Love U My Bodyguards

Love U My Bodyguards
Gadis nakal



Ken menyematkan cincinnya ke jari manis Jessi. Dia tidak berhenti tersenyum pada Jessi yang wajahnya bersemu merah. Cincin yang Ken pilih sangat pas untuk Jessi. Tentu saja dia bisa memilih dengan tepat. Waktu menukar gelang Jessi, pegawai toko memberitahu jika Jessi ingin sebuah cincin berlian yang ada di sana. Ya, cincin yang sekarang Ken berikan adalah cincin yang sama dengan permintaan Jessi.


Jessi masih belum percaya dengan cincin yang sekarang sudah melingkar di jari manisnya.


"Ayo kita kembali ke Jakarta." Bayu berdiri untuk mengakhiri semuanya.


"Dad,, boleh kah aku jalan-jalan sebentar di sini dengan Ken?" pinta Jessi memelas.


"No." teriak Sania. Dia masih trauma dengan kejadian tadi. Sania tentu takut Jessi dan Ken akan melakukan macam-macam karena mereka sudah tunangan.


"Ken, jangan berbuat macam-macam pada Jessi. Aku akan memasukkan kamu ke sel jika kamu berani menyentuh putriku sebelum waktunya." ancam Bayu. "Kami tunggu di Jakarta dan kalian sudah harus tentukan tanggal pernikahan kalian."


Bayu menggandeng Sania untuk Pergi. "Tapi, sayang.. mereka.."


"Mom...tenang.. Ken tidak akan macam-macam." Boy ikut mendorong Sania pergi. Dia juga tidak mau lebih lama lagi di Bali karena Boy sudah merindukan Baby L dan tentu saja istrinya yang cantik.


Dalam sekejap mereka bertiga sudah keluar. Ken dan Jessi sekarang sudah berdua saja di kamar.


"Ken..makasih." Jessi memeluk Ken erat. Dia sudah sangat rindu dengan beruangnya. "Apa masih sakit?" ucap Jessi seraya menyentuh sudut bibir Ken yang terluka.


"Sudah gak lagi karena aku sudah dapat obatnya." Ken mengerlingkan matanya dengan genit.


"Ken, kamu bisa merayu juga." Jessi mencubit pinggang Ken. Tapi detik berikutnya dia sadar kalau Ken baru saja dihajar oleh Boy. Tubuhnya pasti masih pegal-pegal. "Sorry, Ken."


"Lakukan apa yang kamu mau, Jess." "Maksudku dalam taraf yang wajar." ralat Ken buru-buru.


"Yaaaah.." ucap Jessi kecewa.


'Pletak' Ken menjitak kepala Jessi dengan pelan. "Singkirkan pikiran mesum mu itu." "Kamu gak dengar tadi Om Bayu bilang apa?"


"Ish.. siapa juga yang mesum." elak Jessi.


"Kamu mau jalan-jalan ke mall mana?"


"Keeen.. romantis lah sedikit." omel Jessi. Apa dalam pikiran Ken, Jessi hanya suka mall saja? Meskipun itu 90% benar, tapi ini momen spesial mereka. Jessi ingin makan malam berdua di pinggir pantai dengan segelas wine dan sebuah buket bunga yang besar.


"Aku bukan Jo. Jangan harapkan aku bertindak romantis atau menebak isi pikiranmu." jawab Ken datar.


"Ya..ya.. Aku ingin kita candle light dinner di pinggir pantai."


"Nah, gitu.. anak pintar." Ken mengelus pucuk kepala Jessi. "Katakan jika kamu ingin sesuatu."


"Oke, aku akan siap-siap dulu." Jessi beranjak dari kursinya. Tapi sebelum dia pergi, Jessi mengecup pipi Ken cepat.


Ken memegangi pipinya yang bekas di cium oleh Jessi. Senyumnya terkembang sambil memandang Jessi yang sudah kabur ke kamar mandi. "Gadis nakal."


*


*


*


Jo meratapi nasibnya dengan merengek pada Juna. Sepanjang koridor bahkan sampai di lift, Jo terus memegangi lengan Juna layaknya anak kecil yang frustasi gara-gara permintaannya tidak terkabul. Dan akibat tindakan Jo itu, orang-orang di sekitar mereka langsung berbisik-bisik untuk bergosip mengenai kedekatan mereka.


