Love U My Bodyguards

Love U My Bodyguards
Aku ganteng ya?



Ponsel Jessi berdering. Wanita itu meraba nakas untuk mencari ponselnya. Dia tidak sempat melihat siapa yang menelepon dan hanya menekan tombol hijau saja.


"Morning sunshine.." suara cempreng Jo membuat Jessi sadar sepenuhnya.


"Joo.. kenapa pagi-pagi telepon?"


"Ini udah jam 10 Jess." ingat Jo.


Jessi memandang jam di ponselnya sesaat, lalu dia kembali menempelkan ponsel di telinga.


"Oh iya, aku kesiangan."


"Apa perutmu baik-baik saja?" tanya Jo penasaran. Kemarin mereka makan ayam geprek di pinggir jalan. Dan Jessi menghabiskan 2 porsi ayam geprek dengan cabe yang cukup banyak.


"Ya, sejauh ini masih aman."


"Hari ini aku ada urusan dengan Juna keluar kota. Apa kamu mau ikut?"


"Ke mana?"


"Ke Bali."


"Deal, aku ikut." jawab Jessi bersemangat.


"Mau aku jemput atau..."


"No, aku yang ke kantor Juna." tolak Jessi. Sania bisa stress kalau lihat Jessi boncengan naik motor dengan Jo.


"Aku tunggu ya Baby.. Tolong jangan lama-lama karena kamu tau Juna tidak suka menunggu."


"Okey, Jo.. see you."


Jessi melompat dari ranjang. Dia langsung mengambil koper di pojok ruangan, dan mengisi dengan beberapa potong pakaian yang ada di walk in closet miliknya. Jessi tidak butuh waktu lama karena ingat pesan Jo. Jika ada yang tertinggal, dia akan membelinya di Bali.


"Sayang.. mau kemana?" Sania memanggil Jessi dari meja makan.


"Pagi, Mom.. Dad.." Jessi terpaksa menghentikan langkahnya, lalu menghampiri dan cipika cipiki dengan Bayu Sania.


"Ada temen ngajakin ke Bali, Mom." "Mendadak."


"Cewek apa cowok?" tanya Bayu curiga.


"Dad.. kenapa jadi protektif gini sih? Dulu Dad gak pernah tanya Jessi mau pergi sama siapa." omel Jessi.


"Jessica, Dad gak mau kejadian Marco terulang lagi."


Jessi diam. Dia tidak mungkin bilang jika akan pergi dengan Juna. Bayu akan lebih marah lagi karena Jessi pergi dengan suami orang.


"Ya udah, Jessi gak jadi pergi."


Jessi sudah bersiap kembali ke kamar dengan lesu. Tapi, suara Bayu menghentikan langkah Jessi.


"Ken akan ikut denganmu."


Jessi merasakan kupingnya berdengung. Apa Bayu baru saja mengatakan Ken?


Detik berikutnya Jessi bisa melihat Ken muncul dari balik pintu dengan pakaian bodyguard dan kacamata hitam.


"Dad,, tapi, kenapa Ken? Apa Dad percaya sama dia?" tanya Jessi kebingungan.


"Ya, kamu boleh pergi kalau kamu membawa Ken." ulang Bayu dengan tegas.


"Daaaad..."


"Terserah kamu, Jess."


Jessi menatap Ken yang tidak terbaca ekspresinya karena menggunakan kacamata hitam.


'Kenapa beruang itu selalu mengikutiku?' batin Jessi kesal.


*


*


*


"Aku tidak mengajak Tiffany, tapi kamu malah mengajak 2 orang lagi. Apa kita mau study tour?" bisik Juna dengan nada penuh amarah.


"Sorry Jun. Namanya juga usaha cari pasangan hidup." jawab Jo sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Kini Ken dan Jessi sedang duduk dengan wajah muram. Mereka seperti anak TK yang sedang marahan. Jessi kesal pada Ken yang tiba-tiba muncul di rumahnya, seolah Ken memang sengaja. Tapi bagaimana mungkin Ken tau jika Jo mengajak Jessi ke Bali?


"Pesawat sudah siap Jess." setelah urusan potong gaji dengan Juna selesai, Jo menghampiri Jessi dan Ken.


"Ayo, baby.." Jessi bangkit dari duduknya, lalu dia merangkul lengan Jo. Dia sengaja meninggalkan koper miliknya supaya Ken yang membawa untuknya.


Ken mengepalkan tangannya dengan perasaan kesal. Sudah pasti Jessi ingin memanas-manasi dia dengan bermesraan dengan Jo seperti itu.


