
Jessi tidak bersemangat pagi ini. Boy sudah melonggarkan Jessi supaya dia boleh membawa mobilnya ke Purwokerto. Tapi Jessi tampak tidak tertarik lagi. Baginya membawa atau tidak membawa mobil itu sama saja.
"Hati-hati Ken." ucap Marsha sebelum Ken masuk ke dalam mobil.
"Saya pamit dulu, nona."
"Eonni..aku pergi dulu." Jessi memeluk Marsha dengan manja. "Mana Oppa?" Jessi baru sadar jika Boy tidak kelihatan.
"Boy masih tidur. Nanti aku sampaikan pada Boy." Marsha melepaskan pelukan Jessi. Dia mengeluarkan dompetnya dan menaruh sebuah kartu pada genggaman tangan Jessi. "Pakai ini untuk kehidupanmu di sana. Tidak perlu bilang Boy. Ini dari uang pribadiku."
"Eonni memang the best. Aku sayang sekali sama Eonni." Jessi terharu karena perhatian dari Marsha.
Marsha tersenyum. Dia tentu saja tidak mau Jessi kesulitan di sana. Apalagi Jessi shopaholic. Marsha kasihan pada Jessi yang tidak memegang uang sama sekali dan hanya mengandalkan gajinya saja. Itu pasti tidak akan cukup.
"Ken, kamu harus benar-benar menjaga Jessi. Jangan sampai seperti kemarin." ingat Marsha.
Ya, kemarin Jessi sudah curhat pada Marsha tentang wanita yang dia lihat bersama Ken di restoran. Marsha awalnya tidak percaya jika Ken memiliki pacar. Tapi dia ingat, saat ada di panti untuk kegiatan amal, ada seorang wanita yang terus menatapnya dengan pandangan tidak suka. Ternyata wanita itu menyukai Ken dan sama halnya dengan Ken yang menyukai wanita itu.
"Ayo, nona." Ken memanggil Jessi yang masih berat meninggalkan Marsha.
Jessi duduk dengan wajah yang di tekuk.
Ken mencondongkan badannya ke arah Jessi sehingga jarak mereka begitu dekat.
"Ken, kamu mau apa? Jangan macam-macam ya?!" tanya Jessi dengan nada setengah membentak Ken.
Ken tidak menjawab. Tangannya sibuk menarik kan selt belt untuk Jessi. Dia juga menarik tuas kursi Jessi sedikit ke belakang, supaya Jessi bisa lebih nyaman.
Jessi sungguh malu. Imajinasi otaknya terlalu tinggi. Dia bahkan berharap Ken akan melakukan adegan romantis ala drakor.
Ken mulai menjalankan mobil Cadillac milik Jessi yang dia ambil di rumah Bayu Setiawan. Dalam situasi canggung seperti ini, Jessi memilih memainkan ponselnya dan tidak mempedulikan Ken.
Ken berulang kali memandang ke samping. Jessi tampaknya benar-benar kesal karena kejadian di restoran kemarin. Jujur Ken tidak ingin menggubris pernyataan Jessi yang menyukainya. Tapi, sepertinya Jessi perlu jawaban yang jelas.
Dia cemburu seolah Ken adalah pacarnya.
"Milka itu teman panti asuhan saya, Nona. Dan aku menyukainya." Ken membuka suaranya di tengah keheningan.
"Aku tidak peduli, Ken." jawab Jessi masih dengan nada ketus.
"Saya rasa saya harus jelaskan ini supaya anda tidak salah paham."
"Apanya yang salah paham?"
"Jessica,, aku berterimakasih karena kamu menyukaiku. Tapi, aku tidak berniat untuk membalas perasaanmu. Jangan salah paham karena aku memperhatikanmu. Semua itu karena pekerjaan dan sudah sewajibnya aku menjaga kamu." Ken berkata terus terang.
Jessica berusaha mati-matian untuk menahan supaya wajahnya biasa saja dan air matanya tidak jatuh keluar. Ken benar-benar frontal menolak Jessica. Ini di luar dugaan Jessi. Sebenarnya, Ken tidak perlu jelaskan ini pada Jessi karena tanpa dijelaskan pun, Jessi sudah tau jika Ken lebih memilih Milka. Jessi hanya kesal saja karena Ken mengabaikannya.
"Ya, sudah Ken. Anggap saja aku tidak pernah bicara hal itu padamu." Jessi langsung melengos ke arah luar jendela.
Ken juga diam dan tidak banyak bicara lagi. Dia berfokus menyetir saja, meskipun dalam lubuk hati terdalam, Ken sangat menyesal telah mengatakan hal itu pada Jessi.
Ponsel Jessi berdering memecahkan keheningan dan suasana canggung itu.
Jessi enggan untuk menjawab, tapi dia akhirnya tetap menekan tombol hijau.
"Ada apa, Mom?" jawab Jessi dengan malas.
"Sayangku, cintaku, belahan jiwaku,, kenapa kamu gak pamit sama Mom?" teriak Sania heboh.
"Mom, Jessi gak mau mata Mom bengkak karena menangis seharian." jelas Jessi. Ya, waktu pertama kali Jessi pergi, Sania sangat tidak rela sampai-sampai dia menangis dan mogok makan seharian. Jessi hanya menghindari Mom nya yang cantik itu jadi sedih dan sakit.
"Apa kamu sudah di jalan?"
"Ya, aku bersama Ken."
"Okay, bagus. Ken akan menjaga kamu dengan baik." ucap Sania yakin.
Jessi tersenyum sinis. 'Justru sebaliknya'. batin Jessi.
"Oh iya sayangku.. Mom mau kenalkan kamu dengan anak teman Mom."
"Mom.. apaan sih pake kenal-kenalan segala?" "Jessi bisa cari sendiri, Mom. Jessi sudah besar." tolak Jessi.
"Ya, kamu cari sendiri tapi kamu mencari pria yang gak waras." sindir Sania. "Yang ini orangnya dewasa, sudah punya usaha dan juga cukup tampan."
"Terus?"
"Terus, kamu harus ketemu dia malam ini."
"Mom..." rengek Jessi.
"Tidak ada tapi-tapian ya Jess. Lagian, kan cuma kenalan. Apa salahnya sih?" Sania mulai kesal dengan Jessi karena tidak mau menurutinya.
"Tapi Jessi juga dalam perjalanan ke Purwokerto. Masa sih Jessi harus balik lagi?"
"Dia juga ada di sana, sayang. Makanya Mom telepon kamu." "Sudah jangan cerewet. Mom akan kirimkan sherlock nya ke kamu."
'Tut.. tut. tut..' Sania mematikan telepon karena dia tidak ingin mendengar sangkalan dari Jessi lagi.
Jessi mendengus kesal. Makin hari problemnya makin banyak saja. Belum selesai patah hati karena Ken, sekarang Jessi harus menerima sesi berkenalan dengan pria asing. Daripada moodnya makin rusak, Jessi memilih memejamkan mata dan tidur.