
Marsha berulang kali memandang Ken yang sedang berdiri di samping mobil Ferrari nya. Penampilan Ken tampak sangat berbeda dari biasa. Ken menggunakan sleeve lengan panjang dan juga celana jeans. Dia juga mengubah style rambutnya.
"Kamu rapi sekali, Ken. Mau kemana?" tanya Marsha kepo.
"Saya belum minta ijin, nona. Saya hari ini mau menemani nona Jessi jalan-jalan." jawab Ken seraya mendekat pada Marsha.
"Oh,, kamu yakin mau temani Jessi?"
"Apakah tidak boleh, Nona?" "Kalau tidak boleh, saya tidak akan pergi."
"Bukan seperti itu, Ken." Marsha menepuk pundak Ken.
"Pagi, Eonni." Jessi tiba-tiba muncul di belakang Marsha membuat Marsha terkejut.
Jessi melanjutkan dengan cipika cipiki dengan Marsha, lalu dia menoleh ke arah Ken.
"Kamu dapat baju dari mana?" tanya Jessi tanpa perasaan bersalah.
Ken tidak menjawab Jessi karena masih kesal dengan Jessi. Gara-gara kemarin kepergok dengan Jessi, Ken mendapat wejangan(nasehat) dari Bibi sampai jam 2 pagi. Setelah itu, Ken langsung mencari di ponselnya baju online. Untung saja teman Ken ada yang memiliki usaha distro. Kalau sampai Ken tidak menemukan pakaian, sudah dapat di pastikan pagi ini Marsha dan Jessi akan melihatnya dengan boxer saja. Ini semua akibat kerjaan Jessi yang menurunkan kopernya.
Marsha melipat kedua tangan sambil memandang kedua orang yang berada di depannya. Penampilan Jessi juga tidak jauh berbeda dari Ken. Dia menggunakan overall jeans dengan dalaman kaos hitam. Jessi juga memoleskan makeup cukup tebal, dan dia mengepang rambutnya ke samping.
Penampilan Jessi ini sungguh matching sekali dengan Ken. Sama-sama menggunakan baju hitam dengan paduan jeans.
"Kalian mau kemana?"
"Aku ingin ke mall Eonni." "Sudah lama sekali aku tidak menginjakkan kaki di mall yang sesungguhnya." ucap Jessi dengan semangat.
"Di sana dia bahkan ke mall setiap hari." sindir Ken.
"Sudah,, sudah.." "Apakah Boy sudah memberikan kamu ATM?" ingat Marsha. Setahu Marsha, Boy memblokir semua ATM Jessi.
Jessi menepuk jidatnya. Dia lupa satu hal penting itu. Jessi tidak punya uang.
"Ken, sepertinya kita gak usah pergi." kata Jessi yang langsung kecewa.
Marsha mengeluarkan ponselnya. Dia mengetikkan sesuatu, lalu menunjukkan layar ponselnya pada Ken.
"Aku mentransfermu 500 juta." "Belikan apa yang Jessi minta."
"Eonni, serius?" Jessi mengguncang-guncangkan Marsha saking senangnya.
"Nona, tolong pelan-pelan." Ken mengingatkan Jessi karena gadis itu bisa membahayakan Marsha yang tengah hamil muda.
"Aku tau Ken. Kamu cerewet sekali." Jessi menatap Ken dengan sengit. Dia lalu melanjutkan untuk memeluk Marsha.
"Usahamu untuk mendapatkan Ken bagus, Jessi. Pepet terus si Ken." bisik Marsha ketika Jessi memeluknya.
"Ken, jaga Jessi dengan baik. Jangan sampai Jessi terluka atau lecet." pesan Marsha sambil tersenyum penuh arti. "Siapkan kakimu, karena dia lebih parah daripada aku."
Gleg. Ken menelan ludahnya. Ini bukan pertanda yang baik. Jika Marsha shopping saja bisa membuat kaki Ken kram, bagaimana dengan Jessi?
