
"Yakin, di sini?" tanya Jessi yang enggan untuk turun.
"Ya, kenapa? Apa kamu tidak suka roti canai?"
Roti canai dan roti John. Jessi membaca tempat yang di sebutkan Martin yang terletak di seberang mereka. Pak Martin mengajak Jessi makan di emperan. Seketika itu juga, Jessi tampak sangat shock. Ekspetasinya makan di restoran bintang 5 benar-benar terlalu tinggi.
"Maaf, tapi Jessica alergi coklat. Lebih baik kita pindah saja." jawab Ken yang juga belum ikut turun.
"Ooh.. kalau seafood?"
"Ya, it's better." kata Jessi cepat.
"Okey, di sana ada restoran seafood juga." Pak Martin menunjuk restoran yang berada 300 meter di seberang mereka.
Jessi turun dari mobil. Dia mengambil lengan Ken, dan memilih berjalan dengan pria itu.
"Sudah ku bilang, pakaianmu itu terlalu berlebihan. " Ken berbisik pada Jessi sambil menahan tawanya.
"Diam lah, Ken." "By the way, kenapa kamu tau kalau aku alergi coklat?"
"Anda yang kasih tau pada saya."
"Hah? Kapan?"
"Waktu kita cari tiket BTS atas perintah Marsha." ingat Ken. Waktu itu, Jessi meminta Ken untuk berhenti di sebuah cafe karena Jessi haus. Ken memperhatikan Jessi yang sedang memesan dan Ken dengar Jessi bertanya dengan detail pada pelayan tentang minuman yang dia pesan apakah mengandung coklat atau tidak. Jessi memang tidak memberitahu secara spesifik. Tapi setelah mengganti menu beberapa kali, Ken baru paham jika pasti Jessi menghindari coklat karena alergi.
"Hmm.. kamu peka sekali." "Aku harus hati-hati padamu."
"Saya di bayar mahal untuk mengawasi Nona. Jadi Saya harus tau segala sesuatu tentang nona."
"Ayo nyebrang.." Pak Martin sudah mengulurkan tangan pada Jessi. Tapi, Ken segera menangkap tangan Jessi lebih dulu. Dia dengan percaya diri membawa Jessi menyebrang.
Pak Martin hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya yang aneh. Tadi mereka ribut di mobil. Sekarang malah gandengan tangan. Sudah pasti ada sesuatu diantara mereka.
*
*
*
Restoran seafood yang dimaksud Pak Martin memang bukan restoran megah. Tapi, Jessi lumayan lega karena tempat makan mereka sekarang jauh lebih baik daripada makan di emperan tadi.
Jessi bisa mencium bau laut dari bangkunya. Dia sudah memesan satu porsi kerang dan king crab.
"Jadi, apa yang ingin bapak bicarakan?" tanya Jessi yang menatap pria itu dengan intens.
Jika soal pekerjaan, Jessi akan serius dan akan menanggapi dengan senang hati.
"Wah, kamu semangat sekali Jess." puji Pak Martin. Dia kagum dengan semangat Jessi. Tidak salah jika Pak Martin mempekerjakan Jessi.
"Ya, aku berencana untuk mengajukan proposal untuk properti sebuah hotel yang baru di bangun dekat sini."
"Bagus dong pak. Saya kira perusahaan bapak itu tidak ada konsumennya." jawab Jessi senang.
Pak Martin tertawa mendengar Jessi yang melontarkan sindiran pedas tapi benar adanya.
"Apakah kamu bisa bantu bikin proposalnya dan konsepnya?" tanya Pak Martin dengan penuh harap.
"Itu bukan soal sulit pak. Coba kirimkan saja spek dari pihak hotel."
"Thank you Jess." Pak Martin tersenyum senang.
Makanan mereka datang. Jessi semangat sekali menatap makanan-makanan kesukaannya itu.
Pak Martin memandang Jessi yang langsung makan tanpa malu-malu. Memang Jessi itu antimainstream.
"Pelan-pelan Jess." ingat Ken.
"Hmmm.."
"Ken, makanlah.. kenapa kamu hanya liat Jessi saja?" tanya Pak Martin yang curiga pada Ken.
"Saya bertugas mengawasi Jessi. Jadi, saya akan makan setelah kalian makan."
"Memangnya Jessi anak kecil yang makan harus diawasi?" Pak Martin geleng-geleng kepala lagi. Tapi, karena sudah lapar, akhirnya Dia juga mulai makan dan membiarkan Ken diam memandangi mereka.
"Ini enak sekali pak." ucap Jessi dengan mulut penuh makanan.
"Jess, itu di bibir kamu.." Pak Martin menghentikan makannya karena melihat bibir Jessi yang belepotan saus. Tidak sampai disitu, Pak Martin membantu mengelap sudut bibir Jessi dengan menggunakan tisu.
"Pak.. aduh.. saya saja." Jessi mengambil tisu dari tangan Pak Martin meskipun itu percuma karena mulutnya sudah bersih.
"Saya ke toilet dulu." Pak Martin menggeser kursinya untuk pergi ke toilet.
"Sepertinya dia menyukaimu, nona." ucap Ken pada Jessi yang kembali melanjutkan makannya.
"Ya, siapa yang tidak suka Jessica yang cantik ini?" Jessi menyibakkan rambutnya ke belakang.
"Hati-hati.. jangan sampai kasus Marco terulang lagi."
"Ken, kamu terlalu berlebihan. Dia sepertinya baik."
Ken diam saja. Dia tidak akan berdebat soal urusan pribadi Jessi.
"Ken, coba ini..ini enak." Jessi memberikan satu suapan ikan bakar dengan nasi pada Ken. "Cepat buka." paksa Jessi.
Ken mau tidak mau membuka mulutnya menerima suapan dari Jessi.
"Nah, gitu dong." "Good boy.."
Ken langsung menyambar minumannya karena ternyata ikan bakar itu pedas sekali.
"Nona.. saya tidak bisa makan yang terlalu pedas."
"Serius?" "Kamu payah sekali Ken." Jessi tertawa melihat Ken kepedesan.
"Kenapa dia lama sekali di toilet? Aku sudah mengantuk."
"Ini baru jam 9 Ken." Jessi menatap jam tangannya. Dia lalu menengok pada Ken, tapi Ken sudah tertidur sambil duduk.
"Wah, kenapa dia tidur?" "Ken.. bangun Ken." Jessi mengguncangkan tubuh Ken. Tapi Ken tidak bergerak juga.
Pada saat itu, 2 pria bertubuh kekar masuk ke dalam restoran. Satu pria berada di depan, lalu satu pria lagi menghampiri Jessi.
"Siapa kalian?" Jessi mulai panik.
"Jangan berisik. Ikut kami." Pria itu langsung membawa Jessi dan membawanya ala karung beras.
Pegawai di sana tidak berani mendekat karena pria itu menyeramkan. Pria itu juga memberi kode supaya mereka tidak mendekat.