
Jessica kembali ke hotel. Dia segera mengemasi pakaiannya dengan asal, sebelum Ken datang dan mencegahnya. Hari ini luar biasa panjang. Jessi seperti naik roller coaster tanpa istirahat.
Beberapa menit kemudian, koper Jessi sudah siap. Dia membuka pintu, tapi Jessi tentu kalah cepat dari bodyguard a.k.a tunagannya itu. Ken datang dan berdiri di depan Jessi dengan nafas terengah-engah. Dia tentu saja harus mengejar Jessi dan menjelaskan semua kesalahpahaman ini.
"Jessica..dengarkan aku dulu." Ken memegang bahu Jessi.
"Minggir Ken. Pilih saja wanita itu." Jessi mendorong tubuh Ken. Tapi, tenaga Jessi kalah besar. Ken malah mendorong Jessi ke dalam. Dia juga tidak lupa menutup pintu kamar dengan menggunakan satu kakinya.
Kini tubuh Jessi sudah terpepet ke tembok dan berada dalam kungkungan Ken. Ken menjamin Jessi tidak akan bisa kabur, kecuali dia menendang organ pentingnya.
"Jessi, yang aku sukai itu kamu bukan Milka. Aku udah gak punya perasaan sama dia." jelas Ken yang coba menenangkan Jessi. Dia tau Jessi masih emosi padanya. Itu terlihat jelas dari mata Jessi.
"Bohong." "Kamu sulit buang masa lalumu dengan Milka, kan?"
"Apa kamu perlu bukti kalau aku menyukaimu?" Ken menaikkan satu alisnya.
"Ya, apa buktinya kamu pilih aku dan bukan Milka?" tantang Jessi.
"Kalau gitu, tutup matamu." tangan Ken beralih memegang pipi Jessi.
Jessi langsung menutup matanya tanpa dipaksa. Dia tau apa yang akan dilakukan oleh Ken. Jessi sudah menunggu datangnya saat ini.
Sementara itu Ken tersenyum melihat Jessi yang mulai memajukan bibirnya. Ken tidak bermaksud mengerjai Jessi. Dia hanya ingin Jessi lebih tenang supaya dia bisa jelaskan pada Jessi soal Milka.
Ken mengecup dahi Jessi sebelum Jessi tersadar. Dia lalu langsung memeluk Jessi begitu wanita itu membuka matanya karena, terkejut.
"Aku takut gak bisa berhenti jika menyentuh bibirmu, Jess. Sabarlah sebentar lagi." jelas Ken sebelum Jessi melayangkan protes. "Kamu cukup rasakan jantungku Jess. Itu terdengar jelas dan gak mungkin bisa berbohong."
Jessi memang merasakan jantung Ken seperti akan melompat keluar. Itu tidak beda jauh dari dirinya.
"Ken,, aku cemburu kalau kamu perhatikan Milka." aku Jessi akhirnya.
"Iya, aku tau. Aku minta maaf, Jess." "Kamu tau Milka itu sudah seperti adikku sendiri." "Dia mati-matian merahasiakan soal keluarga kandung yang sudah membuangnya. Jadi, aku kaget ketika Jo bilang nama Sutandi."
"Jadi, Milka itu anak orang kaya juga?" Jessi menyembulkan kepala dari dada bidang Ken.
"Ya, dia masih bagian dari keluarga konglomerat. Makanya aku curiga pada Jo. Kenapa dia tiba-tiba, mendekati Milka?"' pikiran Ken menerawang rencana yang mungkin dilakukan Jo. !
"Ken, jangan begitu. Jo orang yang baik. Dia gak mungkin punya pikiran yang jahat."
"Tau apa kamu soal, Jo?" Ken melepaskan Jessi. Ekspresinya juga berubah ketika Jessi membela Jo.
"Ya,, aku kan pernah kerjasama dengan Juna. Jadi aku juga kenal Jo dengan baik." oceh Jessi dengan bangganya.
"Oh..kenal dengan baik ya?" Ken tersenyum sinis. Dia berbalik badan dengan wajah memerah. Apa Jessi sengaja ingin membuatnya cemburu? Atau gadis itu memang benar-benar polos?
"Jangan bilang kamu cemburu juga, Ken?" ejek Jessi. Dia berputar untuk melihat wajah Ken. "Nah, kan.. kamu juga marah kalau aku perhatikan pria lain." Jessi menangkap basah pria yang sedang kesal itu.
Dengan satu gerakan, Ken menjepit kepala Jessi di ketiaknya.
