia mencoba mengingat kembali apa yang dia beli. Tapi dasar Jessi. Dia membeli tanpa melihat price tagnya. Jadi, sampai kepalanya berasap pun, Jessi tidak tau berapa yang dia habiskan hari ini.
"Anda sudah beli 5 tas, 2 sepatu, dan selusin baju." ingat Ken.
Sebenarnya uang Marsha masih ada banyak. Tapi, Ken harus menghentikan Jessi. Dia tidak bisa membiarkan Jessi belanja dengan hedon.
"Kalau anda gak mau pulang, aku akan pulang lebih dulu." ancam Ken lagi.
"Keeeen.. aku baru 5 jam di sini. Kan kamu sudah janji akan temani seharian." komplain Jessi. Bukan keturunan Setiawan namanya jika mereka tidak mau mengalah.
Ken harus menjilat ludahnya sendiri. Dia harus menepati janjinya pada Jessi.
"Oke, tapi aku akan taruh belanjaan kamu di mobil lebih dulu."
"Ya sudah. Cepatlah." Usir Jessi.
"Anda tunggu saja di sini. Jangan ke mana-mana." "Kalau ada apa-apa, cepat hubungi aku." pesan Ken sebelum pergi.
"Kamu makin lama makin cerewet saja." keluh Jessi. Jessi memilih sebuah bangku yang kosong. Kali ini, mata Jessi yang sibuk menjelajah outlet-outlet yang ingin dia masuki.
"Ternyata kamu di sini." seseorang menepuk pundak Jessi.
Jessi menengok dan wajahnya langsung berubah pucat pasi. Sosok tinggi tegap itu sangat tidak asing untuk Jessi.
Jessi langsung berdiri dan mengambil sikap waspada.
"Aku sangat merindukanmu, Sica."
"Bukannya kamu di luar negri?" Jessi mulai ketakutan karena pria itu memandang dengan tatapan elangnya. Pikiran Jessi juga langsung melayang pada kejadian beberapa bulan lalu dimana Leana mengalami kemalangan akibat ulah orang di depannya ini.
"Sica.. aku tidak bisa hidup tanpamu." pria itu memegang tangan Jessica. Dia menggenggamnya begitu erat.
"Marcelino, lepaskan. Kita sudah selesai." Jessica mencoba memberontak. Tapi, tenaganya tidak akan mampu untuk melawan Marco.
"Sica, ayo kita bicara lebih dulu."
"Marco, aku akan berteriak kalau kamu tidak lepaskan aku sekarang juga." ucap Jessi dengan nada tinggi.
"Sica.. sica.. tenang dulu. Aku tidak akan menyakiti orang yang aku cintai." Kata Marco mencoba menenangkan Jessica.
"No. Kamu sudah menyakitiku dan Leana. Aku tidak ingin bicara lagi padamu." Jessi mulai panik. Air matanya bahkan sudah keluar.
Marco melihat ponsel di tangan Jessi. Jessi sudah pasti akan menghubungi bodyguardnya. Jadi, Marco dengan cepat mengambil ponsel Jessi.
"Hey, cepat lepaskan dia." seorang wanita berambut pirang menghampiri Jessi dan langsung merangkul pundaknya.
"Jangan ikut campur, orang asing." kata Marco dengan penuh penekanan.
"Orang asing? Aku temannya. Kami janjian di sini." ucap wanita itu tanpa rasa takut sedikitpun.
Marco tetap tidak melepaskan Jessi. Dia bukan orang bodoh yang percaya begitu saja pada perkataan wanita pirang di depannya.
Akhirnya, Wanita itu menginjak kaki Marco dengan kuat sehingga Marco berteriak kesakitan. Otomatis fokus Marco tersimpangkan. Wanita itu mengambil kesempatan ini untuk melepaskan pegangan Marco dari Jessi serta mengambil ponselnya kembali.
"Kalau kamu berani ikuti kami, kami akan laporkan ke bagian security." wanita itu mengacungkan tangannya ke arah Marco, lalu dia dengan cepat membawa Jessi ke tempat yang lebih aman.
*
*
*
Mereka berdua bersembunyi di toilet wanita. Tempat itu adalah yang paling aman, karena Marco tidak akan menyusul mereka.
"Terimakasih, Ka." ucap Jessi dengan suara bergetar.
"Tenanglah, kamu sudah aman di sini." wanita itu memeluk Jessi sambil mengusap punggungnya.
"Kakak begitu berani." puji Jessi pada wanita di depannya yang begitu manis dengan wajah polos tanpa make up.
"Ah.. itu hal biasa untukku. Aku menemui orang macam itu setiap hari." katanya santai. "Oh iya, kita belum berkenalan. Siapa nama kamu?" "Saya, Milka."
"Aku Jessica."
"Senang bisa bertemu denganmu, Jess." Lagi-lagi Milka menunjukkan senyuman manisnya. "Kamu dengan siapa ke sini?"
"Bodyguardku." Jessi hampir saja melupakan Ken. Dia pasti saat ini sudah sampai di tempat Jessi menunggu tadi.
"Syukurlah." "Jadi, aku bisa pergi sekarang."
"Thanks Kak Milka atas bantuannya." Jessi sekali lagi memeluk Milka sebelum wanita itu pergi.
Setelah Milka berlalu, Jessi segera menelepon Ken. Telepon dari Jessi langsung terhubung pada dering pertama.
"Nona, anda di mana?" tanya Ken panik.
"Aku di toilet wanita, Ken. Tadi.."
"Oke, jangan ke mana-mana. Aku segera ke sana." Ken memotong kata-kata Jessi, lalu telepon terputus.