Love U My Bodyguards

Love U My Bodyguards
Tangkap dia



Jo duduk lemas dengan raut wajah sedih. Dia jadi tidak enak pada Jessi yang ribut dengan Ken karena ulahnya. Jo tidak bermaksud membuat pasangan yang baru saja tunangan itu jadi marahan.


Sementara itu, Milka dengan santainya malah makan semua yang telah dipesan Ken. Dia sangat lapar setelah seharian ini bermain kucing-kucingan dengan pengawal dari Keluarga Sutandi.


"Jo, makan dulu lah..Aku gak sanggup habiskan ini sendiri." Milka mendorong piring nasi yang belum tersentuh ke arah Jo.


"Aku gak niat makan."


"Ini enak banget, Jo. Mau aku suapi?" Goda Milka.


"Milka, aku gak mood. Makan saja sendiri dan lap mulutmu." omel Jo.


Milka mengelap mulutnya dengan punggung tangan. Tapi tetap saja mulutnya belepotan.


Jo melengos dan tidak mau menanggapi Milka lagi. Dia sudah lelah dengan kejadian di hari ini. Tenaganya sudah habis untuk bertengkar dengan Milka.


"Aku pulang dulu. Bos ku pasti akan mencincangku setelah ini." Jo bersiap untuk pergi, tapi baru satu langkah, dia kembali lagi.


"Oh iya, mana cincin ku?" Jo menengadahkan tangannya di depan wajah Milka.


"Lho, ini untukku kan? Tadi kamu bilang mau kasih ini ke aku?" Milka menolak memberikan cincinnya. Dia suka dengan model cincin pemberian Jo.


"Kan hanya akting. Cepat lepaskan. Aku gak bisa nunggu lama."


Milka mencuci tangan di kobokan sebelahnya. Dia mengomel sendiri karena Jo tidak gentleman sekali. Bisa-bisanya dia memberi sesuatu ke orang lain tapi minta di kembalikan. Milka memutar cincinnya, tapi cincin itu gak bergerak juga.


"Jo, ini gak mau lepas." katanya panik.


"Ah, masa sih. Kamu bohong lagi ya?" Jo menuding Milka berbohong. Dia curiga jika Milka ingin cincinnya. Sebagai orang kaya, Milka pasti tau cincin yang dipakainya itu bukan cincin murah. Jo membeli cincin itu dengan 3 bulan gajinya. Ini karena saran dari Juna yang mengatakan jika Jo tidak boleh membawa cincin biasa saja pada keturunan anggota Setiawan.


"Bohong apalagi sih. Cepet bantuin." Milka mengomel dan menyerahkan tangannya pada Jo.


Jo mencoba memutar cincin di jari Milka, tapi memang tidak bisa lepas.


"Aduh, sial banget sih. Gue bisa puasa 3 bulan nih." keluh Jo yang jadi ikut panik karena Milka tidak bisa melepaskan cincinnya.


"Aku yang sial, Jo. Aku." kata Milka frustasi.


"Ya sudah.. ganti aja cincinnya. Harganya 300 juta."


"Wah, kamu beli cincin apa beli rumah?" komplain Milka. "Bentuknya saja begini. Aku gak mau ganti. Kita potong aja cincinnya." Milka menarik tangannya yang sudah memerah dan sedikit bengkak. Jika dia tidak lakukan itu, Jo akan tetap memaksanya.


"Noo.. kamu gila ya?" "Nanti rusak cincinnya." teriak Jo.


"Terus gimana?" "Aku juga gak punya uang sebanyak itu."


"Kamu diet aja." saran Jo. Dia tidak jadi pergi dan duduk kembali di depan Milka.


"Diet?" Milka tertawa lebar. "Kamu mau aku jadi tengkorak?"


Jo memandang Milka yang memang sudah kurus.


Apa dia harus relakan cincinnya untuk Milka? Tapi, Jo tidak yakin jika Juna masih menerima dia kerja lagi setelah ini. Sejak tadi Jo mematikan ponselnya. Juna pasti sekarang sedang marah besar padanya.


*


*


*


Juna bercak pinggang ketika Jo muncul dengan mobilnya. Dia sudah siap mengomel, tapi ketika Milka turun, Juna mengerem mulutnya. Juna bukan mentolelir apa yang sudah dilakukan Jo, tapi dia diam karena melihat wanita yang tengah bersembunyi di belakang Jo.