'Tin.. tin..' suara klakson itu membuat Ken dan Marsha menengok ke arah sumber suara. Jessi sudah siap di mobil dan tampak tidak sabar.
"Ken..selamat menikmati hari ini. Tuan putri sudah tidak sabar." Marsha mendorong Ken untuk segera menghampiri Jessi.
*
*
*
"Nona, hati-hati." Ken mengingatkan Jessi dengan nada cukup tinggi.
"Iya, Ken." "Kita beli pakaian dulu untukmu." Jessi mengubah posisi dengan melingkarkan tangannya pada lengan Ken.
Ken melihat tingkah Jessi, tapi dia tidak bisa protes karena Jessi segera menariknya ke salah satu outlet pakaian pria.
"Nona.Ini tidak perlu."
"Apa kamu mau pakai kaos blackpink lagi?" tanya Jessi dengan sedikit mengejek.
"Saya bisa beli sendiri, nona." Ken menyingkirkan tangan Jessi dari lengannya.
"Ken, kamu janji kan temani aku belanja hari ini. Jadi turuti permintaanku. Jangan menolak lagi." Jessi sibuk memadukan pakaian untuk Ken. Seleranya dalam memilih pakaian memang sangat baik. Sekarang Ken tidak perlu mencobanya. Hanya dengan menempelkan pada badan Ken saja, Jessi sudah bisa menilai apakah pakaiannya cocok untuk Ken.
Dalam beberapa menit, Jessi sudah membeli 6 pasang setelan untuk Ken yang semua berbeda warna dan model.
"Pantas saja Marsha berikan banyak uang." ucap Ken lirih. Jessi sangat pintar berbelanja. Dia bisa menghabiskan puluhan juta dalam hitungan beberapa menit.
"Ken, setelah ini aku ingin beli sepatu." Jessi kembali memegang lengan Ken.
Ken sebenarnya tidak ingin seperti ini. Dia selalu berjalan di belakang Marsha. Atau, kalaupun jalan bersama, mereka tidak akan saling menggandeng seperti yang Jessi lakukan sekarang.
"Ken, sebentar. Aku ingin makan es krim." Jessi mengajak Ken untuk berhenti. Dia masuk ke sebuah store ice cream Honey Lane.
Mata Jessi berbinar melihat deretan es krim yang begitu menggoda. Ken menunggu dengan tidak sabar. Namanya wanita, kalau memilih apapun akan selalu galau. Ken memperhatikan sepertinya Jessi bingung untuk memilih es krim apa yang dia inginkan.
"Salted honey ice, satu." ucap Ken pada pelayan yang juga sudah menunggu mereka.
"Keeeen.. kenapa kamu yang pilih?" protes Jessi.
"Kamu pasti suka yang ini, Jess." jawab Ken dengan yakin.
Jessi pasrah menerima ice cream pilihan Ken. Ken tanpa sadar tersenyum kecil melihat ekspresi kecewa Jessi yang seperti anak kecil.
"Ayo, nona kita lihat sepatu." Ken kini yang mengambil inisiatif untuk mengajak Jessi pergi.
Jessi berjalan santai sambil memakan ice cream yang ternyata rasanya cukup enak dan tidak mengecewakan.
"Kamu mau, Ken?" Jessi menyendokkan ice creamnya dan menyuapkannya pada Ken.
Awalnya Ken menolak, tapi karena Jessi mengancam, akhirnya Ken mau juga menerima suapan Jessi.
"Beruang pintar." Jessi tersenyum senang.
Ken menatap Jessi cukup lama. Ada sesuatu yang aneh ketika dia melihat Jessi tersenyum seperti itu.
Jessi yang menyadari tatapan Ken, sedikit melengos karena tatapan Ken begitu membuat Jessi panas dingin.
"Dasar bocah." Ken mengelap sudut bibir Jessi yang belepotan dengan ibu jarinya.
'Apa-apaan ini? Apa jantungku begitu suka dengan Ken?' batin Jessi sambil memegangi jantungnya yang berdegub kencang tiap kali berdekatan dengan Ken.