
"Jadi, kapan kalian akan menikah? Mau di mana dan mau undang berapa orang?" Sania mulai bertanya ketika Jessi dan Ken baru sampai ke rumah.
Mereka bahkan belum duduk, tapi Sania sudah mencecarnya dengan banyak pertanyaan.
Jessi menggandeng Ken untuk masuk ke dalam dan duduk di ruang tengah. Di sana Bayu sudah menunggu kedatangan mereka.
"Dad, Mom apa gak bisa kalau ngomongnya besok saja?" mohon Jessi. Sejak di pesawat tadi, Ken dan Jessi hanya tidur sambil berpegangan tangan. Mereka terlalu lelah untuk memikirkan soal pernikahan.
"Tidak bisa. Kita harus bicarakan ini segera." tegas Bayu. Dia harus memastikan jika Ken tidak mempermainkan Jessi atau Jessi berubah pikiran karena ada Jo yang juga menyukai Jessi.
Ken memandang Jessi untuk meminta pertolongan, tapi Jessi tidak mengerti kode yang diberikan Ken.
"Dad, apakah Dad punya permintaan soal tanggal, tempat dan bagaimana pesta itu diadakan?" ucap Ken akhirnya.
Bayu tertawa sinis. "Apa kamu sanggup penuhi permintaan kami?" "Kolegaku dan Boy sangat banyak."
"Saya akan berusaha memenuhi permintaan kalian."
"Dad, jangan merepotkan Ken. Jessi gak masalah jika pestanya sederhana." kata Jessi membela Ken. Sebenarnya dia juga ingin seperti Boy yang pesta pernikahannya digelar dengan meriah. Bahkan cita-cita Jessi ingin menikah di Perancis. Tapi, mengingat Ken hanya seorang bodyguard, Jessi harus berbesar hati untuk tidak memikirkan hal yang terlalu tinggi dan di luar jangkauan Ken.
"Bagaimana kalau bulan depan?" saran Bayu.
"Oke, saya setuju." jawab Ken cepat.
"Tempatnya Mom ingin di hotel Park Hyatt." "Kita bikin 300 undangan gimana?"
"Mom,, itu terlalu mewah. Lagian mau undang siapa sih? Banyak banget." protes Jessi.
"Sudah Jess, gak apa-apa." "Aku akan ikut kemauan Mom and Dad." Ken meyakinkan Jessi dengan menepuk pundaknya.
"Oke, rapat selesai." Bayu berdiri dengan wajah puas. Dia memberi kode pada Sania supaya pergi dari situ dan kembali ke kamar mereka.
"Sayang, apa kamu gak keterlaluan sama Ken?" Sania berbisik pada Bayu sambil berjalan ke kamar. Sebenarnya mereka sudah persiapkan jawaban ini untuk membuat Ken takut, tapi ternyata pria itu menyanggupi semuanya.
"Ya, tenang saja. Aku juga akan bantu membayar pesta pernikahan mereka." "Ini kan anak perempuan kita satu-satunya, jadi aku ingin memberikan yang terbaik untuk dia."
"Syukurlah. Aku kira kamu benar-benar ingin Ken bayar semuanya." "Nanti masa depan Jessi bisa hancur." Sania mengusap dadanya dengan lega.
"Lho, kenapa?"
"Ya, untuk menutupi biaya pernikahan, Ken bisa jual ginjalnya." "Kalau ginjalnya dijual, dia bisa sakit-sakitan dan pasti Jessi sedih."
"Istriku yang cantik,,, Plis jangan terlalu banyak nonton drama." "Jangan suka berimajinasi seperti ini." omel Bayu. Dia mencubit pipi Sania dengan gemas.
"Ya, namanya juga ibu-ibu, gak ada kerjaan."
"Ya, nanti kamu bantu Jessi siapkan pesta pernikahan dengan baik."
Mereka berdua saling memandang, lalu tersenyum lebar. Tugas mereka sebagai orang tua akan segera berakhir setelah Jessi menikah. Mereka hanya tinggal bermain dengan baby L dan juga anak Jessi nantinya.
*
*
*
Ken mengantarkan Jessi ke kamarnya. Ini pertama kali Ken masuk ke dalam kamar Jessi setelah sekian lama mengenal wanita itu. Ken cukup kagum pada Jessi yang kamarnya rapi dan juga bersih. Meskipun dia anak orang kaya, tapi Jessi bukan tipe wanita yang manja sampai tidak bisa melakukan apapun.
