
Malam itu Jessi berdandan dengan begitu cantik. Dia menggunakan dress selutut bewarna hijau tosca. Jessi juga tidak lupa menata rambutnya seperti akan kondangan.
"Apa anda tidak terlalu berlebihan, nona?" tanya Ken yang tidak berkedip melihat baju press body yang di gunakan Jessi.
"Kan dinner.. penampilannya ya begini." Jessi membenarkan rambutnya yang kurang rapi dari pantulan kaca jendela kamar orang lain.
Ken diam saja. Dia kembali memandang penampilannya sendiri. Sejak Jessi menyuruhnya pergi tanpa seragam lengkap, Ken jadi lebih suka tampil casual. Malam ini pun Ken hanya menggunakan jeans biru tua dan kaos polo yang sedikit kesempitan karena lengannya terlalu besar.
"Ken, dia lama sekali. Aku sudah lapar." Jessi mulai uring-uringan.
Mereka berdua saat ini sudah menunggu di bawah sesuai dengan perintah dari Pak Martin. Boss Jessi itu sudah otw sejak 15 menit yang lalu, tapi mobilnya belum terlihat juga.
"Nona.. duduk dulu. Jangan seperti cacing kepanasan." Ken memegang pundak Jessi, lalu mendudukkan nya pada bangku yang kosong.
"Ken... pelan-pelan. Pantatku sakit." omel Jessi. Tapi setelah itu Jessi diam karena sibuk menscroll ponselnya.
"Masih stalking mantan?" sindir Ken yang melihat Jessi membuka instagram milik Marco.
"Jangan ngintip, Ken. Aku hanya mengecek kalau dia sudah tidak mengejar ku."
"Ya..ya.. terus saja berdalih." Ken menyilangkan kedua tangan di dadanya. "Keputusan anda untuk putus dari Marco memang tepat." ucap Ken kemudian. "Maaf, bukan maksudku mencampuri urusan anda. Tapi, Marco memang berbahaya."
Jessi mengangguk lemah. Dia memang tidak bisa membohongi seorang Ken.
"Jika yang diculik Max itu anda, saya tidak tau apa yang akan terjadi pada anda sekarang."
"Stop, Ken. Aku tidak ingin mendengar itu." Jessi tertunduk lesu. Peristiwa beberapa minggu lalu sangat membekas dalam benak Jessi. Marco menyuruh Max menculik Jessi. Tapi karena Max tidak paham wajah Jessi, Max malah menculik Leana. Max bahkan menodai Leana dan sekarang mereka sudah menikah. Jika Jessi dalam posisi itu, sudah pasti Jessi akan berakhir dengan Max.
'Tin.. tin..'
Sebuah mobil fortuner hitam berhenti di depan kost. Pak Martin turun dan menemui kedua orang yang sedang tampak tegang itu.
"Malam, Jess." sapa Pak Martin semangat. Dia memandang Jessi dengan takjub. Jessi sangat cantik dan menawan.
"Ayo kita pergi sekarang." ajak Jessi tanpa basa basi.
Dia sudah terlalu lama menunggu dan mood nya juga kurang baik karena Jessi teringat tentang Marco-Max.
Pak Martin buru-buru membukakan pintu untuk Jessi.
"Apa ada masalah, Jess?" tanya Pak Martin dengan nada cemas. Wanita itu tidak tersenyum sejak mobil berjalan.
"Ya, masalahnya sekarang aku lapar." jawab Jessi jutek.
Pak Martin tertawa karena Jessi begitu jujur dan blak-blakan. Dia tidak jaga image untuk tampil kalem dan sopan. Tapi, justru itu membuat Pak Martin semakin penasaran dengan Jessi.
"Cantik dari mananya?" sahut Ken yang duduk di belakang.
"Diam beruang. Jangan ikut-ikutan pembicaraan kami." ucap Jessica yang makin kesal.
"Oke, Jessica. Aku akan diam." Ken menekankan kata Jessica.
"Ken.." Jessi menengok ke belakang karena Ken lagi-lagi hanya memanggil Jessi dengan namanya.
"Kalian cukup dekat. Apa kalian pacaran?" tanya Pak Martin ragu.
"Enggak." jawab Jessica dan Ken secara bersamaan.
"Ken itu tampak tidak tertarik dengan wanita. Entah apa yang ada dalam otaknya." .
"Benarkah?" Pak Martin sedikit terkejut dengan ucapan Jessi. "Badanmu sangat bagus, Ken. Seharusnya banyak wanita yang mengejar mu. Apakah kamu trauma dengan wanita?"
"Tidak. Saya hanya tidak bisa move on karena kehilangan orang yang saya sayangi." jelas Ken lirih.
"Maksudnya, kekasihmu meninggal?"
Jessi diam saja sambil menatap keluar jendela. Tapi telinganya jelas mendengarkan percakapan pria-pria itu. Jessi juga penasaran dengan Ken.
"Bukan."
"Atau dia selingkuh?"
"Dia hanya menghilang bak di telan bumi." kenang Ken.
"Ooh.. di ghosting." Pak Martin memberikan penjelasan yang lebih simple. "Kalau, kamu bagaimana Jess? Apakah kamu punya pacar?"
"Hah? Apa?" Jessi yang sedang fokus pada cerita Ken tidak mendengar sama sekali apa yang dikatakan oleh Pak Martin.
"Dia tanya, apa kamu sudah punya pacar, Jess?" Sela Ken sambil tersenyum licik.
"Pacar? Apa itu sejenis umbi-umbian?" Jessi mencoba untuk melawak.
Tapi, reaksi Ken dan Pak Martin malah diam saja. Mereka tidak mau menanggapi Jessi, jadi suasana malah berubah canggung.
"Sebentar lagi kita sampai." akhirnya Pak Martin buka suara lebih dulu.
Dia memarkirkan mobil di trotoar di pinggir jalan. Jessi menengok kanan kiri. Dia tidak melihat ada restoran atau cafe di sini.
"Silahkan turun, nona."