"Kamu kenal dengan dia, Jun?" Jo menarik Milka supaya gadis itu menampakkan diri.


Milka tersenyum kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Michael cari kamu kemana-mana." Juna menatap tajam Milka yang salah tingkah.


"Jo, kerja bagus." "Ternyata kamu gak sia-sia healing. Kamu dapat ikan besar." Juna beralih pada Jo dan menepuk pundaknya.


"Kenapa, Jun?" tanya Jo bingung.


"Kita tangkap dia dan bawa dia ke Jakarta." Jo mencengkram tangan Milka, sebelum gadis itu kabur.


"Lho.. lho.. kenapa aku dibawa? Aku gak mau." Milka mencoba berontak. Juna yang sebenarnya malas memegang Milka jadi kewalahan karena tenaga Milka begitu kuat.


"Jangan diam saja, Jo. Tahan dia." omel Juna pada Jo yang malah bengong.


Jo yang tidak mengerti menuruti perintah Juna. Dia mendekap Milka dari belakang, lalu menyeret dia masuk ke mobil.


"Jo, kok malah tangkap aku. Aku gak mau balik Jo." teriak Milka.


Jo memasukkan Milka ke kursi belakang, dan dia juga duduk di sampingnya. Sedangkan Juna yang menyetir ke bandara.


"Lepasin. Aku akan laporin kalian ke polisi karena tindak penculikan gadis di bawah umur."


"Kamu sudah tua, kenapa gak sadar umur?" protes Jo.


"Pak Juna, aku mohon.. tolong saya gak mau ketemu Michael." mohon Milka dengan wajah memelas.


"Kamu gak bisa lari terus menerus, Milka. Kamu harus hadapi ini." "Michael ingin bicara padamu. Kenapa kamu malah lari?"


"Kamu gak ngerti Pak Juna. Itu urusan keluarga. Kamu gak perlu ikut campur." "Aku mau keluar sekarang, sekarang!"


teriak Milka.


"Jo, dia berisik sekali. Aku pusing. Suruh dia diam." ucap Juna yang tidak bisa berkonsentrasi menyetir.


Jo masih memegang kedua tangan Milka, menahannya seperti penjahat. "Diam lah, Mil. Nanti Juna gak konsen nyetir. Kalau kecelakaan gimana?" Jo mencoba bicara dengan baik-baik.


"Jo, cepet bawa aku kabur. Nanti aku ganti cincinmu 2x lipat." rayu Milka.


"Gak percaya. Kamu bilang kamu gak punya uang." "Udah diem aja. Jangan buat Juna marah." Jo menutup mulut Milka dengan satu tangannya, sementara tangan yang lain masih memegang tangan Milka. Tapi, Milka selalu punya ide. Bekerja di club selama bertahun-tahun membuat dia jadi terampil untuk melepaskan diri. Milka menggigit tangan Jo dengan keras.


"Awwww"


"Dasar wanita aneh." pekik Jo kesal. Dia memegangi tangannya yang sakit. Dia beralih memandang Milka dengan garang, lalu mendekatkan wajahnya sampai jarak menyisakan jarak 5 centi saja.


"Kalau ga diem juga, aku akan tutup mulutmu dengan bibirku yang seksi ini." ancam Jo.


Milka meronta dengan mengarahkan pukulan sembarangan pada Jo supaya pria itu menjauh darinya.


'DUK' kegaduhan di belakang di akhiri dengan kepala Milka yang terbentur kaca jendela saat Juna membelokkan mobil.


"Milka." Jo melihat Milka yang pingsan setelah memegangi kepalanya.


"Jun, dia pingsan." lapor Jo pada Juna.


"Ya, itu akan lebih mudah membawa dia ke Jakarta. Kita obati di pesawat saja." Juna tetap tenang menyetir memasuki area parkir khusus di bandara.


Sebenarnya Juna malas ikut campur keluarga Sutandi, tapi demi kerjasamanya dengan Michael, Juna rela membantu Michael menemukan Milka. Pria itu bilang akan menyelesaikan urusan keluarganya lebih dulu sebelum melanjutkan kerjasamanya.