Love U My Bodyguards

Love U My Bodyguards
Cemburu



Lagu Mr.Chu dari Apink melantun keras di ruang tengah rumah Juna. Mereka sibuk bermain sampai tidak sadar jika pelayan Juna mendatanginya.


Ken dan Boy berdiri di belakang pelayan Juna seperti patung pancoran. Orang yang mereka cari selama 6 jam ternyata sedang bermain dan tampak baik-baik saja. Jo dan Jessi bahkan tertawa cekikikan karena Jo yang terlalu bersemangat dance tiba-tiba terjatuh.


Boy bergerak untuk mematikan televisi dan seketika ruangan langsung hening.


Jessi terkejut melihat kakaknya dan Ken berdiri dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.


"Jessi, kenapa kamu matikan ponselmu?" ucap Boy kesal.


"Batre ku habis." jawab Jessi sambil merebahkan diri di sofa. Jessi berkata jujur karena batre ponselnya memang habis dan dia tidak berniat untuk mengisi dayanya.


"Kenapa kamu pergi sendiri? Apa kamu tidak takut dengan Marco?" Boy masih melanjutkan ngomel pada Jessi yang membuat dirinya repot.


"Ada Jo yang siap menjagaku dan juga menghiburku." Jessi melirik ke arah Ken yang sejak tadi diam saja.


"Thanks Jo. Maaf adikku sering merepotkanmu." Boy menepuk pundak Jo.


"Santai saja Tuan Boy. Saya akan jaga Jessi sebisa saya."


"Ayo, pulang. Besok kamu harus berangkat pagi." Boy menarik Jessica untuk bangun.


"Boy,, plis.. aku gak mau kembali lagi ke sana." rengek Jessi.


"Kamu harus berlatih tanggung jawab pada pekerjaanmu." ucap Boy dengan tegas. Dia menarik Jessi dengan paksa karena Jessi sepertinya enggan meninggalkan rumah Juna.


Ken dan Jo mengikuti kakak beradik itu dari belakang.


Ken membukakan pintu mobil belakang untuk Jessi. Tapi, Jessi tidak mau masuk. Dia menengok ke belakang di mana Jo sedang menatapnya.


"Jo, makasih untuk hari ini. Kamu sudah menemani aku seharian." ucap Jessi sambil tersenyum pada Jo.


"Hati-hati nona. Jaga dirimu di sana." Jo melambaikan tangannya pada Jessi. Dia tau jika besok Jessi akan kembali ke Purwokerto dan ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Jessi.


"Apakah aku boleh memelukmu, Jo?" tanya Jessi hati-hati.


Jo merentangkan tangannya, tanda Jessi boleh melakukan itu.


Jessi melangkah dengan cepat untuk memeluk Jo. Tubuh Jo masih berkeringat, tapi Jessi tidak mempersoalkan itu. Jo memang menyebalkan, tapi setidaknya dia bisa menghibur Jessi dari perasaan kesalnya pada Ken.


"Nona wangi sekali. Pakai shampoo apa sih?" tanya Jo yang betah dipeluk oleh Jessi.


"Ada pertanyaan yang lebih bermutu, Jo?"


"Ehem" percakapan mereka terhenti karena Ken berdehem dengan keras. "Nona, Tuan Boy sudah menunggu."


Jessi melepaskan Jo. Dia langsung masuk ke mobil tanpa menoleh ke arah Ken.


"Bye Jo. Lain kali kita main lagi ya.." pamit Jessi dari jendela mobil.


Jo sekali lagi melambaikan tangannya sebelum mobil Boy pergi.


Setelah pergi, Jo memegangi dadanya yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia masih bisa merasakan hangatnya tubuh Jessi. Wanita itu mengingatkan Jo pada Cassie Sebastian yang tidak pernah malu mengungkapkan perasaannya.


"Bocah cantik?"


"Iya.." Jo menengok ke belakang. "Lho, Juna. Kenapa di sini? Bukannya kamu.." Jo begitu terkejut saat melihat sosok Juna sudah berdiri di belakangnya.


"Tiffany marah karena kamu dan Jessi bermain tanpanya." kata Juna sinis.


"Terus, kenapa kamu yang keluar dan bukan Tiffany?"


"Aku di usir dari kamar."


"Hahahaha..astaga..malang benar nasibmu, Jun." Jo tidak kuasa menahan tawanya. Ini sudah kesekian kalinya Tiffany tidak mengijinkan Juna masuk ke kamar karena wanita itu kesal. "Bagaimana? Bukankah lebih enak jika melajang saja?" goda Jo.


"Tertawa saja sampai puas Jo. Tapi kamu harus bekerja lembur hari ini." Juna tersenyum licik. "Jangan pikir kamu akan lolos, Jonathan." giliran Juna yang meledek Jo.


*


*


*


Sementara itu di jalan, baik Jessi, Boy dan Ken tidak ada satupun yang ingin bicara. Suasana di mobil begitu hening, sampai-sampai suara AC terdengar begitu jelas.


"Boy, aku tidak memerlukan bodyguard lagi." Jessi memulai percakapan dengan sebuah pertanyaan yang rancu.


"Aku tidak akan mengizinkanmu sendirian di sana." Boy memandang Jessi dari spion tengah.


"Aku ingin mandiri, Boy." Jessi kembali beralasan.


"Ini bukan soal mandiri, Nona." sela Ken.


"Aku tidak bicara padamu, Ken." jawab Jessi ketus.


"Ken benar, Jess. Kenapa sepertinya kamu marah pada Ken?" tanya Boy heran.


"Siapa yang marah? Aku hanya tidak ingin bicara padanya."


"Apa anda sedang cemburu?" selidik Ken.


Jessi membelalakkan matanya. Berani sekali Ken bicara seperti itu di depan Boy?


"Maksudnya Jessi cemburu padamu, Ken?"


"Cemburu apanya? Aku tidak peduli apakah kamu mau ciuman atau berpelukan dengan pacarmu." jawab Jessi sambil melengos.


"Jadi anda memang cemburu, kan?" Ken tidak mau kalah.


"Cih.. aku tidak suka dengan kanebo kering."


"Ya, saya juga tidak minta anda menyukai kanebo kering."


Boy memperhatikan interaksi keduanya dengan bingung. Dia tidak tau apa yang dibicarakan Jessi dan Ken. Mereka bahkan seperti tidak menganggap Boy ada.