
"Halo, Ken. Kenapa kemarin kamu tidak menelepon?"
Jessi mengenali suara wanita di ujung sana yang tampak panik. Itu dari Milka.
"Halo kak. Ini Jessi." jawab Jessi singkat.
"Jessica? Kenapa kamu yang angkat? Di mana Ken?"
"Ken baru saja operasi usus buntu dan sekarang dia sedang tidur." jelas Jessi lesu.
"Sekarang bagaimana keadaan Ken? Apa dia baik-baik saja?"
"Ya, dia baik. Dia hanya butuh istirahat dan pemulihan saja."
"Syukurlah.Pantas saja dia tidak memberiku kabar sejak kemarin." terdengar suara lega di ujung sana.
Jessi terdiam cukup lama. "Apakah Kak Milka sangat menyukai Ken?"
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Tidak apa-apa. Sejak dulu Ken sangat menjaga jarak dengan wanita. Dia begitu dingin pada wanita. Tapi Ken sangat memperhatikan Kak Milka. Dia pasti sangat menyukai Kak Milka. Jadi, aku penasaran apakah Kak Milka juga menyukai Ken?"
Giliran Milka yang terdiam. Apakah yang dikatakan Jessi benar? Ken dingin pada tiap wanita? Jika ya, Milka merasakan seperti diterbangkan ke awan.
"Hubungan kami sempat terputus selama beberapa waktu. Tapi, sejak dulu aku menyukai Ken."
"Baguslah kalau begitu." ada nada yang berat ketika Jessi mengatakan itu.
"Apakah bisa kabari aku jika Ken sudah sadar? Aku ingin mendengar suaranya."
"Tentu saja. Nanti aku akan kabari Kak Milka."
Jessi menutup teleponnya. Sekarang Jessi harus benar-benar move on dari Ken. Perasaan Jessi ini harus dia kubur dalam-dalam supaya tidak ada berbagai pihak yang tersakiti.
"Sepertinya memang aku yang terlalu baper padamu, Ken." kata Jessi pada Ken yang masih tertidur.
'Duuuut' suasana hening itu terpecah ketika terdengar bunyi buang angin yang cukup keras dari arah Ken.
"Astaga.. kamu merusak suasana saja Ken." teriak Jessi yang geli mendengar Ken buang angin di depannya. Jessi langsung buru-buru melepaskan tangan Ken, lalu berlari keluar.
*
*
*
Ken membuka matanya perlahan. Dia merasakan jika dia sudah tertidur terlalu lama. Sekarang, Ken merasa begitu lapar. Ken lalu melihat ke arah tangannya. Dia baru ingat jika kemarin dia tidur sambil memegang tangan Jessi. Tapi, Jessi sudah tidak ada di sampingnya. Ken beralih ke arah jam dinding di depannya. Jam 8 pagi. Artinya, Ken tertidur selama hampir 24 jam.
"Kamu sudah sadar, Ken? Aku kira kamu pingsan." Jessi baru saja masuk ke kamar dan mendapati Ken sudah bangun. Dia juga membawa Martin ikut serta di belakangnya.
"Anda darimana saja, Nona?" tanya Ken curiga.
"Maafkan tingkah saya yang lalu, Pak. Saya hanya overprotektif saja pada Jessi." Ken segera mengatakan permintaan maaf pada Martin karena pria itu pasti kesal setelah Ken menuduhnya.
"Dedikasimu begitu tinggi, Ken." "Lain kali, cek dulu sebelum menuduh sembarangan."
"Baik, Pak. Sekali lagi maafkan saya."
"Oh iya, Ken. Kemarin Milka menelepon. Dia minta kamu segera menghubunginya." Jessi berjalan ke nakas untuk menyiapkan makanan Ken yang masih dibungkus plastik wrap.
"Apa yang anda katakan pada Milka, nona?" Ken langsung mengambil ponselnya dan langsung menelepon Milka tanpa menunggu jawaban Jessi. Dia takut kalau Jessi bicara macam-macam pada Milka.
"Halo, maaf jika aku baru menelepon." "Iya, aku tidak apa-apa. 3 hari lagi pasti sudah sembuh, kamu tidak perlu khawatir." "Jangan ke sini. Aku tidak ingin kamu repot." "Ya.. I miss you too."
Jessi memperhatikan Ken bercakap-cakap dengan Milka. Tampak Ken begitu senang ketika mendengar suara Milka. Dan dia baru pernah mendengar Ken bisa romantis pada wanita.
"Aku tidak bicara macam-macam. Aku hanya memberitahu dia jika kamu masuk rumah sakit." jelas Jessi setelah Ken menutup teleponnya.
Ken sedikit lega. Dia sudah berpikir yang tidak-tidak pada Jessi.
"Makan dulu, Ken." Jessi membantu Ken untuk bisa bersandar pada ranjang.
"Tapi, aku belum buang angin."
"Sudahlah.. dokter bilang jika pencernaanmu sudah berjalan dengan baik. Jadi, makan saja." Jessi sudah siap menyendokkan bubur ke depan mulut Ken. "Cepat buka mulut mu."
Ken menurut saja. Dia memang sudah sangat lapar. Dia menerima suapan demi suapan dari Jessi sampai piringnya kosong.
"Terimakasih Nona." Ken tersenyum lebar pada Jessi.
"Tidak masalah. Ini bagian dari pekerjaan, Ken." balas Jessi yang juga tersenyum lebar pada Ken.
"Keeeeen.." teriakan itu membuat ketiga orang yang berada di ruangan kompak menengok ke arah pintu.
Milka menyeruak masuk, lalu dia langsung memeluk Ken.
"Milka, kenapa kamu di sini?" tanya Ken yang terkejut sekaligus bingung dengan kehadiran Milka. Baru saja dia menelepon gadis itu dan sekarang dia sudah ada di sini?
Jessi segera menyingkir dan berdiri di dekat Martin untuk memberikan Milka ruang yang lebih lebar.
"Semalam aku langsung beli tiket dan langsung pergi ke sini." terang Milka yang belum juga melepaskan pelukannya.
"Kamu sungguh nekat. Tidak pernah berubah." omel Ken.
"Emm.. sebaiknya kami keluar dulu. Aku harus bekerja." pamit Jessi di sela-sela percakapan Milka dengan Ken.
"Thanks Jess karena sudah menjaga Ken." Milka menoleh pada Jessi untuk sesaat. Tapi di detik berikutnya, dia kembali berfokus pada Ken.
"Ayo, Pak." Jessi menarik tangan Pak Martin untuk cepat pergi dari situ.