Love U My Bodyguards

Love U My Bodyguards
7.Beruang madu



Ken mendapat tugas khusus dari Boy ketika majikannya itu berada di Korea. Dia harus menjaga adik Boy yang 11 12 absurd nya dengan sang kakak, alias Jessica Setiawan, alias si rambut Biru. Awalnya Ken menolak secara kasar, karena menjaga Jessi bukan bagian dari pekerjaannya. Pekerjaan Ken sesungguhnya adalah menjadi bodyguard Marsha Lee yang sekarang sudah menjadi istri Boy.


Selain itu menjaga Jessica adalah pekerjaan yang begitu berat. Ken lebih memilih untuk menjaga harimau daripada mengawasi Jessi.


Tapi, karena Boy membawa nama Marsha dan bilang kalau ini untuk kenyamanan bersama, akhirnya Ken setuju untuk mengawasi Jessica selama berada di kota kecil ini.


Ken datang saat subuh dengan menggunakan Ferrari milik Marsha. Dia sengaja tidak langsung menemui Jessica karena ingin melihat bagaimana kehidupan anak manja itu di kota kecil.


Beberapa jam menunggu, Jessi muncul dengan pakaian rapi. Dia juga bicara sendiri sambil jalan menggunakan payung. Ken cukup takjub karena seorang keturunan Setiawan mau berjalan kaki.


Ken perlahan mengikuti Jessi dari belakang dengan berjalan kaki juga. Dia melihat semua yang terjadi pada Jessi, ketika pemuda-pemuda menggodanya, juga ketika Jessi memukul salah seorang dari mereka menggunakan payung, dan lari terbirit-birit setelah itu.


Ya, setelah Jessi pergi, Ken memberi sedikit pelajaran pada pemuda yang telah berani menggoda Jessi. Bagaimanapun juga, tugas Ken adalah menjaga supaya Jessi tetap aman dan tidak membuat ulah.


Setelah itu, Ken melanjutkan mengejar Jessi sampai di mall. Dia melihat dengan jelas bagaimana Jessi memborong donat karena senang dengan ucapan pelayan itu untuknya.


Ken lalu melihat Jessi masuk ke sebuah outlet Art Desain dan berbicara dengan seorang pria berwajah Asia yang sangat senang memandang Jessi. Ken tidak bisa mendengar pembicaraan mereka, karena Ken tidak bisa mendekat jika tidak ingin ketauan oleh Jessi. Tapi dari ekspresi Jessi, Ken rasa gadis itu diterima bekerja.


Jessi juga tidak menyadari kehadiran Ken.


Setelah mendapatkan pekerjaan itu, Jessi makan, membeli sandal, bahkan dia mampir ke tempat permainan anak-anak untuk bermain. Dia sangat menikmati waktu berada di mall. Yah, meskipun mall di kota ini hanya ada satu, dan tampak kecil, tapi ini sudah lumayan daripada Boy mengirimnya ke Africa. Di sana mungkin Jessi hanya bisa bermain dengan singa dan juga jerapah.


Sementara itu Ken mulai memahami alur Jessica. Kehidupannya di kota ini sama seperti kehidupannya di Jakarta. Main dan bersenang-senang. Entah bagaimana jika dia bekerja nantinya. Ken juga penasaran apakah seorang keturunan Setiawan bisa merendah untuk bekerja menjadi bawahan.


*


*


*


Ken melihat Jessi turun dengan terburu-buru. Dia segera mendekat karena tau apa yang akan terjadi setelah itu.


Dan benar saja, Jessi terpeleset. Untung saja Ken dengan sigap menangkap Jessi. Gadis itu jatuh ke pelukannya, tapi kaki Jessi sudah dapat dipastikan terkilir.


"Sorry..aku sud..." "Ken!" teriak Jessi begitu mereka saling menatap.


Ken menyingkirkan Jessi dari tubuhnya. Tapi, dia masih memegang tangan Jessi yang tampak kesakitan.


Ken mendudukkan Jessi di bawah tangga. Dia melepas sandal Jessi dan melihat ke arah kaki Jessi yang lecet dan bengkak.


"Kenapa kamu di sini, Ken?" tanya Jessi sambil berpegangan pada pinggir tangga.


Ken tidak menjawab. Dia malah memegang kaki Jessi, lalu mengurutnya.


"Keen, sakiiiit. Stop Stop." teriak Jessi.


"Tahan dulu, jangan manja." bentak Ken.