Pesawat pribadi Juna begitu nyaman. Jessi langsung mengambil tempat bersebelahan dengan Jo. Juna duduk seorang diri sedangkan Ken duduk bersebrangan dengan Jo-Jessi.


"Kamu udah sarapan, beb?" tanya Jo yang sengaja membesarkan suaranya supaya Ken mendengar.


"Belom.. Gimana mau makan kalau tadi kamu suruh cepet-cepet?" omel Jessi.


"Ya udah..sekarang kita sarapan dulu..Aaaaa" Jo mengambil satu potong roti, memotongnya dengan tangan, lalu dia mengarahkan ke mulut Jessi.


Jessi sebenarnya malas makan.Tapi, Jo sangat berisik. Akhirnya Jessi mau tidak mau membuka mulutnya. Tepat saat makanan di depan mulut Jessi, Jo membelokkan roti di tangannya ke mulutnya sendiri.


"Joooo!" Jessi memukul lengan Jo.


"Iya..iya.. sekarang beneran." Jo mengulangi lagi menyuapi Jessi. "Ayoo..aaa."


"Gak mau."


"Ayo Beb.. ini enak banget..lumer di mulut." Jo memaksa Jessi lagi.


Jessi membuka mulutnya lagi. Tapi, Jo mengerjai Jessi lagi.


"Jooo..cari mati kamu." teriak Jessi bete.


Jo tertawa senang. "Kamu cantik banget sih beb kalau lagi kesel gini." Jo kembali mengulang lagi menyuapi Jessi dan kali ini dia benar-benar membantu Jessi untuk makan.


Jessi tidak menjawab Jo dan hanya mengunyah saja makanan yang di berikan Jo. Dia sedang sibuk mengerjakan desain interior yang diminta oleh seorang klient misterius. Klient itu sedang membangun rumah, tapi dia ingin desain yang sesuai dengan impian rumah Jessi. Tentu saja Jessi semangat mengerjakannya karena itu sangat mudah. Jessi ingin rumah yang simpel dengan nuansa bewarna biru telur asin dan putih yang merupakan warna kesukaannya. Dia juga membuat sendiri semua interior seperti dipan, meja dan kursi tamu, juga kitchen set. Yang terpenting, Jessi membuat semua itu custom jadi tidak akan kembar dengan milik orang lain. Tentu saja kecuali orang lain itu menjiplak karya Jessi.


"Kamu lagi apa sih, Beb?" Jo sudah menyuapi 1 roti pada Jessi dan kini dia penasaran dengan apa yang sedang Jessi kerjakan.


"Lagi kerja..kamu jangan berisik."


"Aku cuma mau tawarin minum." Jo menyodorkan segelas susu pada Jessi.


"Thanks.." Jessi mengambil gelas dari Jo dan langsung meneguknya sampai habis.


"Anak pintar." Jo mengacak-acak rambut Jessi dengan tersenyum lebar.


Jessi menoleh dan pandangan mereka bertemu untuk sesaat. Hari ini Jo tampil berbeda. Dia mengubah gaya rambutnya dan membuat wajahnya terlihat lebih segar.


"Kenapa? Aku ganteng ya?"


Suara itu membuat Jessi tersadar. Dia ketahuan sedang memandang Jo. Bodoh sekali Jessi.


"Tolong nanti saja mesra-mesraan nya. Aku mulai mual." ucap Juna yang sejak tadi sakit mata melihat tingkah anak buahnya yang sok romantis.


"Wah, jangan-jangan Tiffany hamil lagi." Jo menutup mulutnya yang keceplosan. Dia hanya teringat bagaimana Juna mual-mual pada kehamilan Tiffany yang pertama.


"Kurang ajar kamu Jo." "Cepat turun sekarang juga." usir Juna emosi. Tentu saja Juna takut jika ucapan Jo itu benar.


"Mana bisa, ini kan dalam pesawat, bukan mobil Tuan Juna yang terhormat."


"Kalau gitu, kamu terjun bebas saja."


Jessi cekikikan melihat wajah Jo yang panik. 'Rasain,suruh siapa berisik.' batinnya dalam hati.


Mereka berdebat dan tertawa, tapi sepertinya mereka tidak ingat pada satu sosok pria yang sejak tadi diam membisu. Ken duduk diam di tempatnya tanpa mengatakan apapun. Dia melihat drama itu dengan tenang sambil memakan roti yang sudah disajikan pramugari yang bekerja dengan Juna.


"Roti coklat?" Ken menyadari sesuatu begitu gigitan pertama. Dia menengok pada Jessi yang masih saja tertawa melihat perdebatan Jo-Juna.