Love U My Bodyguards

Love U My Bodyguards
Calon suami idaman



"Mooooom" Jessi langsung memeluk Sania begitu sampai di rumah Boy.


"Sayangku... cintaku.. Hunny bunny sweetieku.." teriak Sania senang sambil menggoyang-goyangkan tubuh anaknya dalam pelukannya.


"Daaad" Jessi berpindah untuk memeluk pada Bayu yang berdiri di sebelah Sania.


"Kamu baik-baik saja Jess?" tanya Bayu penasaran. Dia begitu bangga pada Jessica yang masih bisa hidup sampai sekarang tanpa ATM dan juga dengan sisa uang yang minim.


"Aku baik, Dad." Jessi segera menguraikan pelukan Daddy nya. Tapi, tak lama mereka kembali berpelukan bertiga seperti teletubies.


Ken menyaksikan pertemuan Orang tua dan anak itu dengan jarak yang cukup jauh dari mereka. Keluarga Jessi begitu ekspresif sekali. Dia menyambut Jessi seperti anak yang sudah hilang selama puluhan tahun. Padahal Jessi baru pergi selama 2 minggu.


"Dad, kenapa kalian ada di rumah Boy?" Jessi menyadari keanehan yang terjadi di sini. Dia melihat begitu banyak makanan di meja makan. Selain itu, Bayu dan Sania berpakaian begitu rapi dan formal padahal ini sudah larut malam.


"Ada kabar baik, Jess. Sebentar lagi kamu akan punya keponakan." ucap Sania senang.


"Maksud, Mom?"


"Marsha hamil, sayang." Sania mencubit pipi Jessi dengan gemas. Dia sangat senang karena sudah menunggu begitu lama untuk mendengar berita ini.


"Kami ingin mengadakan penyambutan ketika Boy dan Marsha pulang dari rumah sakit." tambah Bayu.


Jessi akhirnya mengerti kenapa Mommy Daddy nya menyiapkan banyak makanan. Dia juga ikut senang karena sebentar lagi Jessi akan punya keponakan.


Reaksi Jessi berbanding terbalik dengan Ken. Pria itu terlihat sedih dalam diam. Ya, sisa-sisa perasaannya pada Marsha ternyata masih ada. Tapi, Ken harus benar-benar melupakan Marsha sekarang. Ken harus move on.


"Maaf Tuan. Ada tamu yang datang." Bibi menghampiri keluarga yang sedang heboh di ruang makan itu.


Mereka semua menengok ke arah orang-orang yang di belakang Bibi. Ada Juna Liem, Tiffany, dan juga Jo. (Kisah Juna Liem bisa di baca di pilihan CEO Tampan)


Pertanyaannya sekarang adalah, kenapa mereka bertiga bisa datang ke rumah Boy juga? Apakah mereka juga ingin menyambut Marsha?


"Ada apa, Jun?" Bayu menyalami Juna karena mereka sudah lama tidak bertemu.


"Hai, ini anak kamu Jun?" Daripada dengan Juna, Jessi lebih tertarik dengan bayi kecil yang di gendong oleh Tiffany.


"Iyalah, tidak mungkin anak Jo." jawab Juna ketus. Dia kesal sekali karena Jo malah mengajaknya pergi ke rumah Boy.


"Maaf Tuan Setiawan, kami hanya mampir." Tiffany membantu Juna untuk menjawab pertanyaan Bayu yang sempat terabaikan karena Juna terlihat sudah kesal.


"Jess, powerbank mu terbawa aku." Jo mengeluarkan benda kotak bewarna pink yang adalah milik Jessi.


"Astaga... cuma powerbank?" "Hey, Jessi tidak butuh itu. Dia bahkan bisa beli 1000 biji kalau powerbank nya hilang." omel Juna.


Tiffany menyenggol Juna karena dia sudah tau modus Jo. Pasti Jo hanya ingin bertemu Jessi. Padahal baru saja Jo diantar ke kantor oleh Ken dan Jessi setelah menempuh perjalanan 8 jam dari Purwokerto.


"Thanks Jo. Tapi kamu memang tidak perlu repot-repot seperti ini." Jessi mengambil powerbanknya, lalu memasukkan di tas.


"Kamu mau gendong Baby Nat?" Tiffany mengoperkan anaknya pada Jessi yang sejak tadi terlihat senang sekali menggoda Baby Nat.


