Love U My Bodyguards

Love U My Bodyguards
Pilih aku atau Ken?



3 bulan kemudian


Jessi menutup pintu ruangan dengan kesal. Dia baru saja mendapatkan keponakan baru, tapi moodnya langsung rusak begitu Sania mulai meminta dia menikah dan punya anak juga. Masalahnya, di dalam ada Ken dan Jo. Mereka bertiga baru bertemu lagi di rumah sakit setelah Jessi menghindar cukup lama. Ya, Jessi sangat jarang berinteraksi dengan mereka sejak kembali ke Jakarta. Jessi memilih untuk memulai usaha desain interior barunya. Menyibukkan diri terbukti ampuh untuk melupakan dua bodyguard yang sama-sama menyukai Jessi.


"Jess, tunggu." Ken mengejar Jessi, lalu memegang pergelangan tangannya.


"Kita perlu bicara." Jo ikut menyusul Ken dan Jessi.


"Bicara apa sih?" kata Jessi gugup.


Dua pria yang kini di depannya itu memandang Jessi intens. Jessi jamin pipinya pasti sudah bersemu merah.


"Jangan menghindar lagi, Jess." Ken memulai pembicaraan serius ini. Dia tidak peduli jika perawat dan orang-orang berlalu lalang di sekitar mereka bertiga.


"Siapa yang menghindar Ken? Aku sibuk." jawab Jessi dengan suara meninggi.


"To the point saja, Ken." Jo menengok pada Ken. "Jadi, kamu pilih aku atau Ken?" todong Jo.


Jessi menelan ludah. Jangankan memilih, memikirkan status sosial keduanya saja Jessi sudah pusing. Jo anak yatim piatu yang sangat mandiri. Dia dari keluarga biasa saja dan harus bekerja keras untuk mendapatkan uang. Sedangkan Ken lebih parah dari Jo. Dia bahkan dibuang sejak bayi di panti asuhan. Hidupnya dibaktikan untuk panti asuhan sehingga meskipun Ken dapat uang banyak, dia tidak punya banyak tabungan. Dari, segi sifat, semua tidak masalah untuk Jessi. Ken meskipun kaku, dia sebenarnya sangat baik dan perhatian pada orang yang dia sayangi. Jo kebalikan dari Ken. Dia sangat ceria dan selalu bisa membuat orang disekitarnya tertawa. Satu-satunya penghalang adalah memang soal status sosial.


"Okey, kalau kamu bingung, gimana kalau kamu kasih kami masing-masing waktu 1 minggu untuk jalan bersama." saran Ken akhirnya.


"Tapi,,,"


"Jess..soal status sosial, itu bukan penghalang. Aku akan perjuangkan jika memang kamu menyukaiku." potong Ken lebih dulu. Dia seolah bisa membaca keraguan di wajah Jessi.


Jessi terperangah. Bagaimana pria itu tau apa yang mengusik pikiran Jessi?


"Ya, aku juga. Aku sudah biasa dihina oleh Juna, jadi itu gak masalah." Jo ikut menimpali Ken.


"Kalian udah gak waras ya?" ucap Jessi sembari memandang Ken dan Jo bergantian.


"Jawab saja, iya atau tidak." "Kami akan mundur kalau memang kamu gak mau menerima ini." Ken terlihat tidak sabar.


"Eh, kamu aja kali yang mundur." Jo melotot pada Ken.


"Aku.." jawab Jo cepat.


"Aku yang punya ide, jadi aku dulu." Ken tidak mau mengalah.


"Suit saja. Yang menang yang duluan." saran Jessi. Dia sudah ingin pergi dari koridor karena rupanya sudah ada beberapa orang yang sengaja mengamati percakapan mereka.


"Oke.." jawab Ken dan Jo bersamaan. Mereka bersiap untuk suit.


Jessi mengamati keduanya. Permainan ini tampak seru karena dalam rangka memperebutkannya.


"Yes." Jo berteriak senang. "Liat kan, aku duluan."


Ken tidak menunjukkan ekspresi apapun. Dia menjaga supaya rasa kecewanya tidak terlihat di depan Jessi.


"Jadi, seminggu ke depan, aku akan buat kamu mencintaiku, Jess." Jo memegang tangan Jessi, lalu menggenggamnya erat dengan kedua tangannya. Tidak ada penolakan dari Jessi. Gadis itu terlihat santai seperti biasa.


"Sekarang aku mau pulang. Aku capek."


"Baik princess. Ayo." Jo melepaskan Jessi, lalu dia merogoh saku celananya untuk mencari kunci.


"Tunggu, Jess." Ken menahan langkah Jessica. Dia melepaskan jasnya di depan wanita itu. "Pakai ini. Kalau kamu naik motor siang-siang gini, nanti kulit mulus mu bisa gosong."


"Heh, ini giliranku." protes Jo.


"Aku gak jalan sama dia. Jangan lebay." Ken menyampirkan jasnya pada bahu Jessi, lalu dia pergi dari koridor.


"Jo, udahlah. Ayo." ajak Jessi. Dia sudah ingin pulang dan moodnya hancur berantakan.


Ken memikirkan keduanya dengan perasaan campur aduk. Dia tentu saja cemburu pada Jo yang merangkul Jessi. Tapi, Ken harus fair. Dia sudah kalah dari Jo.


'Sabar, Ken. Hanya satu minggu.' batinnya. 'Tunggu saat giliranmu nanti.'