
Jessi sudah bersiap di depan, tapi Ken tidak kunjung datang juga. Apa pria itu masih marah pada Jessi?
Jessi mencoba menelepon Ken, tapi di reject.
"Kenapa si beruang madu itu?" omel Jessi. Dia kembali mencoba beberapa kali, tapi tetap tidak diangkat.
Karena tidak mendapat jawaban dari Ken, akhirnya Jessi memutuskan pergi ke kost milik Ken.
Bangunan tinggi di sebelah kost Jessi itu tampak tertutup. Begitu masuk, Jessi bisa mencium bau rokok yang menyengat. Dia baru pernah masuk ke kost pria seperti ini. Rasanya Jessi ingin keluar secepat mungkin dari tempat kost pria ini.
"Neng, cari siapa nih?" seorang pria mencegat Jessi ketika Jessi akan naik ke lantai 2.
"Emm, saya mau cari orang yang kost di sini, namanya Ken. Dia ada di kamar nomer berapa ya?" tanya Jessi santai.
"Ooo.. yang tinggi besar itu? Dia ada di kamar nomer 13." ucap pria itu.
"Oke, makasi." Jessi menggeser pria yang menghalangi jalannya itu. Tapi, pria itu malah mencengkram tangan Jessi.
"Kenapa buru-buru? Kita belum ngobrol."
"Dia sedang ada perlu denganku." Tangan Ken menyingkirkan tangan pria itu dengan kasar. Ken lalu memandang Jessi dengan tajam.
"Ikut ke kamar."
Jessi mengikuti di belakang Ken. Kamar Ken lebih sempit dari kamarnya. Dan di kamar Ken, ternyata ada Jo juga yang sedang duduk bersandar di kursi.
"Kenapa mahkluk itu ada di sini?" tanya Jessi bingung.
"Hari ini aku cuti. Jadi, Jo yang akan menemani kamu."
"Hah? Kenapa jadi Jo? Kamu mau kemana?" tanya Jessi kepo.
"Saya ada keperluan. 3 hari lagi baru kembali ke sini."
"Kamu mau pergi? Boy sudah tau?"
"Ya, aku sudah minta ijin pada Boy. Dan dia setuju asalkan ada Jo di sini."
Jessi terdiam cukup lama. Entah kenapa dia tidak rela jika Ken pergi meninggalkannya.
"Kenapa sepertinya anda tidak suka di jaga oleh saya?" protes Jo.
"Karena kamu berisik." jawab Jessi kesal.
"Anda harus segera berangkat kalau tidak mau terlambat." Ken menatap jam tangannya.
"Oh iya." Jessi baru sadar jika dia hampir terlambat.
"Tunggu, nona." Ken menarik tangan Jessi cukup kuat sehingga Jessi menabrak dada Ken. Ken lalu dengan santainya memeluk Jessi sambil mengusap punggungnya.
"Anda jangan boros dan jangan ceroboh. Jangan membuat susah Jonathan karena dia juga harus mengerjakan tugas dari Juna." pesan Ken.
"Ken.. aku minta maaf soal semalam."
"Tidak apa-apa Nona."
"Ehem." Jo berdehem karena dia seperti obat nyamuk.
Ken melepaskan pelukannya. Dia mengacak-acak rambut Jessi, lalu dia pergi lebih dulu dari kamar.
"Entahlah. Mungkin dapat tugas dari Boy atau mau pacaran." ucap Jo asal.
'Memangnya beruang itu punya pacar?' batin Jessi.
"Ayo, nona. Kita main, eh kerja." Jo menggandeng tangan Jessi tanpa ragu-ragu.
"Jo, jangan pegang-pegang." Jessi memberontak. Tapi, Jo tidak peduli. Dia tetap menggandeng Jessi dan berjalan dengan santai.
*
*
*
Sela memandang Jo dari atas ke bawah. Jo tersenyum ramah pada Sela yang sepertinya terheran-heran melihat Jo seolah Jo adalah barang antik.
"Kamu ganti bodyguard, Jess?" bisik Sela.
Berbeda dengan Ken, Bodyguard Jessi kali ini tampak begitu ramah. Dia bahkan mengerlingkan satu matanya pada Sela.
"Ini cadangan." jawab Jessi asal.
"Memangnya pemain bola, ada cadangannya?"
"Mba, lebih baik jangan dekat-dekat dia." ingat Jessi.
"Kenapa, Jess? Dia gak tertarik pada perempuan juga?" tanya Sela penasaran.
"Ini kebalikannya. Dia playboy cap buaya darat." bisik Jessi dengan suara begitu lirih.
"Kalian kenapa bisik-bisik? Langsung saja, to the point." "Apa yang ingin kamu tanya?" kata Jo menginterupsi keduanya.
"Dia tanya apa kamu itu genit?" ucap Jessi asal.
"Terus jawabannya?"
"Kamu nanyea?" Jessi menirukan ucapan selebgram yang sedang viral akhir-akhir ini.
"Nona, anda sangat menyebalkan." Jo menjitak kepala Jessi.
"Joooo.. kurang ajar ya kamu." Jessi akan menampol Jo, tapi Jo dengan sigap menahan tangan Jessi.
"Nona jangan kasar-kasar. Nanti gak ada yang mau lho sama nona." ejek Jo.
Setiap kata-kata yang keluar dari mulut Jo membuat Jessi mendidih. Dia menghempaskan tangan Jo, lalu berfokus pada pekerjaannya. Dia harus membuat desain untuk proposal hotel yang diminta oleh Martin.
"Kamu berdiri saja Jo di depan, seperti Ken." perintah Jessi yang tidak ingin dapat gangguan lagi dari Jo.
"No way. Di sana cape. Aku akan duduk di sini sambil memandangi kalian." "Martin juga tidak akan memarahiku."
"Ya sudah, terserahlah." jawab Jessi malas.
Jo tersenyum karena bisa membuat Jessi menurutinya. Dia mengambil ponsel, lalu mengetikkan sesuatu.
'Semua aman di sini.'