Love U My Bodyguards

Love U My Bodyguards
Mabar



Rumah sakit


Dokter bingung karena pasien di depannya tampak baik-baik saja. Dia hanya lecet dan sedikit lebam-lebam di beberapa bagian, selebihnya Jessi tampak sehat.


"Dok, tolong di rontgen. Saya takut ada yang terluka di dalam." pinta Ken dengan cemas.


"Ya, tolong dok.. gadis ini tidak boleh terluka." Jo menimpali ucapan Ken supaya Dokter itu mau merontgen Jessi.


'Justru kalian yang selalu buat aku terluka.' keluh Jessi dalam hati. Semenjak di kota ini, Jessi sangat sial sekali. Dia sering sekali jatuh.


"Sudah dok. Rontgen saja." akhirnya Jessi menjawab dengan cepat.


Dia sebenarnya sudah jauh lebih baik ketika makan oleh-oleh dari Ken tadi. Sekarang yang Jessi perlukan hanya istirahat di ranjangnya yang nyaman.


"Baik..silahkan ikut perawat."


Jo mengapit lengan kiri Jessi, sedangkan Ken mengapit lengan kanannya.


"Aku bukan orang jompo." protes Jessi yang malu sendiri karena ulah 2 bodyguardnya.


"Sudah nona, jangan cerewet." baik Jo dan Ken kompak tidak mau melepaskan Jessi.


Jessi menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya. Ini adalah suatu hal yang memalukan, karena Dokter dan perawat senyum-senyum sendiri.


"Saya saja yang antar.. kalian tunggu di ruang tunggu sebelah sana." salah satu perawat yang sudah berumur, mengusir Ken dan Jo secara halus. Dia memandang kedua pria itu, lalu memberi kode pada mereka untuk melepaskan Jessi.


Akhirnya mau tidak mau, keduanya berjalan keluar ke tempat yang ditunjukkan oleh perawat.


Ken duduk di kursi sambil menyilangkan tangan, sedangkan Jo berdiri bersandar pada tembok.


"Jangan beritahu Boy soal ini." Ken memulai pembicaraan mereka.


"Setuju."


"Kapan kamu kembali ke alammu?" tanya Ken sinis.


"Besok." jawab Jo singkat.


"Baguslah."


"Kenapa kamu gak suka aku menjaga Jessi?" Jo melayangkan protes karena melihat Ken yang begitu lega jika dia pergi.


"Karena kamu ceroboh."


"Hey, beruang. Kamu juga ceroboh. Kamu lupa kejadian yang lalu? Siapa yang menyelamatkan Jessi?" "Dankamu juga bukan jaga Jessi tapi malah pacaran." "Jadi, skor kita itu satu sama."


"Pacaran?" Ken mengerutkan keningnya.


"Sudahlah." "Yang penting sekarang, kita perlu cari tau, siapa yang mengejar Jessi." Jo berjalan untuk duduk di samping Ken.


Ini pertanyaan yang sulit, karena mereka bukanlah Boy atau Sam yang bisa dapat dengan mudahnya mendapatkan informasi tentang seseorang.


"Marco sedang berada di luar negeri."


"Ya.Tapi kita tidak boleh senang dulu. Buktinya, masih ada yang mengejar nona Jessica." ucap Ken sambil menengok ke arah Jo yang masih melongo.


"Atau Marco hanya kamuflase dan pura-pura berada di luar negeri?"


"Otakmu kebanyakan drama." Ken mentoyor kepala Jo yang usianya lebih muda 2 tahun dari Ken.


"Ken, tanganmu." Jo melirik ke arah pergelangan tangan Ken yang berdarah.


Ken baru sadar. Ternyata Ken tadi menarik talinya terlalu kuat sampai menggesek kulitnya. Ken hanya menatapnya sesaat, lalu dia membiarkan itu. Luka seperti ini tidak ada artinya bagi Ken.


"Kenapa Jessi lama sekali?" ucapnya lirih.


"Ya sudah, kita cari kegiatan lain saja." ajak Jo. Dia duduk di sebelah Ken, lalu mengeluarkan ponselnya.


*


*


*


"Kalian pasti khawa.. tir, kan?" suara Jessi yang awalnya keras, perlahan menghilang di udara.


Jessi bereaksi seperti itu karena ekspetasinya tidak sesuai dengan realita. Jessi pikir Jo dan Ken akan mengkhawatirkannya, tapi ternyata kedua bodyguardnya itu sedang duduk berjejeran sambil asyik menekan ponsel mereka.


"Mba, saya tinggal dulu." Perawat itu undur diri karena tugasnya sudah selesai.


"Ehem." Jessi berdehem untuk menyadarkan mereka.


Tapi, keduanya seolah tidak mendengar Jessi dan berfokus pada kegiatan mereka.


Jessi memutar bola matanya. Dia harus mencari ide yang antimainstream supaya Ken dan Jo sadar. Berkat keturunan dari Bayu, Jessi langsung mendapatkan ide cemerlang.


"Halo, Boy." "Iya, aku terluka karena Jo mengajakku glamping." ucap Jessi sengaja dengan nada yang keras.


Ken dan Jo langsung menengok. Ken merebut ponsel Jessi, sedangkan Jo berdiri untuk menutup mulut Jessi.


"Halo, Tuan.. bukan begitu ceritanya." Ken yang panik mencoba menggantikan Jessi, tapi dia sadar bahwa Jessi menipunya karena tidak ada suara sama sekali di ujung sana.


Melihat Ken yang tidak panik lagi, Jo akhirnya juga melepaskan tangannya dari mulut Jessi.


Jessi tertawa puas karena kedua bodyguardnya kebingungan.


"Siapa suruh kalian malah mabar." kata Jessi sambil melipat tangannya.


Ken mengembalikan ponsel Jessi. Dia yakin Jessi sudah baik-baik saja karena dia sudah mau bercanda.


"Nona.. anda bikin jantungan saja." protes Jo yang jantungnya masih deg deg an. "Sekali lagi saya minta maaf, nona." Jo mengambil kedua tangan Jessi. "Saya juga mau pamit karena besok saya akan kembali ke Jakarta." Jo hendak menarik Jessi ke dalam pelukannya, tapi Ken buru-buru berdiri di tengah-tengah mereka.


"Tuan Boy menelepon." ucap Ken panik.