
Jessica menelepon Jo dan meminta Jo untuk datang dan menjemputnya.
"Jo, kamu bisa datang ke kantor polisi?" tanya Jessi di telepon.
"Nona, anda kenapa? Apakah anda baru saja melakukan kejahatan?" Jo terdengar panik karena suara Jessi tersendat-sendat khas orang yang menangis.
"Jo, jangan bercanda. Aku tunggu kamu secepatnya." Jessi yang malas menceritakan detailnya, langsung menutup telepon.
Salah satu petugas sejak tadi memandang Jessi dengan heran. Kenapa Jessi tiba-tiba datang dan minta ijin untuk menunggu di kantor? Biasanya orang-orang takut untuk datang ke kantor polisi, tapi Jessica malah duduk di dalam seorang diri.
Setelah Jessi selesai menelepon, petugas itu menghampiri Jessi dengan membawa sebotol air mineral. Jessi menceritakan secara detail kenapa dia bisa memilih kantor polisi untuk tempat menunggu.
"Mba, jadi mba masih di kejar-kejar mantan mba?" tanya petugas itu setelah Jessi lebih tenang.
"Iya Pak. Dia yang beberapa bulan lalu ke sini dan di penjara." jelas Jessi yang sudah berhenti menangis.
"Yang mana ya? Saya lupa."
"Marcelino Scotts dan adiknya, Maxmillian Scotts."
"Oooh iya.. saya ingat."
"Ya gitulah pak. Mantan saya belum bisa move on sampai kejar-kejar seperti itu." oceh Jessi.
"Nasib jadi orang cantik, mba." jawab petugas itu sambil tertawa kecil.
"Makasih pak sudah bilang saya cantik." Jessi jadi jauh lebih baik setelah mendengarkan pujian dari petugas yang dulu pernah menasehatinya karena Jessi mau marah-marah pada Marcelino alias mantan pacarnya yang sedang ditahan.
"Sama-sama mba." "Jadi, anda menunggu siapa?"
"Saya menunggu bodyguard saya, pak."
"Wah, mba nya Sultan ya. Punya bodyguard segala."
"Bukan pak. Saya hanya pinjam bodyguard dari teman kakak saya." "Bodyguard asli saya pergi pacaran dan tidak mempedulikan saya. Jadi saya pinjam bodyguard orang lain."
Petugas itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Penjelasan Jessi sangat sulit dimengerti.
Petugas itu akhirnya kembali ke tempat duduknya meninggalkan Jessi yang melamun sambil memandangi ponsel.
Tak lama, sebuah motor Harley datang ke area parkir. Jo melepaskan helmnya, lalu dia pergi masuk mencari Jessi dengan begitu panik.
"Jessica." Jo langsung menemukan Jessica di bangku ruang tunggu.
"Jo, akhirnya kamu datang." Jessi berdiri dan menyambut Jo seperti anak TK yang baru saja ditemukan oleh ayahnya.
"Pak, dia tidak melakukan kejahatan kan?" tanya Jo pada petugas yang tadi mengobrol dengan Jessi.
"Ya, dia melakukan kejahatan." "Kejahatan karena terlalu cantik sampai dikejar mantannya." ucap petugas dengan menekankan nadanya.
Jo menghela nafas lega. Ternyata Jessi hanya ingin bersembunyi dari mantan saja. Jo beralih pada petugas, lalu dia membungkukkan badannya.
"Terimakasih pak atas bantuannya. Kami pamit dulu." Jo menggandeng Jessica untuk pergi dari kantor polisi.
Mereka berdua berjalan dengan cepat menuju ke area parkiran motor.
"Anda gak keberatan naik motor kan?" Jo mengoperkan helm untuk Jessi.
"Kamu ngerampok motor ya, Jo?" "Aku akan kembali dan bilang pada Pak Polisi." Jessi bergegas untuk pergi ke dalam lagi sambil berteriak. Jo yang panik menahan Jessi. Tangan kiri Jo refleks memegang tangan Jessi, sedangkan tangan kanan membekap mulutnya.
"Ini punya Tuan Juna." "Dia tidak bisa menggunakan motor ini. Jadi, motornya hanya nganggur saja di kantor." jelas Jo dengan super sabar.
"Oooh.. Kalau gitu, oke deh. Ayo kita pergi."Jessi langsung menggunakan helmnya, lalu dia menepuk kursi motor Harley milik Juna.
"Jessica.. kamu memang luar biasa." Jo dengan kesal menaiki motor Harley yang masih tampak sangat kinclong itu.
*
*
*
"Jooooooo... kamu mau bunuh aku ya?" teriak Jessi dari boncengan belakang.
"Apa Nona? Saya tidak dengar." ucap Jo dengan berteriak juga.
Dia sebenarnya mendengarkan Jessi. Tapi, insting jahilnya selalu berjalan jika berada di dekat Jessi. Apalagi, Jo melihat jika Jessi sedang sedih. Berteriak adalah salah satu solusi untuk mengurangi kesedihan Jessi.
"Joooo.. aku belum nikah Jo. Tolong pelan-pelan." omel Jessi lagi.
"Memangnya ada yang mau dengan wanita seperti anda?" sindir Jo.
"Jo, kamu benar-benar kurang ajar."
"Ya, semua wanita bilang saya seperti itu." jawab Jo santai. Ucapan Jessi sama sekali tidak menjadi intimidasi untuk Jo. Bahkan bosnya sendiripun tanpa segan mengatakan jika Jo kurang ajar.
"Jonathan Wijaya! Sudahlah, stop saja."
'Ciiiiit' Jo mengerem sekuat tenaga sehingga membuat badan Jessi menabrak badan Jo.
"Jooooo! Kenapa ngerem seperti itu? Kamu sengaja ya?!" Jessi memukul keras punggung Jo.
"Aduh, Nona ini aneh sekali. Tadi katanya bilang stop. Sudah saya stop, salah lagi." Jo meringis kesakitan karena punggungnya terasa begitu nyut-nyutan.
"Ya, kamu yang salah." jawab Jessi ketus.
"Iya, perempuan selalu benar." ucap Jo pasrah. "Anda lapar tidak?"
Jessi melirik. Tadi dia melewatkan makan siangnya. Dan sekarang jam 5 sore. Jelas saja Jessi lapar.
Jo kembali menjalankan motornya tanpa menunggu jawaban dari Jessi. Dia mengendarai dengan santai sambil memikirkan kuliner apa yang cocok untuk Jessi.
Akhirnya Jo memutuskan untuk makan ketoprak di pinggir jalan. Dia memilih itu karena perut Jessi sudah berbunyi begitu nyaring.
"Pak, 2 ya pak." teriak Jo dari motornya.
"Jo, makan di pinggir jalan lagi?" protes Jessi. "Apa Juna tidak pernah memberimu gaji cukup?"
"Ini ketoprak terenak satu Jakarta." Jo membantu Jessi untuk turun dari motor.
Mereka duduk di pinggir jalan dengan bangku bakso khas abang-abang yang berwarna merah.
"Cepat ceritakan, kenapa kamu bisa menunggu di kantor polisi sendirian seperti itu. Kemana bodyguard mu yang seperti kanebo kering itu?"
Jessi menghela nafas panjang. Dia begitu sakit hati dengan Ken hari ini.