"Ken.. lepasin Ken.. kamu bau." teriak Jessi sambil menepuk nepuk pantat Ken. Tapi percuma saja Jessi melawan. Badan Ken jauh lebih besar. "Aku minta maaf, Ken..ampun.."
Ken melepaskan Jessi dengan segera. Rasa kesalnya berganti dengan sebuah tawa kecil ketika melihat rambut Jessi sudah acak-acakan. Lipstik Jessi juga tercoret sampai ke pipinya. Pasti tadi wajah Jessi bergesekan dengan kemejanya.
"Kamu kayak badut ancol. Cepat cuci muka. Kita pulang saja ke Jakarta." Ken mengangkat tubuh Jessi, lalu menggendongnya ala karung beras seperti tadi ketika memaksa Jessi pergi ke dokter.
"Keeeeen.. udah dong.. aku bisa jalan sendiri." Jessi meronta lagi.
Ken baru menurunkan Jessi di depan wastafel. Jessi hampir pingsan melihat makeup nya berantakan dan memang dirinya terlihat seperti badut. Pantas saja Ken menyuruhnya cuci muka.
"Waktu kamu 10 menit. Di mulai dari sekarang." Ken melihat jam tangannya.
"Sudah." Jessi berhasil selesai dalam waktu 7 menit. Dia bangga sekali bisa menyelesaikan misi dari Ken.
"Ini baru calon istri Ken." Ken mengambil handuk di sampingnya, lalu dia dengan lembut mengusap wajah Jessi dengan handuk itu.
"Ken, kita naik pesawat Boy?" tanya Jessi setelah Ken selesai mengeringkan wajahnya.
"Naik pesawat kelas ekonomi."
Jessi melongo. Tapi dia tidak bisa protes pada Ken karena Ken sudah lebih dulu melenggang membawa koper miliknya.
*
*
*
Semua orang memandang Jessi dan Ken sejak pertama mereka masuk ke dalam pesawat sampai mereka duduk pada bangku mereka di bagian belakang.
Mereka pikir Jessi adalah artis Korea yang sedang jalan-jalan di Bali. Dan Ken seperti bodyguardnya.
"Ken, kamu kan bisa bilang Boy untuk pinjam pesawatnya." bisik Jessi yang kesulitan untuk bergerak.
"Jess, ini cuma 2 jam. Gak lama." Ken duduk dengan santai. Dia melepaskan kacamata hitamnya supaya bisa melihat wajah Jessi dengan lebih jelas.
"Ini sempit, Ken." bisiknya lagi. Dia tidak mau menyinggung orang yang ada di sekitarnya yang bisa naik pesawat ekonomi. Beda dengan Jessi. Jika berpergian, Jessi akan pilih first class atau minimal bisnis.
"Iya sayang.. aku tau ini sempit."
"Kamu bilang apa, Ken. Coba ulangi." Jessi mencengkram pergelangan tangan Ken di sampingnya. Dia tidak percaya apa yang baru diucapkan oleh Ken.
"Gak ada siaran ulang." tolak Ken mentah-mentah. Sbenarnya Ken sangat geli dirinya bisa mengucapkan kata 'Sayang'.
"Keeeen.." rengek Jessi. Suara Jessi cukup keras untuk mengundang perhatian orang di samping dan depan mereka.
"Bagian mana yang mau diulang?" Ken mencoba pura-pura bodoh.
"Ken,,ulangi atau aku akan cium kamu." ancam Jessi.
"Ya sudah, cium saja." jawab Ken cepat.
"Ish.. kamu menyebalkan." Jessi mencubit Pinggang Ken dengan kuat. Tapi, Ken tidak seperti Jo. Dia sama sekali tidak merasakan sakit, malah kegelian.
"Iya.. iya.." "Aku cuma bercanda, sayang." Ken menahan tangan Jessi.
Wajah Jessi bersemu merah. Mendengar Ken mengucapkan sayang saja rasanya bikin hati Jessi berbunga-bunga.
"Sayang.. sayang.. sayang.." ucap Ken berulang kali.
"Udah.. udah Ken." "Malu." Jessi menutup mulut Ken dengan tangannya karena 90% penumpang bahkan pramugari di sana memperhatikan mereka.
"Jadi, gak apa-apa kan naik ekonomi?" tanya Ken setah terbebas dari Jessi.
"Asal sama ayang.. aku rela." gombal Jessi.
Ken tertawa. Dia mengacak-acak rambut Jessi dengan gemas.
"Sekarang, kita gunakan waktu yang singkat ini untuk menentukan pernikahan kita." lanjut Ken. Mereka harus berkomunikasi dengan baik supaya nanti mertuanya tidak mengomel.
"Aku ikut ayang aja.. makin cepat makin bagus."