
Ken menarik nafas panjang sebelum menekan tombol hijau.
"Ya, Tuan." jawab Ken dengan lirih.
"Ken, apa kamu sudah bertemu dengan Jessi?" tanya Boy panik.
"Ke.. kena.. pa Tuan? Nona Jessi ada di sini."
"Kamu kenapa sih?"
"Oppaaa..aku ingin pulang." Jessi merebut ponsel dari tangan Ken.
Ken dan Jo reflek menjaga Jessi dengan memeluknya dari samping kanan dan kiri. Tapi, karena Jessi sedang berfokus pada Boy, dia tidak mempedulikan kedua orang itu yang kini sudah seperti teletubies.
"Aku ingin tidur di kamarku. Aku juga ingin makan di restoran enak. Aku kangen dengan Mom." oceh Jessi.
"Kalau begitu, pulang saja dengan Ken untuk sementara waktu." ucap Boy lirih.
"Boy, are you serious?" teriak Jessi senang.
"Ya, aku ada perlu dengan Ken."
Jessi mematikan ponsel, lalu dia merangkul Ken dan Jo sambil melompat-lompat.
Orang-orang di sekitar mereka memandang ketiga orang itu dengan heran. Bisa-bisanya mereka berteriak kegirangan di rumah sakit.
"Nona.. berhenti. Kamu membuat kami sesak nafas." Ken melepaskan Jessi. "Apa yang Tuan Boy bilang?"
"Keeen.. aku boleh pulang."
Ken tersenyum kecil. Boy pasti tau soal Marco. Bukan Boy namanya jika dia tidak gercep. Ken tidak terlalu kaget jika Jessi boleh kembali ke Jakarta.
"Hey, bagaimana dengan hasil rontgen nya?" Ken meneliti seluruh badan Jessi.
"Dia baik-baik saja." Jo menimpali mereka. Dia sangat senang karena dia juga besok akan kembali ke Jakarta.
"Kalau gitu, aku pulang numpang kalian ya.."
"Tidak boleh." tolak Ken. Jo akan mengganggu saja di perjalanan nanti.
"Nona.." rengek Jo. Dia adalah harapan terakhir dari Jo yang tidak ingin menempuh perjalanan seorang diri.
Jessi tampak berpikir sebentar. Jo memang baru saja membuatnya hampir celaka, tapi dia juga akan bosan jika hanya berdua saja dengan Ken yang selalu diam saja bagaikan robot.
"Oke, kamu ikut."
"Nona.. tapi dia akan mengganggu." protes Ken.
"Ken, kalian bisa bergantian menyetir, kan?" bujuk Jessi. "Aku tidak bisa terluka lagi, Ken. Kalau sampai kecelakaan, aku tidak bisa memaafkan dirimu ataupun Jo."
Mendengar ancaman Jessi, Ken akhirnya setuju. Dia juga lelah karena baru saja kembali dari Jakarta. Ya, kemarin dia ijin untuk pergi ke Jakarta dan menemui seseorang.
"Thanks.. kalau gitu, sebagai ucapan maaf dan terimakasih, bagaimana kalau kalian aku traktir makan malam." tawar Jo.
"Setuju." jawab Jessi cepat. Dia berjalan dengan semangat sambil menggandeng Ken dan Jo di tangan kanan-kirinya.
Nasi goreng pinggir jalan
Jessi menatap makanannya dengan tidak berselera, padahal Ken dan Jo sudah menghabiskan separuh makanan mereka.
"Nona.. kenapa? Apa anda gak lapar?" tanya Jo dengan santainya.
Jessi menggeleng. Dia lapar, tapi Jessi tidak mau makan di tempat yang kurang meyakinkan seperti ini.
"Jo, kenapa kamu traktir kita di sini?" Ken mencoba memberi kode pada Jo supaya otaknya bisa connect dan dia dapat jawaban mengapa Jessi tidak mau makan.
"Karena ini enak sekali." jawab Jo singkat. "Bukan begitu, Ken?"
"Ya, ini enak. Tapi ini bukan selera nona." jawab Ken to the point.
"Nona.. anda harus latihan untuk makan ini. Siapa tau suami anda itu hanya dari kalangan rakyat jelata."
"Tidak mungkin, Jo. Minimal aku mendapatkan seperti Cassie Sebastian, seorang Romeo."
Jo menahan tawanya. Dia sampai menutup mulut takut apa yang dikunyah tersembur keluar.
"Buka mulutmu, nona." Ken menyuapkan satu sendok ke arah Jessi.
Jessi yang sedang mengomel pada Jo, tanpa sadar membuka mulutnya.
"Kurang ajar sekali kamu Jo. Memangnya apa bedanya aku dengan Cassie? Kami sama-sama dari keluarga terpandang."
"Bukan,, Cassie itu anggun.. sedangkan anda.." Jo tidak mau melanjutkan kata-katanya karena sibuk tertawa.
"Aku, apa?" tanya Jessi ngegas.
"Buka mulutmu lagi, nona." Ken menyuapkan lagi satu sendok nasi goreng.
Tugasnya menjaga Jessi ternyata merangkap menjadi baby sitternya.
"Ken, kenapa kamu suapi aku?" akhirnya Jessi sadar jika Ken sejak tadi menyuapinya.
"Kalau tidak seperti ini, kita bisa pulang jam 12 malam." sindir Ken.
"Ken, kamu selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan." ucap Jo kesal. Dia yang kena omel Jessi, malah Ken yang senang karena menyuapinya.
"Lanjut saja, kalian. Jangan pedulikan aku." jawab Ken dengan cueknya. Dia masih terus menyuapi Jessi sampai piringnya hampir habis.
"Ken, kalau kamu seperti ini, apa pacarmu gak marah?" Jessi mengambil gelas es nya dan meminum sampai habis.
"Pacar?" Ken menaikkan satu alisnya.
"Lupakanlah. Aku juga tidak peduli. Yang penting kalian berdua istirahat yang cukup, karena besok aku akan kembali ke Jakartaaa.." Jessi berteriak senang.
Ken dan Jo pura-pura sibuk mengerjakan hal yang lain karena malu menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung yang sedang makan. Ya, besok akan jadi perjalanan yang panjang untuk mereka bertiga.