"Minggir, Jo." Juna menjauhkan kepala Jo, tapi Jo tetap menempel seperti perangko.


"Jangan lebay. Masih banyak gadis cantik lain."


"Kamu selalu bicara kayak gitu. Basi banget, Jun." balas Jo dengan gaya informalnya. Juna bukan saja bos, tapi juga sahabatnya. Jika di luar kerjaan, Jo bisa bicara informal dengan Juna.


"Gimana lagi. Makanya cari calon istri itu yang normal. Yang seimbang." Juna memperagakan dengan kedua tangannya yang di jejerkan seperti timbangan.


"Tiffany pun gak seimbang sama kamu." protes Jo.


"Sekarang seimbang." "Sudah lah. Move on. Aku doakan kamu bisa bertemu dengan wanita yang sangat cantik dan bisa menerima kamu apa adanya."


"Tapi perusahaannya jadi, kan?"


"Jangan mimpi. Aku sudah bilang, itu kalau kamu bisa dapatkan Jessi." ucap Juna penuh penekanan. Dia kali ini benar-benar menyingkirkan Jo sekuat tenaga. Juna lalu berjalan lebih dulu supaya Jo tidak memegangnya lagi.


"Juuuun..kamu sungguh gak mengerti aku." teriak Jo.


"Aku gak kenal dia." ucap Juna pada orang yang memandangnya dengan negatif.


Jo mengejar Juna dengan cepat. Dia bahkan merebut kunci mobil dari tangan Juna, lalu berlari masuk ke mobil Juna yang terparkir tepat di depan pintu utama hotel.


Juna masih positif pada Jo, jadi dia biarkan saja Jo untuk mempersiapkan mobil seperti biasa. Tapi tepat saat Juna akan menarik handle pintu mobil rolls Royce nya, Jo menjalankan mobil itu.


"Jun, aku harus healing dulu. Pinjam mobilnya ya.." Jo melambaikan tangan dan benar-benar meninggalkan Juna di depan hotel.


"Dia cari mati." "Joooooo!" teriak Juna kesal.


Jo menjalankan mobil Juna dengan kecepatan penuh. Dia ingin pergi ke pantai dan meluapkan segala perasaan kecewanya di sana. Baru kali ini Jo merasakan sakit tapi gak berdarah.


Jarak hotel dengan pantai tidak terlalu jauh. Jo bisa sampai hanya dengan 5 menit berkendara. Jo turun dari mobil. Dia merasakan angin segar langsung menerpa wajahnya.


"Aaaaaaaaaa.. kamu jahat sekali Jesicaaaaaa" teriak Jo sekerasnya.


'BRUK' seseorang berlari ke arah Jo dan langsung menubruknya. Jo terjatuh bersama dengan wanita berambut coklat muda itu. Posisi mereka saat ini begitu dekat tanpa ada jarak satu centipun.


"Tolong aku,,, aku mohon. Aku akan kabulkan apapun permintaan kamu asalkan kamu mau menuruti aku."


"Kamu gila ya? Aku gak mau. Kenal juga enggak." tolak Jo mentah-mentah. Dia sudah siap mengangkat badan Milka dari tubuhnya.


"Aku Milka Sutandi. Kamu tau kan, keluarga Sutandi yang kaya raya itu?" ucap Gadis itu cepat.


Mendengar nama Milka, Jo behenti. Sutandi? Dia kenal salah satu satu keluarga Sutandi yaitu Michael. Michael pernah merebut calon istri Reno Sebastian yang notabene adalah teman Juna.(baca Happy ending ya..) Kenapa gadis ini bisa sampai minta tolong? Apa ada orang jahat yang mengejarnya? Dan sepertinya Milka tidak sadar jika orang yang berada di bawahnya adalah Jo. Sejak tadi Milka tidak menengok pada Jo dan hanya memandang dada bidang Jo.


"Oke. Apa yang harus aku lakukan?"


"Ada orang yang mengejarku. Aku akan pura-pura mati." jelas Milka singkat.


"Hey, apa gak ada alasan yang lebih masuk akal?"


"1..2.. 3.." Milka menghitung, lalu dia menutup mata.


"Cepat bangun, nona Milka." 2 orang pria berjas hitam menghampiri Jo dan Milka yang masih tiduran di pasir.


"Dasar gadis nakal." bisik Jo. Dia harus bagaimana sekarang?