"Aku tidak mau Ken, lepas." "Awww.."


Ken tidak mendengarkan Jessi yang berteriak kesakitan. Dia hanya melirik pada Jessi sesaat dan tetap melakukan penangangan yang dia biasa berikan pada Marsha jika majikannya terkilir.


"Aww" kali ini Ken yang berteriak karena Jessi menjambak rambutnya dengan sangat kuat.


Akhirnya mau tidak mau, Ken melepaskan kaki Jessi.


Dia langsung berdiri ketika Jessi melepaskan jambakannya.


"Dasar gadis gila." ucap Ken lirih. Dia mengecek rambutnya pada pantulan kaca jendela, takut jika rambutnya rontok.


''Besar dan hitam.." kata Jessi mengingat kata-kata Boy. "Jangan bilang kalau hadiahnya adalah beruang madu ini." pekik Jessi tiba-tiba.


"Beruang madu?" Ken berbalik mendengar ucapan Jessi.


"Boy kurang ajar." Umpat Jessi tanpa mempedulikan pertanyaan Ken.


"Kenapa semua orang bilang aku beruang?" Ken merasa frustasi karena Jessi yang secara tidak langsung menghinanya.


Jessi berdiri. Tapi, dia kembali limbung saat menapakkan kaki nya yang terkilir. Akhirnya, Lagi-lagi Jessi hampir terjatuh.


Ken yang sudah berpengalaman langsung menangkap Jessi. Dan tanpa basa basi lagi, dia menggendong Jessi ala bridal untuk membantu gadis itu ke kamarnya.


"Ken, turunkan akuuuu.." teriak Jessi sambil menendang-nendang.


Ken membuka kamar Jessi dengan mudah karena kunci kamar Jessi masih menggantung di luar.


"Ceroboh sekali."


Ken menghempaskan badan Jessi ke ranjangnya.


"Pelan-pelan bisa ga sih?!"


Pria itu berdiri di depan Jessi. Dia melepaskan jas nya tanpa mengalihkan pandangan dari Jessi yang mengomel saja sejak tadi.


"Kamu mau apa, Ken?" Jessi mulai takut dengan Ken yang saat ini sudah membuka 2 kancing kemejanya. Jessi bahkan menutup kedua dadanya dengan tangan.


"Jessica, otakmu sungguh mesum sekali." ucap Ken sambil tersenyum sinis. Dia mengambil remote di samping Jessica, lalu menyalakan AC.


Ya, Ken begitu kepanasan karena outfit lengkapnya itu.


"Apa kamu bilang? Jessica?" ulang Jessi terkejut. Beraninya Ken memanggil dia dengan nama saja tanpa embel-embel Nona.


"Aku akan adukan pada Boy." Jessi dengan cepat menelepon kakaknya kembali.


"Apa lagi, Jess?" ucap Boy kesal.


"Aku sudah menerima hadiahmu. Dan aku berniat mengembalikannya."


"Lho, kenapa? Beruang itu bisa kamu ajak bermain, kan? Katanya kamu tidak betah di sana?"


"Boy.. kenapa harus kirim Ken?" Dia kurang ajar padaku. Dia bilang Jessica, bukan Nona Jessica." adu Jessi.


Ken cukup terkejut ketika Jessi benar-benar mengadukan pada Boy. Tapi, dia tidak peduli juga. Justru bagus kalau Boy menariknya ke Jakarta lagi. Dia jadi tidak perlu berurusan dengan gadis yang suka merengek dan mesum seperti Jessi.


"Jess, sudahlah. Terserah Ken mau panggil apa. Yang penting dia akan menjagamu 24 jam." ucap Boy yang mulai lelah dengan omelan Jessi. "Dia juga bisa jadi teman bermain mu di sana."


'Tut.. Tut..' Boy mematikan telepon secara sepihak.


Dan ketika Jessi menghubungi Boy lagi, ponsel kakaknya itu sudah tidak aktif.


"Bagaimana? Aku jadi dikembalikan?" tanya Ken penuh harap.


"Gak tau. Cepat keluar dari kamarku sekarang." Jessi menutup wajahnya dengan bantal. Dia lelah berdebat dengan Ken.


Ken duduk di pinggir ranjang. Dia mengeluarkan hansaplast dari saku celananya untuk mengobati Jessi.


"Jangan berteriak. Aku akan pergi setelah menempelkan ini." Kata Ken sebelum Jessi kembali tantrum.