"Nanti, Ken. Aku masih harus menyelesaikan deadline sebelum kita menikah." "Lagian tadi kita sudah istirahat."
"Apa yang kamu kerjakan?" Ken merasa penasaran dengan apa yang akan Jessi kerjakan di tengah malam seperti ini.
Jessi mengajak Ken duduk di sebelahnya. Dia membuka tablet yang menampilkan desain sebuah rumah yang begitu unik.
"Siapa yang memesan?"
"Entahlah. Orangnya aneh. Dia gak mau bertemu langsung dan kami komunikasi lewat email saja. Pasti orangnya sangat kaku dan kuno." Jessi mengerucutkan bibirnya. Sejauh dia bekerja untuk mendesain cafe, hotel, atau rumah, orang ini adalah yang paling aneh. Dia tidak mau bertemu atau bicara. Pokoknya semua di desain sesuai impian dan kemauan Jessi saja.
"Jangan terlalu capek.. aku gak mau calon istriku yang cantik ini sampai sakit." Ingat Ken.
"Ya, sayang.. kamu tenang aja." "Besok aku akan langsung fitting baju pengantin dan pergi ke hotel untuk booking tempatnya." Jessi sudah merancang dalam otaknya apa yang perlu dia lakukan selama sebulan ini.
"Lalu, apa yang akan kamu kerjakan, Ken? Apa kamu akan tetap kerja dengan Boy dan Marsha?"
"Sementara begitu. Aku besok akan menemui Ny.Lee dan minta dia untuk jadi wali ku."
"Oke, be careful yang.." Jessi memeluk Ken. Dia sebenarnya tidak rela berpisah dari beruangnya.
"Kamu juga, jangan tidur terlalu malam." Ken memandang Jessi intens. Kini keduanya saling memandang dan menyalurkan rasa sayang mereka lewat tatapan mata. Tanpa sadar, Ken sudah mendekatkan wajahnya pada Jessi hingga hidung mereka bersentuhan. "Aku pulang dulu."
Ken menghentikannya tepat waktu. Dia berdiri sambil merapihkan bajunya.
"Sebaiknya kita bertemu saat semua sudah beres, Jess." ucap Ken sebelum pergi. Dia yakin tindakannya itu pasti membuat Jessi kecewa. Tapi, sekali lagi Ken harus ingat untuk tidak bertindak kebablasan sebelum waktunya.
"O.. ke.." ucap Jessi canggung. Dia juga tersenyum pada Ken yang sudah kabur sampai depan pintu kamarnya.
'Sabar Jessi.. kamu mesum sekali. Sungguh memalukan.' Jessi memukul pelan kepalanya sendiri. 2x kali dia kepergok ingin berciuman dengan Ken.
Sementara itu, setelah di mobil, Ken membuka ponselnya. Tadi dia sudah meminta Timothy alias detektif swasta langganan Marsha untuk mengecek, kenapa sampai Milka di kejar-kejar oleh keluarga Sutandi. Apa yang sebenarnya dia lakukan?
"Sepertinya mereka ingin bernegosiasi sama Milka karena Milka mengantongi surat wasiat dari Tuan Sutandi."
"Apa isinya, Tim?"
"Surat itu bilang, Milka akan mewarisi separuh harta keluarga Sutandi jika dia menikah." "Dan sepertinya mereka ingin mengubah isi suratnya."
Ken mengangguk mendengar laporan dari Timothy.
"Lalu, sekarang Milka ada dimana?"
"Dia sedang di pesawat menuju Jakarta dengan Juna dan Jo."
"Oke, thanks Tim. Bayarannya akan aku transfer."
"Ya, selamat Ken. Aku akan kasih diskon 50% sebagai hadiah pernikahanmu." ucap Tim sambil tertawa.
"Beritanya cepat sekali menyebar. Kamu sungguh mengerikan."
"Kamu gak bisa sembunyikan apapun dari Tim." Timothy tertawa dengan bangga.
"Sudahlah. Aku ingin membereskan masalah Milka dulu." Ken mengakhiri percakapan dengan Timothy. Tiba-tiba dia memiliki ide brilian. Setelah ini, Ken yakin jika dia tidak perlu khawatir pada Milka .