
Setelah 30 menit naik bus, akhirnya Jessi dan Jo sampai pada tempat tujuan mereka. Jessi bernafas lega karena berhasil keluar dari bus dengan selamat.
"Jo, tanganmu." Jessi meneplak tangan Jo yang masih merangkul pinggangnya.
"Opss,,sorry. Anda sangat nyaman dipeluk." jawab Jo dengan wajah polos sambil berjalan lebih dulu.
Jessi tidak menggubris Jo. Dia memastikan penampilannya sekali lagi, sebelum menemui klien penting hari ini.
Mereka berdua beruntung karena kota ini bebas macet dan juga jarak antar tempat cukup dekat. Jadi, meskipun bus tadi berhenti beberapa kali, mereka tetapp bisa datang tepat waktu.
Hotel Aston menjulang tinggi di kota itu. Jessi dan Jo masuk ke dalam restoran untuk meeting bersama dengan Pak Budi alias klien Art Interior dan juga sekaligus Calon mitra dari Juna Liem.
Pak Budi sudah menunggu di sana. Dia adalah pria berumur 50 tahunan yang tampak sangat berwibawa.
"Selamat pagi, Pak. Maaf kami sedikit terlambat." Jessi mengulurkan tangan pada Pak Budi dan langsung di sambut erat oleh pria itu.
"Kamu Jessica, kan?" ucap Pak Budi sambil tersenyum.
"Eh iya Pak." Jessi jadi sedikit takut karena Pak Budi tidak mau melepaskan tangannya.
"Saya, Jonathan. Bodyguard Jessi." Jo mengambil alih tangan Pak Budi.
"Kita langsung saja, Pak." Jessi duduk dan membuka tabletnya. Dia melakukan presentasi dengan menjelaskan desain yang sudah dia buat. Pak Budi cukup kagum dengan Jessi. Dia menjelaskan dengan baik dan desainnya sangat bagus sesuai dengan apa yang dia harapkan.
Sementara itu, Jo juga memandang Jessi takjub. Jessi terlihat profesional, berbeda dengan kesehariannya. Jo sudah pernah melihat desain Jessi untuk perumahan milik Juna. Dan memang dia sangat berbakat.
"Baik, saya akan pertimbangkan ini. Dan saya akan kabari Martin besok siang." Pak Budi mengangguk puas.
"Saya akan kirimkan emailnya pada Bapak." Jessi membereskan datanya, lalu memasukkannya dalam tas.
"Kamu masih muda, tapi kamu hebat sekali, Jess." Puji Pak Budi sambil memandang Jessi.
"Tidak Pak. Saya juga baru belajar." ucap Jessi merendah.
"Saya tidak percaya. Buktinya kamu sampai harus di jaga bodyguard. Kamu pasti sangat berharga untuk Martin." Pak Budi tertawa renyah.
"Ya, untuk jaga-jaga saja." "Pak Budi juga hebat. Pak Budi bisa membangun beberapa usaha baru dalam waktu bersamaan." Jessi mengalihkan pembicaraan untuk mencari informasi tentang Pak Budi. Tapi, satu hal yang Jessi sudah tau, pria di depannya ini begitu genit. Tanpa Jo sadari, Pak Budi sempat menyenggol sepatu Jessica.
Jessi mencoba bersikap biasa saja. Dia tidak ingin bereaksi berlebihan, mengingat dia klien dan juga Jo butuh bantuan.
"Ya, saya kerjasama dengan beberapa orang. Dan mereka mempercayakan saya untuk mengolah beberapa bisnis baru."
"Anda pasti orang yang sangat kompeten dan juga pekerja keras." puji Jessi.
"Ya.. tapi beberapa dari mereka itu terlalu gampang dibodohi." "Saya hanya pandai bicara saja."
"Maksudnya?"
"Kamu masih muda, Jessica. Jika kamu berbisnis, kamu harus menggunakan otak dan juga mulut yang manis." Pak Budi mencondongkan badannya dan bicara dengan serius pada Jessica.
Jessica tidak tau menahu soal bisnis. Dia hanya diam saja dan tersenyum kaku.
Tapi, Jo jelas tau apa yang dimaksudkan dengan Pak Budi. Dia sudah merekam semua pembicaraan mereka dan segera mengirimkan pada Juna.
"Minum dulu, nona. Anda pasti haus setelah melakukan presentasi tadi." Pak Budi menyodorkan segelas lemon tea pada Jessi.
"Tadi aku hanya bercanda, jangan diambil hati." lanjutnya sambil tertawa renyah.
"Terimakasih pak. Saya sudah bawa sendiri."
Telepon Pak Budi tiba-tiba berdering sebelum sempat memprotes Jessica.
"Halo, Pak Juna. Senang bisa mendengar suara anda." "Bagaimana? Tentang proyek perumahan yang kemarin?" "Maksudnya? Anda tidak jadi kerjasama?" "Tapi, kenapa?"
Pak Budi menutup teleponnya dengan wajah sedih.
"Apa ada masalah, Pak?" tanya Jessi pura-pura tidak tau.
"Ya. Saya permisi dulu." Pak Budi berjalan dengan gontai meninggalkan Jo dan Jessi tanpa basa basi lagi.
Jessi geleng-geleng kepala melihat betapa cepat gerakan Jo dan Juna.
Tak lama, ponsel Jo juga berdering. Sudah pasti yang menelepon adalah Juna.
"Halo Jun.."
"Good job, Jo. Sampaikan terimakasih ku untuk Jessi."
"Ya, aku sampaikan."
"Cepat pulang, tugasmu sudah selesai."
"Jess, sebentar." Jo sedikit berjalan menjauh dari Jessi karena ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan Juna.
"Jun, aku mengambil cuti ku." ucap Jo lirih.
"Mau apa? Tidak ada cuti lagi, Jo. Aku kerepotan di sini."
"Jun, tapi Jessica minta tolong untuk menjaganya sementara waktu. Ken sedang pergi, jadi aku gantikan Ken sampai dia kembali."
"Jo, Boy itu orang kaya. Dia bisa menyewa 10 bodyguard untuk Jessica. Tapi, aku tidak bisa ganti asisten lain." keluh Juna.
"Haduh, makanya jangan kejam-kejam Jun. Mana ada orang yang betah denganmu selain aku." jawab Jo dengan frustasi.
"Ya sudah, 2 hari saja. Setelah itu kamu kembali ke sini."
Tut.. Tut..
Juna mematikan telepon sepihak. Jo menghela nafas kasar. Bosnya memang pelit dan kejam.
Jessi menunggu Jo selesai menelepon dengan mengambil selfie. Jo yang tadinya kesal karena Juna, tiba-tiba bersemangat untuk ikut selfie bersama Jessi.
"Minggir Jo." Jessi mendorong wajah Jo untuk menjauh.
"Nona..anda selfie mau kirim ke siapa coba?" "Pacar saja tidak punya." goda Jo.
"Untuk koleksi, Jo. Koleksi." Jessi membereskan tas nya, lalu berdiri dan membuat Jo yang bersandar pada Jessi terjatuh ke kursi.
"Cepat kita jalan-jalan."
"Siap bos."