Love U My Bodyguards

Love U My Bodyguards
Dia pacarku



Hari ini adalah hari terakhir Jessi berada di Jakarta. Dia harus kembali ke kota kecil itu lagi karena Pak Martin sudah meneleponnya. Jessi tentu saja tidak akan menyia-nyiakan hari ini dan dia memutuskan untuk menikmati hari terakhirnya dengan pergi makan sesuatu yang tidak ada di sana.


Jessi sudah sampai di restoran Jepang. Dia ingin makan sashimi kesukaannya, karena di Purwokerto dia tidak menemukan restoran seperti ini.


Jessi duduk sendirian, sedangkan Ken berdiri di belakangnya. Ya, sejak pengakuannya pada Ken, pria itu jadi lebih diam dan tidak banyak bertanya lagi pada Jessi. Dia juga tidak melarang Jessi melakukan apapun.


Tapi, Ken tetap protektif pada Jessi jika mereka berada di luar rumah. Bahkan Ken akan mengikuti Jessi jika wanita itu pergi ke toilet. Dia akan menunggu di depan toilet sampai Jessi selesai.


"Mba.. yang ini satu ya.." Jessi menunjuk menu set dengan porsi besar.


"Baik. Silahkan di tunggu." Pelayan berlalu dari Jessi.


Jessi duduk manis sambil memainkan ponselnya. Sebenarnya Jessi ingin bicara pada Ken, tapi dia gengsi dan malu. Akhirnya Jessi memilih mengecek instagram dan twitternya sambil menunggu makanan datang.


Baru 10 menit berjalan, Jessi merasa bosan. Dia tidak bersemangat untuk melihat media sosial. Perasaannya tidak pernah baik sejak peristiwa memalukan malam itu.


Jessi menengok ke arah pintu masuk dan tidak sengaja menemukan sosok yang dia kenal.


"Kak Milka." teriak Jessi sembari melambaikan tangannya ke atas.


Ken yang sempat melamun menengok ke arah wanita yang tersenyum memandang Jessi. Ekspresinya langsung berubah begitu wanita itu mendekat.


Begitu juga Milka. Senyumnya hilang ketika dia melihat sosok yang berdiri di belakang Jessi.


"Kebetulan sekali kita ketemu di sini." ucap Jessi yang belum menyadari pandangan aneh Milka dan Ken.


"Eh, iya. Kebetulan." jawab Milka gugup.


"Ken, ini orang yang menolongku waktu itu." Jessi menengok ke belakang. Tapi, Ken tampak tidak mengalihkan pandangannya dari Milka.


"Kalian sudah saling kenal?" akhirnya Jessi menyadari ada sesuatu.


"Dia pacarku." jawab Ken lirih.


Jessi membulatkan matanya. Dia tidak percaya dengan kebetulan seperti ini. Tapi, Milka tampak tidak menyangkal perkataan dari Ken.


"Ikut aku sebentar." Ken memegang pergelangan tangan Milka, lalu mereka pergi meninggalkan Jessi yang masih terbengong sendirian.


*


*


*


"Ken, lepas." Milka menghempaskan tangan Ken dengan kasar. Saat ini mereka sudah berada di Koridor dekat toilet.


"Kamu yang kabur. Pertanyaan itu seharusnya kamu tanyakan pada dirimu sendiri."


Ken terdiam karena perkataan dari Milka. Ken memang pergi dari panti dan tidak menjelaskan pada Milka. Tapi, beberapa bulan kemudian, Ken kembali ke panti untuk mencari Milka. Sayang sekali, Milka pergi juga dari panti dan tidak ada satupun orangpun yang tau kemana Milka pergi. Ken selama ini mencari Milka, tapi dia tidak pernah menemukannya. Ken hanya pernah melihat Milka pada club di bali. Tapi Ken kehilangan jejak lagi karena Marsha tiba-tiba hilang dan Ken harus mencari Marsha.


"Maafkan aku, Mil." Ken menarik tangan Mila supaya wanita itu dapat dia peluk.


"Kamu jahat sekali, Ken. Kamu meninggalkanku sendiri tanpa penjelasan." ucap Milka kesal.


"Aku kembali lagi ke panti waktu itu, tapi kamu sudah tidak ada. Dan aku mencarimu selama ini."


"Kamu tidak akan menemukanku karena aku bekerja di club." Milka jelas tahu bahwa seorang Ken tidak akan pernah menyentuh club malam.


"Milka?!" Ken menyentak Milka karena terkejut.


"Ken, aku tidak punya keahlian apapun. Lagipula aku hanya bekerja dan tidak melakukan hal yang buruk."


"Tetap saja tempat itu buruk dan kamu seorang wanita." Ken tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya dunia club malam. Ken hanya pernah masuk beberapa kali untuk menjaga Marsha dan dia benar-benar tidak suka dengan tempat itu.


"Apa peduli mu, Ken. Kita sudah menjalani hidup masing-masing, bukan?" Milka melepaskan Ken. Dia memandang pria yang tumbuh dengan begitu sempurna. Penampilan Ken jauh lebih bersih dan terawat.


"Kita masih ada hubungan, Milka." Ken memegang tangan Milka lalu mengusapnya dengan lembut.


"Tidak, Ken. Hubungan kita sudah berlalu setelah kamu memutuskan pergi." kata Milka dengan suara bergetar.


"Tidak bisa. Kita belum putus."


"Keen.. aku sudah tidak punya perasaan apapun padamu. Waktu itu kita masih SMA. Itu hanya cinta monyet saja." Milka melengos ketika Ken menatapnya intens.


Ken menangkap wajah Milka dengan kedua tangannya. Dia lalu mendekatkan wajah pada Milka sampai wanita itu tidak tahan dan menutup matanya.


"Ken!" Teriakan itu membahana ke seluruh ruangan. Jessi berdiri tidak jauh dari mereka dengan wajah yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.


"Kamu tidak punya perasaan." Jessi melenggang keluar dengan gontai. Dia sampai menabrak kaki meja. Tapi karena tidak tahan dengan apa yang dilihatnya, Jessi tidak peduli dan terus saja berjalan meskipun kakinya sakit.


"Nona.." Ken hendak mengejar, tapi tangan Milka menahannya.


"Dia benar. Kamu sungguh keterlaluan kalau kamu meninggalkanku lagi."


"Milka..jangan bicara seperti itu." "Aku sungguh sangat rindu padamu."


"Kalau begitu, kita cari tempat yang baik untuk bicara."