
Seorang pria berperawakan tinggi berjalan ke arah outlet Art Desain. Dia penuh karisma dan tatapannya begitu tajam. Pria itu menengok kanan kiri mencari sesuatu di sana.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Sela dengan ramah. Dia juga menunjukan senyuman yang manis supaya bisa memikat pelanggan yang ada di depannya.
"Apa Jessica ada?"
"Jessica?" "Bapak kenal Jessica?" Sela balik bertanya pada pria di depannya itu.
"Kamu gak kurang pendengaran, kan?" pria itu menatap tajam ke arah Sela.
"Eh, iya.. Jessica ada." "Maksudnya dia sudah pulang ke kost dengan bodyguardnya." jawab Sela gugup.
"Oke, aku akan ke sana." Pria itu berlalu begitu saja dari hadapan Sela.
Sela menghembuskan nafas lega. Dia tidak kuat jika pria tadi berada dekat-dekat dengannya. Memang pria itu sangat dingin, tapi tidak dapat dipungkiri, pria itu tampan bagaikan aktor Korea.
Jessica memang wanita paling beruntung. Dia punya 2 bodyguard, satu bos dan satu pria asing yang tertarik dengannya. Jika digabungkan, mungkin orang yang menyukai Jessi bisa membentuk Boyband seperti F4 atau EXO.
Sementara itu, pria yang adalah Marcelino Scotts langsung menuju ke kost Jessi dengan menggunakan supercar nya. Dia tentu saja tau dimana kost Jessi karena informan darinya sudah memberikan semua informasi Jessi selama ada di Purwokerto.
Marco menuju lantai 2 di kamar paling pojok. Dia mengetuk pintu dan menunggu dengan tidak sabar. Sudah sekian lama dia ingin bicara pada Jessi. Terakhir Jessi bisa kabur dengan bantuan wanita asing yang entah siapa. Kost Jessi ini adalah satu-satunya tempat yang aman dimana Jessi tidak di jaga bodyguard-bodyguard nya.
Beberapa menit menunggu, pintu tidak kunjung di buka. Marco menarik handle pintu untuk mengecek. Tapi dia malah mendapati pintu kamar Jessi tidak di kunci. Marco masuk perlahan. Dia melihat sekeliling untuk mencari Jessi. Tapi wanita itu tidak ada. Marco beralih ke ranjang. Jessi rupanya ada di sana.
Marco mendekat dengan hati-hati. Dia bersiap untuk menarik selimut yang menutupi tubuh Jessi, tapi niatnya terhenti karena seseorang lebih dulu mengunci tangan Marco dari belakang.
"Siapa kamu?" tanya Marco. Dia tidak bisa menengok ke belakang karena pria itu memegangnya begitu kuat sampai Marco sulit menengok.
"Saya bisa melaporkan anda atas tuduhan stalking Nona Jessi."
"Oh, dasar bodyguard abal-abal." Marco mengenali Ken karena menyebut Jessi dengan sebutan nona.
"Berhentilah menguntit Jessica, Marcellino. Kalian sudah berakhir." ucap Ken dengan nada penuh penekanan.
Wanita yang di ranjang membuka selimutnya. Dia adalah Milka yang bekerja sama dengan Ken untuk menangkap Marco. Ya, semua kebusukan Marco tercium oleh Ken ketika dia mendengar Martin bicara dengan Marco saat Ken sedang berada di toilet.
Flashback on
Ken kesal dengan Jessi yang senang sekali bertemu dengan Jo. Jessi tidak pernah tersenyum selebar itu jika berada di dekatnya. Ken akhirnya memutuskan untuk ke toilet untuk menghindari mereka.
"Marco, sebenarnya kamu itu terobsesi dengan Jessi atau gimana sih?"
'Pak Martin bicara dengan Marco? Jadi selama ini aku tidak salah kalau mencurigai Martin?' batin Ken yang cukup terkejut dengan sebuah fakta dari Martin.
"Kamu benar-benar kurang kerjaan, Mar. Kemarin kamu suruh aku bawa Jessi padamu. Sekarang kamu suruh aku dekati Jessi dan minta aku pacaran dengannya. Dia itu gak mau pacaran denganku." Martin bicara dengan berbisik. "Ya, Oke kita bicara secara langsung saja. Aku ke lantai 3 sekarang."
Setelah memastikan tidak ada lagi suara Martin, Ken keluar dari kamar mandi. Martin akan menemui Marco di lantai 3. Itu artinya, Marco sudah tau keberadaan Jessi dan dia ada di Purwokerto. Ini sangat gawat.
Ken segera bergegas untuk ke lantai 3. Dia harus tau apa yang akan dilakukan Martin dan Marco sekarang. Ken juga tidak lupa meminta bantuan dari Boy untuk mencari tau tentang Martin.
Dua pria yang Ken cari sedang memandang ke lantai bawah sambil bercakap-cakap. Ken mendekati mereka dengan hati-hati. Ken harus berada dekat mereka supaya dapat mengetahui pembicaraan mereka.
"Sulit sekali mendekati Jessica. Dia tidak mau menerima ku waktu aku tembak dia." ucap Martin pada Marco.
"Entah apa yang ada di otak Jessi. Kenapa dia malah bermain-main dengan dua bodyguard yang bodoh itu." jawab Marco sinis.
"Sudah Mar. Hentikan ini. Kamu bisa melakukan tindakan kriminal jika terus mengikuti Jessi." Martin menepuk pundak Marco. Dia juga sebenarnya sudah melakukan tindakan kriminal juga secara tidak sadar.
"Kali ini aku harus bisa mendapatkan Jessica. Aku akan ke kost nya nanti malam."
"Memangnya apa yang akan kamu lakukan Mar?" tanya Martin cemas. Pria seperti Marco bisa melakukan hal yang nekat.
"Aku rindu pelukan Jessi. Cuma dia yang bisa membuat pikiranku membaik."
"Lalu?"
"Aku akan menyerah jika Jessi kali ini menolak ku. Tapi aku harus tau alasan yang jelas dia menolak ku." kata Marco tanpa mengalihkan pandangan ke lantai bawah di mana Jessi dan Jo sedang
mengobrol begitu akrab.
"Oke kalau gitu, tugasku selesai. Aku gak akan bantu kamu lagi."
Ken mendengarkan dengan seksama. Marco akan pergi ke kost Jessi nanti malam. Bersama dengan itu, sebuah email masuk ke ponsel Ken.
Ken membulatkan mata tidak percaya. Sebuah fakta baru lagi, ternyata Martin adalah sepupu Marco. Jadi, waktu di hotel, kemungkinan Marco ada di dalam kamar. Untung saja Jessi tidak jadi masuk ke sana. Pria itu benar-benar licik dan pintar.
Flashback off
Ken sudah menyelesaikan tugasnya untuk menangkap Marco dan menjaga Jessi dari pria itu. Dia sengaja jutek pada Jessi untuk dapat menjalankan tugas ini. Sekarang, Ken hanya tinggal menunggu wanita itu kembali dan menceritakan semua yang dia dengar tentang Marco dan Martin pada Jessi.