"Lap iler mu, Jo." bisik Juna yang sejak tadi melihat Jo tidak memalingkan wajah dari Jessi yang bermain dengan Baby Nat.


Tingkah Jo tidak beda jauh dari Ken. Dia juga diam-diam memperhatikan Jessi yang begitu ceria bersama dengan bayi Juna itu.


"Ya.. karena semua sudah ada di sini, kita tunggu saja Boy sama-sama." "Sebentar lagi mereka akan kembali."


Bayu mengumpulkan semua supaya lebih ramai. Mereka semua memilih untuk menunggu di ruang tengah supaya suasana jauh lebih nyaman.


Bayu langsung sibuk ngobrol dengan Juna mengenai bisnis. Begitu juga Sania tampak asyik bicara dengan Tiffany yang ternyata memiliki sifat 11 12 dengannya.


Sedangkan trio Jessi-Ken-Jo bermain dengan Baby Nat di sebuah sofa panjang dengan posisi Jessi berada di tengah Ken dan Jo.


"Anda sangat cocok untuk jadi ibu." puji Ken dengan suara lirih.


"Cocok gimana? Liat, tangannya kaku seperti itu." ejek Jo.


"Cih.. Kalau kamu mau gendong, bilang saja Jo." Jessi sudah siap mengoperkan Baby Nat pada Jo, tapi dia merasakan kaosnya basah.


"Aaaaaaaaaaaaaa.. Moooom..Baby nya ngompol." teriak Jessi heboh. Dia langsung berdiri, lalu memberikan Baby Nat pada Ken.


Jo tertawa cekikikan melihat Jessi yang begitu panik.


"Astaga, kamu bikin kaget saja." Sania mengelus dadanya kaget. Dia sempat berpikir jika Baby Nat jatuh dari tangan Jessi. Maklum, Jessi cukup ceroboh. Dia sendiri saja sering keseleo dan jatuh. Apalagi ini, memegang anak orang.


"Saya saja yang menggantinya, nona Tiff." Ken meletakkan Baby Nat di sampingnya.


"Memangnya kamu bisa, Ken?" tanya Juna penasaran.


Ken tidak menjawab. Dia membuka celana Baby Nat, lalu membuka pampers nya yang sudah penuh. Tiffany segera mengambil kresek hitam, lalu memasukkan pampers itu ke dalamnya. Setelah itu, dia memberikan pampers yang baru dari tasnya pada Ken.


Ken mengelap pantat Baby Nat dan sekitarnya dengan tisu basah. Baru setelah itu, Ken memakaikan pampers yang baru.


"Sayang, harusnya kamu belajar dari Ken." omel Tiff pada Juna.


Ya, slama ini Juna hanya bekerja, bekerja dan bekerja. Urusan anak, Tiff yang menghandle semuanya. Juna bahkan tidak tau bedanya minyak baby oil dan minyak telon.


Seluruh ruangan sampai heran menyaksikan Ken mengganti pokok bayi dengan begitu terampil.


"Beruntung sekali yang jadi istrimu, Ken." imbuh Sania. Baginya, Ken adalah calon suami idaman.


"Ken kan sudah punya pacar. Jadi dia memang harus latihan." celetuk Jo.


Jessi hanya terdiam. Dia masih mencerna kata-kata Jo dan Ken di mobil tadi. Jessi pun heran. Dia sudah tidak ingin mengingat hal itu, tapi rasa penasarannya pada Ken malah semakin menjadi-jadi. Seperti apa pacar seorang Ken?


Ken berdiri sambil menggendong Baby Nat yang sudah mulai rewel. Dia mengembalikan anak Juna itu dalam pelukan ibunya karena semua mata memandang Ken dengan penuh keheranan. Ken sungguh tidak nyaman dengan situasi ini. Tentu saja Ken bisa mahir mengurus bayi. Itu sudah jadi makanannya sehari-hari ketika dia masih berada di panti asuhan.


"Hey, sepertinya Boy sudah pulang. Cepat kita menunggu di meja makan." Sania yang mendengar suara mobil memasuki halaman, segera menyuruh semua untuk pindah tempat ke meja makan. Setelah mereka berkumpul, dia mematikan lampu untuk memberi kejutan pada Boy dan Marsha.