
Seminggu menjelang pernikahan, Jessi jadi sangat sibuk. Selama hampir 2 minggu ini, dia tidak bisa bertemu dengan Ken. Mereka hanya menelepon dan videocall saja saat makan menjelang tidur.
"Hari ini kamu kemana aja sayang?" tanya Ken lewat voice call.
"Hari ini kami perawatan dan tadi Mom mengecek ke tempat souvenir." jawab Jessi sambil menghela nafas panjang. Meskipun menggunakan EO, tapi Jessi dan Sania tetap harus turun tangan dan itu sangat melelahkan.
"Kamu gimana? Masih kerja?" Jessi sedikit khawatir dengan Ken yang sering bekerja lembur akhir-akhir ini. Jika Jessi lelah mempersiapkan semuanya, Ken lelah mencari uang. Ya, Ken telah membayar semua biaya untuk pernikahan mereka dan itu membuatnya jadi sering lembur di tempat Nyonya Lee yang notabene Ibu Marsha.
"Hmm.. aku sedang keluar sebentar."
"Kemana?" "Sama siapa?" oceh Jessi yang seperti reporter.
"Ke suatu tempat."
"Ken, jangan main rahasia denganku. Aku gak suka." Jessi mulai ngambek. Dia mencium aroma kebohongan ketika Ken tidak mengatakan secara spesifik.
"Sayang..kamu habis perawatan, jangan ngambek gitu. Nanti wajahnya ketarik-tarik lagi." Ken coba mencairkan suasana.
"Ken, kita hampir menikah, kamu jangan macam-macam. Dad dan Boy bisa mencincang mu." ancam Jessi.
"Iya. Aku pergi ke tempat wanita yang paling cantik di kota ini. Aku ingin menemuinya sebentar."
"Keeeeeeen" teriak Jessi dengan nada 3 oktaf lebih tinggi. Dia bahkan sampai bangun dari tidurnya.
"Jangan teriak-teriak, buka jendela kamar sekarang."
Jessi beranjak untuk membuka gorden sesuai dengan instruksi Ken.
Ken melambaikan tangannya sambil tersenyum ke arah Jessi. "Cepat turun. Aku ingin makan malam denganmu."
"Yaa, aku segera turun, sayang." Jessi mematikan teleponnya dan langsung berlari ke bawah. Dia tidak perlu merapihkan rambut atau mengganti pakaian karena Ken sudah pernah melihat Jessi bahkan waktu dia baru bangun tidur. Jadi, dia tidak perlu berpura-pura untuk menjadi cantik di depan calon suaminya itu.
Ken merentangkan tangannya begitu pintu terbuka. Jessi berlari cepat dan menubruk dada bidang Ken.
"Aku kangen beruang ku." ucap Jessi yang memeluk Ken begitu erat.
"Ya, aku juga.. Maaf kalau aku sibuk belakangan ini." Ken mengelus rambut Jessi.
"Apa kamu lelah? Kamu sedikit kurus."
"Kita makan saja, ayo." Ken mengajak Jessi untuk makan. Tapi mereka berjalan kaki dan tidak naik mobil. Tentu saja Ken mengajak makan Jessi di emperan. Kali ini bakso di pinggir jalan dekat rumah Jessi.
"Ya, gak apa-apa Ken. Perlu berapa kali aku bilang, kalau aku bisa menerima kamu apa adanya?" Jessi memegang tangan Ken dan menggenggamnya seperti anak TK berpegangan tangan.
"Kamu yang terbaik, dan aku gak salah pilih."
"Gombal." cibir Jessi. "Proyek ku sudah selesai dan aku akan dapat uang besar." Jessi tertawa senang.
"Siapa yang pesan?"
"Orang aneh yang waktu itu aku ceritakan, Ken. Dia ternyata murah hati dan gak pelit. Dia bahkan bayar lebih tinggi daripada seharusnya."
"Baguslah. Kamu jadi bisa menabung untuk setelah kita menikah." Ken sangat bangga pada Jessi. Dia yakin Jessi bisa mandiri seraya waktu berlalu.
"Besok aku akan bertemu dengan dia di rumah yang baru saja aku design. Apa kamu bisa temani aku, yang?"
"Besok gak bisa. Masih ada banyak kerjaan dari Ny.Lee." "Kenapa kamu minta temani? Bukannya orang itu baik dan murah hati? Siapa tau dia juga tampan."
"Kamu cemburu?" Jessi mendekatkan wajahnya pada Ken dengan pandangan mengejek.
"No.. aku yakin kamu itu menyukai ku 100%." jawab Ken percaya diri.
"Wah, anda percaya diri sekali.."
"Besok berdandan yang cantik, jangan kecewakan klien mu." saran Ken.
"Aku selalu tampil cantik." Jessi menyibakkan rambut ke belakang.
"Ya,, calon istriku sangat sangat sangat cantik." Ken mencubit bibi Jessi gemas.
Acara makan malam di pinggir jalan itu sangat berkesan, karena mereka bisa berbicara banyak hal untuk kehidupan mereka ke depannya. Ken dan Jessi bukan anak kecil lagi, jadi mereka masing-masing perlu rencana untuk menentukan soal anak dan prinsip mereka masing-masing.
"Aku masih ingin kamu di sini, beruang." Jessi memeluk Ken lagi saat Ken berpamitan pulang.
"Sabar seminggu lagi sayang.. Setelah itu kita akan sama-sama terus sampai kamu bosan."
"Iya..iya,, i love you.." mau tidak mau Jessi harus melepaskan pelukannya karena Ken butuh istirahat.
Ken tidak langsung pergi, melainkan menunggu wanitanya masuk ke dalam rumah. Setelah Jessi masuk, Ken tersenyum penuh arti.